Islam dan Pluralitas, Hikmah Dalam Perbedaan

Oleh: Dian Kurnia

islam-dan-pluralitasIslam dalam konteks historis telah banyak mencetuskan kegemilangan-kegemilangan yang sempurna. Sejarah umat Islam yang dimulai dari jazirah Arab pada abad ke-5 M telah berhasil mengubah paradigma sosial dari Pagan (penyembah berhala) menuju masyarakat yang beradab. Sebagai risalah ketuhanan yang membawa rahmat bagi seluruh alam, agama Islam telah membangun konsepsi-konsepsi humanities atau kemanusiaan dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat. Dalam ajaran Islam yang agung, refleksi kesempurnaan pribadi seseorang dalam masyarakat akan sangat memberikan dampak yang besar bagi kelangsungan hidup masyarakat tersebut.

Kota Mekah pada tahun-tahun awal Islam hadir yang kita kenal akan kejahiliahannya, dengan ciri praktek kriminal merajalela, pembunuhan, pemerkosaan, pemujaan terhadap patung, dan praktek kriminal lainnya, telah berhasil dirubah oleh sosok pribadi mulia, rasul panutan umat, Nabi Muhammad SAW. Keseimbangan antara hak dan kewajiban seseorang di dalam strata sosial yang diemban oleh konsep ajaran Islam telah menempatkan seseorang secara seimbang. Tidak ada hijab antara hak individu dengan hak masyarakat yang menyebabkan tersendatnya kehidupan masyarakat.

Dalam realitas ini, Islam telah menawarkan aturan-aturan pokok yang bisa digunakan dalam kehidupan masyarakat. Oleh sebab itu, dari mulai Islam hadir di Mekah, hingga disebarluaskan ke berbagai pelosok negeri di sekitar jazirah Arab, ia berhasil dengan nyat! a mencetuskan konsep masyarakat yang humanis dan seimbang. Meskipun terdapat banyak sekali perbedaan-perbedaan pandangan mengenai suatu hal atau lebih dalam masyarakat itu sendiri.

Prioritas dalam membangun sosial kemasyarakatan yang heterogen adalah dengan cara mementingkan kepentingan umum diatas kepentingan pribadi maupun golongan. Karena cara ini adalah salah satu metode yang harus dilakukan dalam entitas masyarakat kita ketika hendak menginginkan suatu kondisi yang kondusif diatas banyaknya perbedaan yang ada. Kepentingan umum masyarakat adalah bangunan dasar bagi kehidupan sosial di antara individu.

Al-Mua’llim Tsani Abi Nasr Al-Faraby dalam risalahnya Aro Ahl al-Madinah al-Fadillah, menjelaskan mengenai pentingnya kehidupan individu dalam bangunan kehidupan sosial. Tanpa kehidupan sosial, kesempurnaan individu dalam merealisasikan berbagai kebaikan, mustahil bisa terlaksana dengan baik. Alasannya, karena kebaikan itu sendiri tidak cukup untuk dirasakan dan diukur oleh pribadi sendiri, melainkan membutuhkan peran dan pola perilaku orang lain.

Keberagaman masyarakat dalam aspek-aspek tertentu adalah hal yang wajar dan harus ada. Hal ini merupakan penyokong kekuatan suatu komunitas masyarakat. Apabila dengan tidak adanya keberagaman (pluralitas) itu, maka mustahil suatu komunitas masyarakat bisa hidup dengan sistematis dalam menyongsong cita-cita bersama. Satu dan yang lainnya akan memberikan dorongan dan masukan, mereka akan saling mengisi satu sama lain. Sehingga akan tercipta sebuah kekuatan dalam masyarakat. Realitas ini sudah ada sejak zaman Nabi. Madinah dengan realitas masyarakatnya yang lebih plural dibandingkan dengan Mekah, adalah contoh awal dalam sebuah tatanan masyarakat idaman sebelum Nabi melakukan hijrah ke Madinah. Kaum Muhajirin (mereka yang ikut hijrah dengan Nabi SAW ke Madinah) dan kaum Anshar (mereka yang berada di Madinah ketika Nabi SAW dan para pengikut hijrah ke Madinah), serta suku-suku (klan) yang ada dalam komunitas masyarakat jazirah Arab, bisa hidup rukun berdampingan secara legal dan! menyeluruh. Hal ini dikarenakan konsep yang diemban oleh Rasulullah SAW (Islam) berhasil dalam menerapkan kaidah-kaidah dalam kehidupan masyarakat plural jazirah Arab.

Sejak kelahirannya, Islam yang dibawa oleh Rasulullah SAW, telah memberikan arus transformasi yang cukup radikal, bahkan bisa dikatakan sangat radikal dan komprehensif, terutama bagi pola perubahan kehidupan masyarakatnya. Islam telah merombak aspek habitual-daily masyarakat secara menyeluruh yang berakar kuat pada tradisi paganisme-nya, standar penilaian sosial, cara pandang seseorang dalam masyarakat kepada manusia lain, serta penempatan manusia dalam status sosialnya secara proporsional. Pluralitas atau keberagaman dalam Islam cukup diakui. Sejarah Islamlah yang telah membuktikan pendapat ini. Namun, realitas saat ini di tengah-tengah masyarakat kita yang sedang mengalami krisis multi-dimensional, konsep pluralitas sosial telah mengalami degradasi.

Banyak terjadi kekisruhan antar anggota masyarakat yang disebabkan oleh perbedaan pandangan dalam satu atau banyak hal. Tindakan kriminal banyak terjadi dan dilakukan secara berjamaah oleh satu kelompok dalam masyarakat karena! adanya perbedaan paham, perbedaan golongan, perbedaan calon pemimpin, perselisihan harta gono-gini, dan perbedaan-perbedaan lainnya. Mungkin ada kesalahan atau sengaja ada pihak yang melencengkan konsep pluralitas dalam Islam yang semula bisa berjalan dengan baik, namun kini hanya egoisme yang timbul pada masyarakat kita.

Refleksi dari sistem pemerintahan yang sedang berjalan, bisa jadi merupakan penyebab dari kekacauan perilaku masyarakat kita dalam menyikapi setiap perbedaan. Slogan “bhineka tunggal ika” “berbeda-beda (ras, suku, agama) tapi tetap satu jua, Indonesia” tak bisa lagi dipertahankan sebagai sebuah jargon ideologi bangsa. Contoh atau uswah adalah hal yang paling baik mempengaruhi adat kebisaaan seseorang dalam masyarakat. Sebagaimana termaktub dalam Al-Qur’an al-Karim, bahwa dalam pribadi Rasul SAW itu ada contoh atau uswah yang baik, yang patut dilaksanakan oleh segenap umat Islam sebagai basic atau dasar dalam mengarungi kehidupan bermasyarakat. Saat ini masyarakat kita terus memperhatikan dan mencontoh perilaku pemimpin negeri. Sungguh, pemandangan yang sangat mengecewakan sekali yang telah dipertontonkan oleh anggota lembaga Negara terhormat. Perilaku a-moral yang sering dilakukan oleh anggota dewan Negara kita, telah memberikan contoh yang kurang baik bagi perkem! bangan karakter bangsa.

Terlebih ketika kita menyaksikan tindakan tidak senonoh anggota dewan dalam skandalnya, yang secara terang-terangan mengaku telah melakukan perilaku a-moral tersebut. Sedangkan, yang bersangkutan adalah anggota badan Negara terhormat, yang menggunakan peci sebagai salah satu ciri bangsa kita yang beradab dan ramah tamah. Namun, ciri tersebut sebagai identitas nasional bangsa dikhianati oleh perilaku anggota dewan terhormat.

Kembali kepada permasalahan pluralitas dalam masyarakat kita, Islam sebagai ajaran Ilahi yang agung telah mengakui konsep pluralitas ini dalam masyarakat. Negara kita yang terbentang dari Sabang sampai Merauke adalah terdiri dari berpuluh-puluh bahkan hingga beratus-ratus suku, bahasa, dan ras. Agama yang diakui di Negara kita pun lebih dari satu. Sebagai konsekuensi dari keberagaman inilah, umat Islam di tuntut untuk bisa meneladani perilaku Nabi SAW dan sahabat, ketika berada dalam linkungan yang heterogen.

Pembelajaran sejarah Islam yang benar sangat diharuskan ditengah kekacauan paradigam akan pluratias sosial. Oleh karena itu, studi tentang sejarah Islam saat ini harus ditingkatkan lagi. Penelitian-penelitian mengenai keagungan Islam lebih difokuskan lagi dalam publikasi kepada masyarakat luas, baik itu dengan menggunakan media digital seperti tele-converence, website pendidikan Islam, jurnal online, maupun dengan media buku manual. Pemerintah sebagai pihak yang paling ! berperan, dalam hal pendidikan karakter bangsa misalnya, harus lebih konsen terhadap PR ini. Kesibukan politik luar negeri jangan sampai menimbulkan gelombang internal yang bisa merusak tatanan kehidupan berbangsa dan bernegara.

Terakhir, kita harus faham akan konsep pluralitas ini. Karena kita adalah bagian dari masyarakat juga, yang hidup berdampingan dengan realitas keberagaman dalam masyarakat. Perlu diperhatikan juga bahwa yang diakui oleh Islam adalah pluralitas, bukan pluralisme. Jika pluralisme diartikan sebagai hal yang diakui oleh Islam, maka harus diluruskan bahwa hal itu tidak benar. Islam mengakui akan adanya realitas pluralitas, bukan pluralisme sosial ataupun pluralisme agama.

Hal ini yang bisa memberikan dampak positif bagi kita selaku anggota masyarakat dan tentunya bisa memberikan suasana kondusif bagi Negara sebagai lembaga tertinggi dalam masyarakat. Kekerasan di Cikeusik dan Temanggung baru-baru ini adalah salah satu contoh kesalahan yang seharusnya tidak terjadi jika semua pihak menyadari dan memahami akan tidak benarnya tindak kekerasan dengan alasan apapun. Bahkan ketika kekerasan itu dialamatkan pada salah satu agama. Ini adalah tanggungjawab bersama dalam menetralkan pemiki! ran masyarakat akan konsep pluralitas.

Wallahu’alam

About diankurniaa

Dian Kurnia. Blogger; Penulis Lepas di koran lokal dan nasional; Mahasiswa Sejarah UIN SGD Bandung.
This entry was posted in Islam, Sejarah and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s