Demokratisasi Agama

Oleh Setia Gumilar*

Sunan Gunung Djati-Dalam tulisan ini, penulis ingin memberi penjelasan mengenai demokratisasi dalam agama. Demokratisasi agama bisa dipahami sebagai sikap atau tindakan dari seseorang atau sekelompok orang yang berusaha untuk saling menghormati dan menghargai perilaku keberagamaan dari setiap penganut agama yang ada di muka bumi ini.

Tema ini diawali dengan seringnya terjadi peristiwa keagamaan yang cenderung telah mengingkari dari substansi ajaran agama. Orang sering menyebutnya dengan radikalisasi agama.

Pada prinsipnya setiap agama menyerukan kepada pengikutnya sebuah kebenaran, yang dilandasi oleh kitab sucinya sebagai pegangannya. Tidak satu agamapun menyerukan kepada pengikutnya supaya berbuat radikal dalam semesta kehidupan ini. Melalui peran dari para pendakwahnya, setiap agama didakwahkan tidak lain bertujuan untuk mencapai kebersamaan dalam pola interaksi dalam kehidupan sosial. Artinya, tujuan akhir beragama adalah bagaimana terjadinya kehidupan yang harmonis dan stabil dalam lingkup semesta kehidupan ini.

Realitas yang terjadi, masih banyak para penganut agama kurang bisa memahami makna yang substantif dari perilaku keberagmaannya. Hal ini terjadi disebabkan oleh kedangkalannya dalam memahami ajaran-ajaran agama yang tertuang dalam kitab sucinya. Pemahaman secara parsial terhadap satu ajaran agama mengakibatkan keputusan yang tidak utuh dalam melakukan perilaku keberagamaan di dunia publik. Sebagai contoh, aksi terror yang dilakukan oleh sekelompok penganut tertentu merupakan wujud radikalisasi agama yang didasari oleh pemahaman yang parsial terhadap ayat-ayat yang tertuang dalam kitab suci.

Himbauan dari seorang Pastor Terry D Jones yang mengajak untuk dilakukannya pembakaran Al-Qur’an pada tanggal 11 September juga merupakan contoh perilaku keberagamaan yang bersifat radikal. Aksi Penerjunan 2000 tentara Israel untuk mengawasi kaum muslimin melakukan Shalat di Palestina juga merupakan bentuk radikalisasi agama.Tiga kasus perilaku keberagamaan yang dilakukan oleh penganu! t beragama di nusantara ataupun di mancanegara tersebut harus mendapat perhatian dari kita sebagai penganut keberagamaan yang memahmi agama tidak secara parsial. Keharmonisan dan kestabilan merupakan tujuan akhir umat beragama. Banyak perilaku yang kita ketahui akhir-akhir ini yang mencerminkan perilaku yang berujung kepada tumbuhnya demokratisasi agama.

MUI menentang segala bentuk radikalisasi agama termasuk terorisme. Fatwa haram terhadap perilaku tersebut menurut hemat penulis merupakan satu bentuk solusi yang ditawarkan kepada publik supaya perilaku keberagamaan yang mengarah disintegrasi tidak terjadi kembali. Lebih lanjut MUI melalui pendapat Ma’ruf Amin menyerukan agar umat Islam kembali kepada ajaran Islam sebenarnya (manhaj Islami) yang berujung kepada perbaikan masyarakat (risalah ishlahiyah) dengan cara yang santun.

Pada kesempatan lain, perilaku yang mencerminkan ke arah demokratisasi agama diserukan oleh seorang Barack Obama,Presiden AS, yang mendukung terhadap pendirian masjid di lokasi Zero Ground. Di tengah hingar bingarnya pro kontra pendirian mesjid di lokasi yang mempunyai nilai historis kelam bagi masyarakat AS, World Trade Center (WTC), Obama mengatakan bahwa umat Muslim mempunyai hak yang sama untuk mempraktikkan agama mereka sebagaimana orang pemeluk keyakinan yang lain yang juga ingin diperhatikan h! aknya. Sebuah seruan yang sangat menyejukkan diserukan oleh seorang Obama yang notabene status agamanya bukan Muslim.(Republika, 14 Agustus 2010) Satu bentuk perilaku yang mencerminkan demokratisasi agama adalah Sumbangan Al-Qur’an yang dihimpun oleh Gereja Indonesia kepada WNI yang ditahan di Australia. 500 kitab suci Al-Qur’an disumbangkan melalui Perseketuan Gereja-Gereja Indonesia (PGI) dan Konferensi Wali Gerje Indonesia (KWI) sebagai bentuk tidak mendukung terhadap seruan Pastor Terry D Jones yang menyerukan hari pembakaran Al-Qur’an pada 11 September (.(Republika, 13 Agsustus 2010) sekaliguis menentang ungkapan Terry yang menyatakan bahwa Islam adalah Al-Qur’an adalah dusta dan Islam adalah setan, (Republika, 30 Agsustus 2010) sebuah bentuk radikalisasi yang menyebabkan umat beragama mengalami keterpecahan.

Demokratisasi agama yang direpresentasikan di atas, sudah seharusnya menuntut kepada kaum agamawan dan penganut agama untuk senantiasa menjadi pilihan dalam melakukan seruannya di dunia publik. Tulisan ini diharapkan menjadi ajang bagi introspeksi diri atau kelompok keberagamaan untuk senantiasa memahami ajaran agama secara utuh. Dalam arti, bahwa substansi keberagamaan yang hendak diperoleh oleh setiap agama adalah menjadikan nilai haromoni di alam semesta ini. Kedua, semoga tulisan ini menjadi pijakan bagi kaum muslimin untuk senantiasa menebarkan keselamatan dan kasih sayang antar sesama umat baik internal muslim maupun external muslim. Wallahualam.

*Setia Gumilar, S.Ag, M.Si adalah dosen Sejarah Peradaban Islam di Jurusan SPI UIN SGD Bandung, sekaligus menjabat sebagai Ketua Jurusan Sejarah Peradaban Islam.

Sumber: http://www.sunangunungdjati.com/blog/?p=11495

About diankurniaa

Dian Kurnia. Blogger; Penulis Lepas di koran lokal dan nasional; Mahasiswa Sejarah UIN SGD Bandung.
This entry was posted in Gerakan, Islam and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s