Pendekatan Multidimensional, Sebuah Metodologi Sejarah

Oleh Dian Kurnia

Kausalitas (causa) Sejarah

Sejarah merupakan sebuah konsep yang menggambarkan secara detail mengenai seluruh aspek dalam kehidupan manusia dalam dimensi waktu. Sejarah berisikan cerita-cerita pada masa lampau mengenai suatu kejadian atau peristiwa yang melibatkan manusia dan lingkungan sekitarnya. Sebuah peristiwa sejarah secara subtansial adalah memiliki nilai moral (morality-value) yang sebisa mungkin untuk dipahami dan diaplikasikan oleh pengkaji sejarah pada masa-masa berikutnya.

Seorang sejarawan akan dituntut untuk bisa menjelaskan dan menghadirkan situasi asli suatu peristiwa sejarah yang ia kaji dalam hasil tulisannya. Sebisa mungkin dengan berbagai pendekatan atau teknik (method) seorang sejarawan harus memberikan cerita yang valid dan bermakna sejarah. Bagaimana karakter sejarah yang bermakna? Hal ini diungkapkan oleh DR. Sulasman, M.Hum, dosen Sejarah di UIN SGD Bandung. Menurut pemaparannya, sejarah itu harus memiliki ruh atau semangat zaman yang menjadi topik kajian sejarah itu. Seorang penulis sejarah (baca: sejarawan) dengan segala kemampuannya harus bisa masuk pada zaman yang sedang ia ungkapkan. Cara ini adalah teknik konvensional dalam pendekatan sejarah melalui pendekatan psikologi. Ilmu bantu yang ia gunakan adalah ilmu mengenai kejiwaan. Dengan menggunakan ilmu bantu ini, seorang sejarawan akan bisa menjadi saksi utama dalam sebuah peristiwa sejarah.

Dalam proses eksplanasi  sejarah, sebuah peristiwa dalam  realitas kesejarahan selalu memiliki faktor penyebab yang bersifat multi atau banyak. Istilah yang digunakan oleh para sejarawan adalah multikausalitas sejarah. Namun, secara umum dikenal tiga macam penyebab atau causa dalam sebuah peristiwa sejarah, yakni causa prima, causa formal, dan causa final.

Multikausalitas Sebuah Keharusan

Causa prima adalah penyebab utama (determinan) yang digunakan oleh penulis sejarah sebagai sumber dalam proses penulisannya. Faktor ini diambil dari aspek mengapa suatu kejadian itu terjadi. Lagi-lagi unsur subjektivitas sejarah berperan dalam menentukan causa prima. Akan terdapat berbagai macam perbedaan dari kalangan sejarawan ketika hendak menentukan suatu faktor penggerak utama mengenai terjadinya suatu peristiwa sejarah. Namun, subjektivitas dalam ilmu sejarah adalah hal yang biasa dan lumrah terjadi. Tanpa mempermasalahkan siapa penulisnya, yang terpenting adalah aspek vital dalam penulisan sejarah, yakni sumber haruslah valid dan lulus proses kritik.[1] Antara causa prima, causa formal, dan causa final dalam menentukan sumber sejarah itu bersifat sistematis dan bias dipertanggungjawabkan secara prosedural.

Beberapa Pendekatan Dalam Sejarah

Ilmu bantu sangatlah berperan dalam menentukan sukses tidaknya suatu penjelasan peristiwa sejarah. Disiplin ilmu sosial akan memberikan andil ketika hendak menggambarkan analisa mengenai suatu kejadian yang menyangkut peristiwa sosial atau kemasyarakatan. Seperti revolusi, pergerakan keagamaan (sempalan), konflik ras, pertentangan suku, maupun perang antara tameng pemerintah melawan rakyat sipil. Kita bisa menggunakan ilmu bantu antropologi ketika memulainya dari sisi budaya atau adat kebiasaan yang ada dalam struktur sistem suatu masyarakat. Beda lagi ketika kita hendak melakukan analisa dari sisi kepentingan yang ada, kita akan lebih menggunakan teori-teori dalam ilmu politik. Berbagai literatur sudah banyak tersedia yang menyajikan berbagai teori dari para ahli mengenai peristiwa dalam realitas kemanusiaan. Pendekatan yang dilakukan dalam mengkaji peristiwa sejarah, bagaikan ruh dalam jasad yang sangat berperan aktif. Apabila tidak digunakan pendekatan yang prosedural, maka produk sejarah yang ditulis oleh seorang sejarawan hanya kekosongan cerita yang ada. Tulisannya tidak akan memberikan sebuah ibrah atau pelajaran bagi umat manusia sebagaimana termaktub dalam kitab Suci Al-Qur’an bahwa sejarah adalah pelajaran (ibrah) bagi kehidupan manusia.


[1] Kritik digunakan dalam tahapan seleksi validitas sumber sejarah. Dilakukan secara analisis dan mendalam mengenai kredibilitas dan otentisitas. Seorang sejarawan akan melakukan kritik sumber dengan mengambil disiplin ilmu dari bidang ilmu lainnya, tergantung apa yang ia kuasai.

 

Disarikan dari berbagai sumber yang relevan

About these ads

About diankurniaa

Dian Kurnia. Blogger; Penulis Lepas di koran lokal dan nasional; Mahasiswa Sejarah UIN SGD Bandung.
This entry was posted in Sejarah and tagged , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s