Mengenal Upacara “Mubur Suro” di Kabupaten Sumedang

Oleh: Dian Kurnia

Budaya didefinisikan sebagai hasil cipta, rasa dan karsa manusia. Produk kebudayaan terwujud dalam tiga hal, yakni ide (gagasan), aktivitas dan benda  material. Berdasarkan wujudnya, kebudayaan terbagi lagi ke dalam dua bentuk, yaitu kebudayaan material dan non material. Kebudayaan material yaitu semua hasil cipta manusia yang bersifat konkret atau nyata. Misalnya, perhiasan, peralatan rumah tangga, dan lain sebagainya. Sedangkan kebudayaan non material adalah hasil budaya yang diwariskan dari generasi ke genarasi dan bersifat abstrak misalnya, dongeng, cerita rakyat, lagu, tarian, upacara adat dan masih banyak lagi.

Suatu kebudayaan yang berkembang merupakan karakteristik atau ciri khas dari masyarakat tersebut yang mesti dijaga keberlangsungannya. Salah satu contohnya adalah upacara Mubur Suro (mubur suro) yang berkembang di daerah Kabupaten Sumedang. Hal ini termasuk ke dalam kebudayaan nonmaterial karena bersifat abstrak yang terwujud dalam bentuk aktivitas.

Mubur Suro dan Pelaksanaannya

Tradisi upacara yang diselenggarakan setiap tanggal 10 Muharram ini merupakan peringatan atas peristiwa yang terjadi pada tanggal itu. Salah satunya adalah peristiwa Nabi Nuh a.s.  dan para sahabatnya yang mengalami kekurangan bahan makanan karena wilayah yang ditempati ditenggelamkan selama empat puluh hari oleh Allah SWT sebagai bentuk adzab bagi kaumnya yang ingkar. Dalam kondisi itu, mereka memanfa’atkan semua sisa makanan yang ada untuk diolah dan dihindangkan menjadi bubur. Peristiwa tersebut dalam sejarahnya merupakan asal mula dilaksanakannya tradisi upacara Mubur Suro.

Selanjutnya, upacara ini dilaksanakan sebagai bentuk penghormatan masyarakat Sumedang terhadap karuhunnya (buhun) yang sudah meninggal dunia. Karena mereka meyakini bahwa antara orang tua yang telah tiada dengan mereka masih memiliki ikatan batin yang kuat. Sehingga amanat yang disampaikan oleh orang tua mereka kepada keturunannya mesti dilaksanakan. Karena jika tidak dilaksanakan maka akan ada akibat buruk yang akan menimpa masyarakat setempat yang telah diberi amanat.

Sebulan sebelum pelaksanaan upacara, tokoh masyarakat yang akan melaksanakan upacara ini mengutus seseorang untuk memberitahukan kepada kerabatnya yang jauh mengenai akan dilaksanakannya upacara Mubur Suro pada tanggal 10 Muharram. Pemberitahuan ini bukanlah suatu kewajiban, namun kebisaaan yang pada akhirnya diyakini sebagai sebuah kewajiban.

Seminggu sebelum tanggal 10 Muharram, diadakan musyawarah yang selama musyawarah berlangsung diiringi oleh hiburan kesenian jentreng.  Jentreng merupakan alat musik nama lain dari rebab atau tarawangsa.

Upacara Mubur Suro dilaksanakan di rumah kediaman seseorang yang ditokohkan oleh masyarakat. Ia adalah generasi ketujuh dari keturunan Mama Wiranta dan Ma Encot (pelaksana pertama tradisi Mubur Suro) yang diberi kepercayaan dan amanat untuk melanjutkan tradisi upacara ini.

Pelaksanan upacara mengambil tempat di dalam rumah, halaman rumah, balandongan dan seke[1]. Di dalam rumah untuk menyimpan sesajen, menyimpan bahan-bahan yang terkumpul dari hasil sumbangan kerabat yang datang, tempat para nayaga memainkan jentreng, serta melakukan do’a-do’a. halaman rumah untuk tempat pelepasan sekaligus penyambutan upacara pencucian beras dan memasak bubur. Balandongan tempat untuk mempersiapkan pembuatan bubur seperti mengupas, memotong dan mengolah semua bahan sebelum dimasak diatas tungku. Di tempat ini pula digantungkan buah ayunan yang terdiri atas pisang, papais beureum dan bodas, opak, rengginang, kupat, dupi, leupeut yang merupakan sesajen untuk upacara Mubur Suro.

Pihak yang terlibat dalam upacara Mubur Suro adalah para kerabat yang masih keturunan dari tokoh yang melaksanakan hajat serta para tokoh dan sesepuh setempat. Dalam hal jumlah peserta tidak ada ketentuan yang membatasinya. Peserta kebanyakan perempuan karena rangkaian upacara Mubur Suro merupakan kegiatan masak memasak yang bisaa dilakukan oleh perempuan.

Dalam pelaksanaan upacara Mubur Suro diperlukan persiapan dan pelengkapan, diantaranya sesajen untuk upacara Tarawangsa, sesajen untuk upacara Mubur Suro serta bahan-bahan untuk Mubur Suro. Sesajen untuk upacara Tarawangsa meliputi, pakaian dan perhiasan Dewi Sri (sisir, gelang, cermin, kain putih sebagai pakaian), parukuyan tempat membakar kemenyan, bubur merah bubur putih, sepasang pakaian laki-laki dan perempuan untuk dikenakan bagi yang mengadaan hajat dan kelengkapan lainnya seperti tujuh macam umbi-umbian, buah-buahan, bajigur, sayuran, lauk, bunga rampai serta rurujakan yang terdiri dari rujak asam, rujak pisang dan rujak kelapa yang disajikan dalam limas kecil yang berjumlah lima buah. Kelima limas kecil tersebut diletakan dalam sebuah limas besar. Sedangkan sesajen dalam upacara Mubur Suro meliputi, cau sewu, papais beureum, papais bodas, opak, rangginang, kupat, leupeut dan dupi yang digantungkan dengan tali.

Syarat untuk bahan Mubur Suro terdiri atas 1000 macam buah, namun dalam kenyataannya sulit untuk memenuhi jumlah tersebut. Sehingga untuk melengkapinya ditutup dengan cau sewu yang melambangkan jumlah seribu. Bahan-bahannya meliputi, buah-buahan, umbi-umbian, sayuran, lauk pauk dan bumbu. Persiapan upacara meliputi pembuatan tungku dari batang pisang dan mempersiapkan bahan-bahan yang akan diolah oleh para tamu.

Tahapan-tahapan dalam upacara Mubur Suro adalah: Pertama, upacara menurunkan beras. Kedua, upacara pencucian beras. Tentunya dalam setiap upacara terdiri dari tahapan-tahapan serta persiapan dan perlengkapan upacara. Begitupun halnya dengan upacara menurunkan beras, tahapan dalam upacara ini yaitu; beras dikeluarkan dari tempatnya kemudian dibagi-bagikan secara estafet ke dalam sembilan buah boboko (bakul). Jumlah boboko ini tidak mesti sembilan, bisa lima atau tujuh. Sedangkan tahapan dalam upacara penurunan beras yaitu; upacara ini dipimpin oleh dua orang laki-laki. Salah seorang yang paling depan membawa kemenyan dan sesajen yang terdiri atas: tanaman handeuleum, hanarusa dan jawer kotok, tiga macam rujak (rujak asam, pisang dan kelapa), kapur sirih, minyak kelapa, cerutu, rengginang, beras, pisang dan uang. Di belakangnya diikuti barisan perempuan pembawa boboko. Boboko ditutup dengan selendang dan pembawanya dipayungi. Sebelum menuju seke barisan mengelilingi halaman sambil ngibing (menari) yang dipimpin oleh saehu laki-laki dan perempuan. Setelah itu, barisan menuju ke seke. Setibanya disana seorang pembawa sesajen berdo’a dan memohon izin kepada Tuhan karena akan menggunakan air untuk mencuci beras. Kemudian dilanjutkan dengan menanam tanaman handeuleum, hanarusa dan jawer kotok pada sepetak tanah yang terletak tidak jauh dari seke. Hal ini bermakna agar orang menanam tanaman yang bermanfa’at. Sedangkan seorang pemimpin lain berdo’a di depan seke supaya beras yang nantinya akan dibuat bubur enak dimakan. Kemudan mempersilahkan seorang petugas perempuan untuk mencuci beras. Setelah itu, beras dibawa kembali ke rumah saehu. Setibanya di halaman rumah, disambut oleh saehu kemudian diarak mengelilingi halaman rumah sambil ngibing. Sementara itu, kaum laki-laki mempersiapkan ketel yang jumlahnya sesuai dengan jumlah boboko. Kaum perempuannya membentuk barisan sesuai dengan jumlah katel. Setiap baris terdiri dari dua orang, dalam posisi berhadap-hadapan. Barisan pertama disebut cikal dan barisan terakhir disebut bungsu. Selanjutnya, mereka membersihkan katel dengan menggunakan sabut kelapa dan cukil kecil. Kemudian dilakukan pembacaan Do’a Asyura. Setelah selesai, dengan diawali aba-aba hitungan, pengolahan pun dimulai.

Pengolahan diawali dengan memasukan seluruh bahan bubur sura ke dalam katel dengan urutan sebagai berikut: minyak kelapa, rampai, telur, beras (memasukan beras ke dalam katel dilakukan salah seorang perempuan dari tiap baris dengan cara menelungkupkan kedua belah telapak tangannya diatas katel, kemmudian ditaburi beras dari boboko yang diatasnya diberi sepotong kecil daun pisang, kemudian beras dalam katel diaduk engan menggunakan cukil besar), bumbu-bumbuan, sayuran, kacang jonggol atau jogol yang telah direbus dan ditumbuk halus, lauk pauk (mie, soun, kerupuk mie), waluh siam, kol, taleus dan ubi.

Semua bahan diaduk terus menerus dengan menggunakan cukil besar. Pengadukan dilakukan oleh dua orang atau lebih. Hal ini biasanya terjadi pada posisi cikal karena tempatnya lebih leluasa. Pengadukan dalam posisi berdiri dan dilakukan oleh dua orang atau lebih, ini dimaksudkan untuk memudahkan pengadukan hingga bahan tercampur rata. Selanjutnya, satu per satu dimasukan lagi bahan bubur yang lainnya seperti: waluh besar, parutan singkong, campuran parutan jagung dengan parutan kunyit, kecap, papaya, parutan kelapa, air tebu, sirop, air kelapa, pisang, satu gandu gula merah sisanya dimasukan ketika bubur sudah hampir matang, bahan terakhir adalah cau sewu.

Sementara itu, tungku yang terbuat dari batang pisang, siap dinyalakan di luar balandongan, kemudian katel diletakan di atas tungku-tungku tersebut. Katel dibawa oleh dua orang laki-laki, sedangkan cukil besar dibawa oleh seorang petugas perempuan, mereka beriringan meletakan katel diatas tungku. Selanjutnya bubur musali dimasak, sambil menunggu bubur masak, pemimpin upacara pencucian berasa menuju ke tiap-tiap katel sambil ngibing. Hal ini dimaksudkan untuk melihat keadaan bubur. Setelah bubur masak, kemudian dibungkus. Banyaknya bubur yang dibungkus sesuai yang dicontohkan oleh saehu. Selanjutnya, bubur dibagikan kepada para peserta upacara.

Larangan atau Pamali

Pantangan yang harus dipatuhi selama upacara berlangsung ditujukan kepada kaum perempuan yaitu tidak diperkenankan memakai perhiasan yang mewah dan berlebihan. Hal ini dimaksudkan untuk menghindari adanya perbedaan antara yang kaya dengan yang miskin.

Upacara ini memiliki nilai-nilai positif yang sekarang sudah pudar tertelan arus globalisasi yang semakin menjadi. Seperti nilai kebersamaan, gotong royong, sosial dan lain lain. Serta lambang yang terdapat dalam unsur upacara mempunyai makna yang terkandung di dalamnya. Seperti angka lima, tujuh dan sembilan yang digunakan untuk menampung beras, merupakan makna dari lima waktu shalat, hitungan hari dalam seminggu dan sembilan melambangkan jumlah wali sanga, cau sewu melambangkan jumlah seribu, jumlah seribu bermakna agar ada satu rasa, dll.

Walaupun tidak bisa dipungkiri bahwa dalam pelaksanaan upacara tersebut terdapat hal-hal yang bertentangan dengan agama seperti halnya diadakannya sesajen, pembakaran kemenyan sebagai media perantara kepada Yang Maha Kuasa, dll. Namun, itulah tradisi (budaya) masyarakat Sunda yang sudah menjadi kebiasaan yang dianggap sebagai hubungan transcendental antara manusia dengan sang pencipta.

Sabagai calon seorang budayawan muslim, tugas kita ialah untuk melestarikan budaya atau adat istiadat yang tidak bertentangan dengan agama atau menyesuaikan budaya tersebut dengan agama. Sehingga praktek-praktek upacara yang bertentangan tersebut tidak dislenggarakan secara terus-menerus. Namun, upacara itu tetap ada dengan berbagai pertimbangan. Islam menghiasi apa yang sudah ada, bukan ada untuk meniadakan. Itulah contoh yang patut kita jadikan visi-misi kita dalam bermasyarakat secara global.

Dari berbagai sumber


[1]              Seke adalah tempat dilaksanakanya upacara pencucian beras

About these ads

About diankurniaa

Dian Kurnia. Blogger; Penulis Lepas di koran lokal dan nasional; Mahasiswa Sejarah UIN SGD Bandung.
This entry was posted in Informasi, Islam, Khazanah Sunda, Sejarah and tagged , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s