Bersahabat Dengan Ejekan

Diambil dari majalah Tarbawi Edisi 159 Th. 8 bulan Rajab 1428 H bertepatan dengan 20 Juli 2007 M, halaman 23.

“Mahasiswa ndeso”, itulah ejekan teman kuliah, bila melihat saya. Memang ejekan itu boleh jadi beralasan, karena selain lugu, wajah dan penampilan saya mencerminkan kalau saya berasal dari desa.
Minggu pertama kuliah, ejekan dan ledekan sering mendera saya. Semua itu saya hadapi dengan senyuman dan keramahan. Saya ucpkan salam dan saya jabat tanganmereka saat berjumpa. Itulah kebiasaan saya.
Lama kelamaan, teman-teman akhirnya bisa menerima saya. Namun bukan berarti ejekan berhenti sampai di situ saja. Suatu ketik saat beberapa teman yang bisa dibilang orang-orang cerdas sedang berdiskusi, saya mendekat dan mencoba untuk ikut mendengarkan perbincangan mereka. Mereka sesekali meilirik saya. Namun hanya dengan sebelah mata.
Mereka seolah menganggap saya bukan dari golongan mereka. Hal itu terulang hingga beberapa kali. Dalam hati saya berdoa: “Ya Allah bukakanlah hati mereka, dan tunjukkanlah pada mereka bahwa kecerdasan tidak pantas untuk disombongkan.”
Ternyata, memang benar doa orang yang selalu diejek dan dihina akan dikabulkan oleh Allah SWT. Akibat seringnya mendapat ejekan, saya merasa tertantang. Keinginan untuk bisa lebih dari mereka muncul dan menjadi power yang luar biasa dahsyatnya.
Saya tertantang untuk lebih giat lagi dalam belajar dan lebih giat berdo’a. begitu semangatnya, kini saya “tinggalkan” mereka. Di saat mereka masih sibuk kuliah, saya sibuk dengan skripsi. Saat mereka mulai menggarap skripsi, saya asyik dengan ujian munaqosyah, dan saat mereka pusing dengan skripsi, saya lulus dengan predikat cumlaude.
Atas semua pencapaian itu, hanya satu yang dapat saya ucapkan, yakni Alhamdulillah. Ejekan yang dulu sering menampar saya, kini berubah menjadi ucapan selamat. Sungguh benar janji Allh, inna ma’al ‘usri yusran, sesungguhnya dibalik kesulitan tu ada kemudahan. Saya juga merasa di balik kesusahan ada kebahagiaan, dan di balik ejekan ternyata ada hikmah, membuat terlecut untuk terus memperbaiki diri.

Masudi Abdusy Syakur, Palembang

Wallahu’alam

About diankurniaa

Dian Kurnia. Blogger; Penulis Lepas di koran lokal dan nasional; Mahasiswa Sejarah UIN SGD Bandung.
This entry was posted in Motivasi, Pengalaman. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s