Coretan 25 Januari 2011, 7.24 WIB

Oleh Dian Kurnia

Letnan Dian Profile 1

Sejarah adalah sebuah perjalanan hidup yang sangat panjang dan berliku. Kehidupan yang penuh dengan godaan dan tipuan ini telah meluluhlantahkan aspek internal dalam diri seorang manusia, yakni perasaan atau keimanan atau hati.

Tak disadari oleh kita, bahwa semenjak kita dilahirkan ke dunia yang fana ini, bermacam-macam assesoris keduniawan mulai melekat pada diri kita secara bertahap. Kemuliaan seorang manusia sebagaimana tertera dalam kitab yang suci, Al-Qur’an al-Karim, disebutkan bahwa secara fitrah manusia itu suci. Kelebihan manusia dibandingkan dengan makhluk ciptaan-Nya yang lain adalah terletak pada aspek internal, yakni akal atau hati. Manusia secara naluriah memiliki akal yang secara sistematis bias digunakan dalam menuntun jalan kehidupan yang sangat panjang ini dan penuh dengan godaan. Ketika manusia dihadapkan pada kondisi atau situasi yang krusial, menuntut dirinya untuk memutuskan perkara dengan akal mereka, maka secara naluriah mereka akan mengambil langkah aman, akal akan digunakan selama perkara itu bersifat logis dan mudah diutarakan sebagai sebuah realitas social.

Sedangkan, makhluk lain selain manusia, misalnya hewan, mereka hanya menggunakan insting belaka yang digunakannya sebagai petunjuk jalan kehidupan mereka yang tidak sistematis seperti akal yang dimiliki oleh manusia. Jalan hidup itu banyak dengan pilihan, akal manusia memberikan sebuah kondisi dimana mereka (manusia) bias memilih dan memilah semua pilihan yang ada di kehidupan mereka. Sementara hewan misalnya, tidak bisa menentukan pilihan dikarenakan insting yang berperan. Hidupnya bersifat stagnan tidak mobile seperti yang dimiliki umat manusia.

Namun, realitas saat ini kita banyak melihat perilaku hewan yang selalu menggunakan insting belaka atau nafsu telah dipergunakan oleh manusia yang secara fitrah adalah suci dan mulia karena adanya akal. Akal yang  dimiliki dikesampingkan, dan digantikan dengan insting atau nafsu, sehingga segala bentuk tindak tanduknya bersifat kebinatangan. Seorang manusia itu dimuliakan oleh Allah SWT sebagai Sang Khalik dikarenakan memiliki ilmu yang bersumber pada akal. Oleh karena itu, kita sebagai manusia haruslah sadar akan peran dan posisi kita dalam hidup ini. Kesadaran akan status dan peran ini hanya akan didapatkan ketika kita tumbuh dan berkembang di lingkungan yang berilmu pula. Kesadaran akan pentingnya jati diri kita selaku manusia akan menuntun dan mempola kehidupan kita sehingga garis akhir adalah khusnul khatimah dalam keridhaan-Nya. Amin

About diankurniaa

Dian Kurnia. Blogger; Penulis Lepas di koran lokal dan nasional; Mahasiswa Sejarah UIN SGD Bandung.
This entry was posted in Sejarah, Umum and tagged , , . Bookmark the permalink.

One Response to Coretan 25 Januari 2011, 7.24 WIB

  1. nolzz says:

    wonderful!….everyone has a special history of life. face the challanges and ganbatte kudasai!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s