Kebebasan Di Negara Demokrasi

Oleh Dian Kurnia

Hak azasi adalah hak yang dimiliki manusia yang diperoleh dan dibawanya bersamaan dengan kehadirannya di dalam kehidupan masyarakat. Sehingga, dalam kehidupan bermasyarakat hak azasi berperan sebagai penolong dan penyokong kelangsungan hidup satu atau lebih anggota masyarakat. Hak azasi bersifat universal serta tidak ada pembeda antara individu satu dengan individu yang lain. Semuanya sama ketika membicarakan masalah hak azasi. Hal ini dikuatkan dengan adanya konsep persamaan derajat dalam tatanan realitas sosial.

Kita tentu pernah mengenal Magna Charta (1215) suatu dokumen resmmi yang berisikan mengenai hak-hak yang diberikan oleh Raja John dari kerajaan Inggris kepada rakyatnya, Undang-Undang Hak (Bill of Rights) yakni suatu naskah yang disusun oleh Rakyat Amerika pada tahun 1789 untuk mengatur azasi pribadi warga Negaranya, UU Hak tahun 1689 yang dikeluarkan oleh kerajaan Inggris setelah tumbangnya rezim otoriter Raja James II pada tahun 1688, serta naskah-naskah lain mengenai pengaturan akan hak azasi manusia.

Presiden AS Franklin D. Roosevelt pada permulaan PD II telah merumuskan The Fourth Freedoms (empat kebebasan) untuk meminimalisir tindakan pihak Jerman dengan komunitas Nazi nya yang telah menginjak-injak hak-hak manusia pada peristiwa Perang Dunia. Empat kebebasan itu adalah kebebasan berbicara dan menyatakan pendapat, kebebasan beragama, kebebasan individu dari ketakutan, dan kebebasan dari kemiskinan sosial.

Segala bentuk perjuangan dalam mematahkan tindakan pengkerdilan terhadap hak-hak dasar umat manusia terus dilakukan oleh para pemerhati hak azasi manusia. Tidak sedikit dari para pejuang hak azasi manusia ini yang telah menjadi korban kebiadaban para pelanggar HAM. Sebut saja kasus Munir. Bangsa Indonesia dikejutkan dengan meninggalnya aktivis HAM nasional, Munir. Ia tewas di dalam pesawat terbang ketika hendak melakukan perjalan dalam rangka kegiatan yang berhubungan dengan hak azasi manusia.

Kasus terbunuhnya Munir pada tahun 2001 ini, telah memberikan dampak domino bagi kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan hak azasi manusia. Kebebasan dalam konteks Negara demokrasi seperti di Indonesia, dilindungi oleh undang-undang dasar. Negara hukum yang memiliki keanekaragaman dalam berbagai aspek kehidupan ini, dalam ideologi negaranya mematenkan akan hak dasar manusia. Pasal-pasal yang terdapat dalam pembukaan UUD 1945, secara subtansial berisikan mengenai kebebasan warga Negara dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Pasal-pasal tentang hak dasar warga Negara ini dimuat terutama dalam pasal 27-31.

Sebagaimana tersebut di atas, dalam naskah The Fourth Freedom, terdapat kesamaan-kesamaan dalam aspek kebebasannya. Kebebasan berbicara, menyatakan pendapat dimuka umum, kebebasan dari intimidasi, dan kebebasan untuk beragama. Semua aspek kebebasan ini dalam Negara demokrasi adalah suatu ciri khusus. Kebebasan dengan penuh tanggung jawab. Bukan kebebasan yang sebebas-bebasnya.

Pandangan mengenai konsep kebebasan dalam Negara demokrasi ini, terdapat beberapa pendapat ahli. Pendapat tentang hak azasi manusia pada tahap awal pembentukannya banyak dipengaruhi oleh ‘declaration des droits de I’homme et du citoyen,’ yang dianggap sebagai sumber individualisme dan liberalisme klasik. Jelasnya, konsep awal mengenai hak azas ini bertentangan dengan azas kekeluargaan dan kebersamaan. Pasalnya, Bung Karno pernah berpendapat bahwa, “Jika kita memang betul-betul hendak menerapkan konsep Negara dengan konsep kekeluargaan dan kebersamaan, konsep tolong menolong, gotong royong, dan keadilan sosial, maka hilangkanlah dari tiap-tiap pikiran mengenai faham individualism dan liberalism.”

Pendapat Bung Karno ini perlu kita fahami sebagai salah satu dasar ideologi dalam Negara demokrasi yang kental akan ciri kebersamaan, gotong royong, tolong menolong, dan keadilan sosial. Jangan mengedepankan wacana saja sementara praktek nyata tidak terealisasikan dengan baik.

Di lain pihak, Bung Hatta menyatakan bahwa, “Walaupun yang dibentuk itu konsep kekeluargaan dalam sebuah Negara, tetapi masil diperlukan beberapa penerapan akan hak warga Negara, jangan sampai timbul Negara kekuasaan (machtsstaat)”.

Pendapat kedua tokoh bangsa di atas adalah bentuk pemikiran ideal akan konsep kebebasan dalam Negara demokrasi. Setiap kebebasan individu harus disesuaikan dengan aspek eksternal. Hal ini akan memberikan sebuah tatanan yang sejalan dengan pemikiran dan keinginan hati segenap penduduk bangsa. Jika kita bercermin pada sejarah bangsa, kita akan selalu mendapatkan sesuatu yang berharga. Karena bangsa yang besar adalah bangsa yang selalu bercermin pada sejarahnya sendiri.

Terus melakukan introspeksi internal sebelum melakukan perubahan. Prospek kebebasan dalam tatanan pemerintahan saat ini sebenarnya semakin tergerus oleh ketidak siapan para pemimpin bangsa dalam menghadapi tangtangan era global. Negara kita yang kaya akan sumber alam dan sumber manusianya, telah dijadikan sebagai sapi perah oleh pihak asing. Kebebasan warga Negara telah dirampas oleh sikap lunaknya pemerintah dalam menghadapi intervensi asing sebagai salah satu konsekuensi dalam abad globalisasi. Para pemimpin bangsa tidak memiliki cukup keberanian untuk tampil sebagai penggerak sejarah baru di tengah-tengah kancah perpolitikan dunia internasional. Para pemimpin kita selalu disibukan oleh permasalahan lokal yang tak kunjung selesai. Semua permasalahan yang ada tak pernah diselesaikan dengan serius. Semakin menumpuk dan semakin membesar sehingga suatu saat nanti akan menjadi bom waktu yang bisa menghancurkan kehidupan internal bangsa. Para pejabat lebih disibukan dengan agenda pribadinya masing-masing untuk plesiran ke luar negeri atau Bali, selain sibuk dengan rapat-rapat kisruhnya di senayan.

Saat ini sudah terlihat dampak dari ketidaksigapan para pemimpin bangsa dalam mengatur dan mempolakan rute perjalanan bangsa kedepannya. Berbagai aspek kehidupan di Negara ini telah lengkap dibumbui oleh kekacauan manajemen. Dari tingkat terkecil, RT, hingga lembaga Negara. Semua lapisan sedang merasakan getirnya hidup di Negara pengusung demokrasi ini. Sudah sewajarnya sekarang timbul berbagai aspirasi yang menghendaki agar dilakukan reformasi jilid II bahkan ada suara-suara tentang revolusi. Sebuah kata yang miris untuk diperdengarkan tetapi juga merupakan senjata ampuh dalam memutarbalikan realitas sosial 180o. Beragam skandal anggota dewan, dari kasus penggelapan uang (korupsi), penyuapan, skandal sex, hingga mafia pajak, merupakan pekerjaan rumah yang tidak pernah selesai. Sebenarnya bukan tidak bisa terselesaikan, permasalahannya adalah mereka terlalu sibuk dengan urusan dendam dan rasa iri. Banyak para tokoh nasional yang capable dengan permasalahan bangsa saat ini. Hukum, politik, ekonomi, sosial-budaya, hubungan bilateral, hingga manajemen olahraga nasional. Belum reda ditelinga kita tentang kasus Gayus Tambunan yang telah menjadi mafia di lingkungan Dirjen Pajak, sekarang kita dijejeli lagi oleh kasus mafia PSSI, NH. Gelombang demonstrasi dari berbagai daerah di nusantara terus menerus bermunculan bak gelombang tsunami yang siap siaga untuk menghancurkan objek di depannya. Semakin kompleks dan semakin bertumpuk, hingga akhirnya ada yang berpendapat bahwa tinggal menunggu waktunya saja bagi Indonesia untuk hancur.

Bercermin pada peristiwa reformasi Mei 1998, terlihat adanya perubahan yang sangat radikal dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat dan Negara. Reshuffle kabinet Negara hingga perubahan sistem pendidikan. Dalam era reformasi yang dimotori oleh Amin Rais dkk, bangsa Indonesia telah berhasil keluar dari kungkungan dan pemerkosaan hak-hak dasar warga Negara. Namun, agenda reformasi 1998 rupanya hanyalah sebuah letusan kecil diantara letusan-letusan besar. Corong demokrasi dari peristiwa reformasi Mei 1998 diibaratkan bagaikan keran air yang terbuka lebar sehingga keluarlah berkubik-kubik debit air. Berbagai gerakan sosial, keagamaan, dan pemikiran telah lahir dan berkembang secara cepar bagaikan jamur di musim hujan. Nilai yang terkandung dari event reformasi ini bisa dirasakan oleh semua kalangan tak terkecuali penduduk peranakan Cina. Permasalahan baru bermunculan setelah beberapa tahun gerbang reformasi terbuka. Malahan, semakin kompleks dan melingkupi sebagian wilayah Nusantara Indonesia.

Sudah saatnya, kita sebagai warga masyarakat Indonesia dalam artian global, untuk melakukan perubahan internal diri sendiri. Ubah paradigma berfikir acuh menjadi respect terhadap isu nasional. Respect harus dengan pemahaman yang benar. Tidak sedikit sekarang banyak masyarakat yang respon terhadap peristiwa nasional karena alasan ikut-ikutan semata. Ikut melakukan demonstrasi hanya dengan iming-iming materi semata. Dengan berbekal baju seragam, selampe, dan suara yang keras, tak lupa tahan panas. Saya melihat, respon masyarakat terhadap isu nasional tidak didasari oleh dasar pemikiran yang kuat. Sehingga hanya radikal dan merusak dampak yang ditimbulkan. Aspirasi tidak tersampaikan dengan baik. Akhirnya, hanya buang-buang waktu dan materi saja. [red: dian] Wallahu’alam ***

About diankurniaa

Dian Kurnia. Blogger; Penulis Lepas di koran lokal dan nasional; Mahasiswa Sejarah UIN SGD Bandung.
This entry was posted in Sejarah, Umum and tagged , , . Bookmark the permalink.

One Response to Kebebasan Di Negara Demokrasi

  1. nobody says:

    Kekuatan FreeMason Yahudi bermain di balik aksi Anggodo, Gayus, dll.?
    Semua orang sepertinya berusaha untuk saling menutupi agar kedok anggota mafia FreeMason utamanya tidak sampai terbongkar.
    Jika memang benar demikian, maka tidak akan ada yang bisa menangkap dan mengadili Gembong tersebut -di dunia ini- selain Mahkamah Khilafah!
    Mari Bersatu, tegakkan Khilafah!
    Mari hancurkan Sistem Jahiliyah dan terapkan Sistem Islam, mulai dari keluarga kita sendiri!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s