“Banyak Baca! Reading Much!,” ujarnya.

Oleh Dian Kurnia

Sempat beberapa kali pertemuan perkuliahan dengan Pam M Noor & Pak Moeflich, saya dan teman-teman selalu mendapat motivasi dan dukungan untuk membaca dan menulis. Hal ini kami terima secara intens selama dua semester. Wajar, dosen bersangkutan selalu melupakan KD perkuliahan. Tapi, tak apa lah, semuanya toh bermanfaat juga buat kita. Dua dari dosen yang selalu memotivasi saya khususnya dan teman-teman lainnya, adalah Mahfudin Noor (Dosen Tafsir sekaligus Ketua MUI Tasikmalaya), dan Drs. Moeflich Hasbullah, M.A. (Motivator Guru se-Jawa Barat dan juga mantan mahasiswa di Universitas Melbourne Australia).

Pak M Noor selalu memberikan arahan kepada saya untuk reading much atau banyak membaca. Menurutnya, dengan tradisi membaca kita akan mendapatkan banyak ilmu pengetahuan dan wawasan yang luas pula. Bekal inilah yang dijadikan oleh beliau dalam aktivitasnya sebagai dosen dan juga penulis di media Koran. Tulisan-tulisannya cukup banyak di media massa, dan juga ada beberapa buah buku yang dijadikan bahan referensi oleh mahasiswa di almamater kami.

Selanjutnya, Drs. Moeflich Hasbullah, M.A yang dikenal dengan sebutan kang Moef oleh kawan-kawan sederajatnya. Beliau selalu memberikan motivasi kepada saya dan teman-teman di jurusan Sejarah sebelum melakukan aktivitas perkuliahan. Pada kesempatan awal perkuliahan, beliau memberikan cerita motivasi mengenai dirinya sewaktu menjadi mahasiswa di jurusan yang sama. Ketika itu ia bercerita mengenai kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan agenda kemahasiswaan khususnya sejarah, dalam realitas social kampus. Beliau selalu menghiasi hari-harinya dengan membaca dan menulis. Diskusi regular, kunjungan ke perpustakaan, aktivitas membeli buku, merasakan perut kosong karena uang makan digunakan untuk membeli buku bacaan, dll. Cerita-cerita itu beliau ceritakan dengan penuh perasaan (romantisme sejarah), sehingga kami yang mendengarkan merasa terbawa dan terhanyut kedalam kisah itu. Saya pribadi merasa sangat termotivasi oleh cerita-cerita nyata dari pengalaman kang moef ini. Dari beberapa kata, kalimat,  yang beliau keluarkan, saya merasakan ada semacam semangat perubahan.

Kang moef sekarang adalah dosen saya khusus bidang Islam di Jawa Barat dan Islam di Asia Tenggara (baca: studi kawasan). Dalam mengajar ia tergolong jenaka. Banyak guyonan-guyonan yang ia keluarkan namun tidak bersifat heureuy semata. Dalam guyonannya terkandung amanat dan pesan moral bagi pendengarnya yakni kami untuk bias berjuang dalam mempertahankan hidup ini.

Mungkin itu sedikit prolog dalam memulai tulisan ini. Saya mengharapkan ada semacam semangat (power) dalam setiap kata yang saya ketik ini yang selanjutnya bias memberikan motivasi dan arahan pula bagi pembaca yang sebelumnya merasa bingung dengan dunia tulis menulis dari aspek basic, metode, dll.

Menulis adalah sebuah aktivitas menuangkan gagasan, ide, atau pemikiran kedalam media tulis sehingga menjadi sebuah karya tulis yang memiliki kandungan isi yang berharga bagi pembacanya. Bagi kebanyakan orang, aktivitas menulis adalah sebuah aktivitas yang sangat berat dan melelahkan, dan juga bikin pening kepala saja. Aktivitas ini terkadang dipandang sebagai suatu hal yang menyulitkan, memberatkan, dan tidak mudah untuk dikerjakan. Paradigma ini telah membudaya pada pikiran masyarakat kita, khususnya pada kalangan akademisi seperti mahasiswa.

Terlepas dari paradigma itu, mari kita lihat pernyataan dari Imam Jafar As-Shidiq, beliau berkata, “Tulis dan sebarkan ilmumu diantara saudaramu. Jika kamu mati, anak-anakmu akan mewarisi kita-kitabmu. Kelak, akan tiba suatu saat yang di dalamnya terjadi kekacauan dan orang-orang tak lagi memiliki sahabat yang melindunginya dan tak ada penolong kecuali buku-buku”.

Betapa mulianya peran seorang penulis apabila ia menulis sesuatu yang membawa dan memberikan kebaikan bagi para pembacanya. Hal ini memberikan gambaran kepada kita semua akan pentingnya kegiatan tulis menulis. Menulis itu bagaikan seni mendayung gagasan, mengarungi samudera ilmu pengetahuan, berbagi pemikiran dan juga pengalaman. Aktivitas menulis dapat memberikan manfaat bagi diri kita sendiri (selaku penulis). Dengan menulis kita kadang mampu dalam memecahkan berbagai persoanalan yang sedang kita hadapi.

Itulah aktivitas menulis dalam realitasnya. Merakit kata-kata menjadi baitan kalimat, yang selanjutnya merangkai dalam sebuah karya tulisan yang menggugah pembacanya. Satu hal yang perlu kita pahami, menulis juga sangat membutuhkan ketekunan dan ketelitian, dan juga kesabaran. Alasannya, aktivitas menulis adalah kegiatan belajar dalam artian menambah pengetahuan baru dan juga memantapkan pengetahuan yang sudah kita miliki. Sayyidina Ali r.a. pernah berkata, “Tulisan adalah pengikat daripada ilmu pengetahuan”. Secara umum, suatu hal yang secara fungsinya jarang digunakan, maka ia akan hilang dengan sendirinya ditelan waktu. Tidak sedikit juga, dalam realitas social masyarakat kita, orang yang kaya akan ilmu pengetahuan tapi tidak ia ikat ilmunya itu dengan menulis, maka ia akan hilang dengan sendirinya seiring hilangnya usia. Gagasan-gagasannya akan hilang terlupakan seiring berjalannya sang waktu. Namanya pun akan tenggelam dalam pefanaan sang zaman.

Sejarah telah mencatat beberapa tokoh pemikir yang telah tiada beratus-ratus tahun yang lalu, namun berkat usahanya dalam mengikat ilmu yang ia miliki dengan tulisan, sehingga namanya abadi dalam ruang dan waktu perjalanan umat manusia. Misalnya, Imam Al-Ghazali. Beliau adalah Imam besar yang telah malang melintang dalam lintasa sejarah pemikiran Islam. Beliau telah meninggal pada tahun 1111 M yang lalu. Tetapi sampai saat ini namanya selalu disebut-sebut, dan karyanya selalu diperbincangkan dan dikaji. Itu karena beliau mengikat ilmu yang ia miliki dan pahami dalam tulisan. Ibn Khaldun, Al-Khawarizmi, Al-Farabi, Ibn Sina, dll. Mereka adalah manusia-manusia besar dalam hal pemikiran Islam yang telah tiada berabad-abad yang lalu, namun namanya tetap harum hingga saat ini.

Seperti itulah aktivitas menulis (mengikat ilmu) dalam realitas kita sebagai pelajar yang mendambakan keberkahan dari ilmu yang kita miliki. Oleh karena itu, marilah mulai untuk menuliskan segala peristiwa yang kita alami dalam kehidupan sehari-hari. Mungkin saja, tulisan kita saat ini yang kita anggap hanya sebagai coretan kecil, suatu saat nanti akan bernilai besar ketika dibaca oleh generasi penerus kita. Jangan pernah berhenti untuk memulai karena manusia yang takut memulai adalah sesungguhnya dia telah mengalami kegagalan.*** Wallahu’alam

About diankurniaa

Dian Kurnia. Blogger; Penulis Lepas di koran lokal dan nasional; Mahasiswa Sejarah UIN SGD Bandung.
This entry was posted in Pengalaman, Tips, Umum and tagged , , , . Bookmark the permalink.

4 Responses to “Banyak Baca! Reading Much!,” ujarnya.

  1. MUSTOPA says:

    Don’t forget…!!!
    saat semakin besar semangat kita untuk menulis, maka harus semakin besar pula semangat kita untuk terus menggali ilmu kepenulisan.
    OK…!!!
    Keep smile n spirit..!!
    Gokkigenyoo…!!!

  2. Agung Rangga says:

    jadi lebih semangat menulis nih…

    silakan berkunjung…
    http://popnote.wordpress.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s