Derita, Sebuah Refleksi Kehidupan

Malam ini masih sama dengan malam sebelumnya. Hanya ada aku dan ibu di rumah. Aku punya tiga orang kakak. Kakak pertamaku laki-laki. Dia bernama Yusuf. Dia sudah berkeluarga. Bahkan sudah memiliki satu orang anak. Kakak keduaku perempuan. Dia bernama Ijah. Juga sudah menikah. Dia masih merasa sedih karena jum’at kemarin anak pertamanya meninggal disebabkan kekurangan gizi. Padahal baru seminggu dia dilahirkan. Kakak ketigaku juga perempuan. Namanya Iroh. Dia menikah empat bulan lalu. Dan sekarang dia diajak ke kampung sebelah oleh suaminya. Sedangkan aku sendiri adalah anak keempat yang terlahir sebagai anak laki-laki. Aku dianugerahi nama Jumat. Karena aku lahir tepat di hari Jum’at. Tubuhku kecil. Kulitku hitam pekat. Rambut hitam kusam. Banyak tetangga yang menyangka bahwa aku tidak akan mampu hidup lama. Dan kenyataannya, hingga usiaku menginjak tiga belas tahun, aku masih di sini. Masih mampu bernafas dan menemani Ibu yang tak tahu kapan dia akan bahagia.

Malam sunyi. Dingin memaksa masuk ke sendi-sendi. Gelap menjadi teman malam kami. Suara jangkrik menjadi dongeng sebelum tidur. Hanya itu yang mampu malam sediakan untuk aku dan Ibu. Dulu aku selalu bertanya pada ibu perihal bapak. “Bu, bapak ke mana?” Hanya pertanyaan itu yang bisa aku keluarkan. “Bapak lagi cari uang,” Dan hanya jawaban itu yang bisa ibu utarakan ketika aku bertanya. Terakhir kulihat bapak empat bulan lalu ketika Iroh menikah. Itupun hanya sebentar. Dia terpaksa datang sebagai wali Iroh, anaknya. Selanjutnya aku tak tahu di mana dia berada.

****

PRAANNG!! “Jangan hancurkan barang-barangku!” “Apa?? Barang-barangmu? Kamu punya apa? Ini semua adalah hasil jerih payahku,” Pertengkaran terakhir sebelum bapak pergi. Dan malam itu menjadi malam terakhir bapak berada di rumah. Ibu hanya bisa menangis. Tak kuasa membendung air mata yang ingin segera ditumpahkan. Bak bendungan Situ Gintung yang amblas kemarin. Ibu seakan menumpahkan amarahnya dengan air mata.

Air mata yang tak tahu kapan akan habis dan berganti dengan kebahagiaan. Aku berdiri di depan pintu yang terbuka lebar. Kemudian melihat ibu yang duduk di kursi di samping rak piring yang mulai keropos karena hanya terbuat dari kayu. Ibu menatapku. Dan berjalan menuju aku dan mengangkat serta mencium keningku dengan erat. Aku pun ikut tumpah. Larut dalam suasana.

****

Panas terik terasa menusuk. Menambah gersangnya suasana di perkampungan kecil. Perkampungan di pinggiran Bekasi. Kulit seperti berada di perapian yang dipenuhi oleh arang. Meskipun berada di dalam rumah, tetap saja suhu panas yang seakan memuncak menyelinap masuk ke dinding rumah yang rapuh. Seperti halnya orang lain yang memiliki sedikit penghasilan dari hasil panen sebelum kemarau melanda, bapak dengan semangat memanggul satu karung padi untuk dibawa ke mesin penggilingan saat persediaan beras mulai menipis.

Dengan menggunakan motor butut, yang apabila mesin mulai dinyalakan, asap mengepul bak Gunung Merapi mengeluarkan Wedus Gembel menyelimuti halaman rumah. Bapak membawa sekarung padi tadi. Dia simpan di jok belakang. Seperti anak kecil berusia enam tahunan lainnya. Ketika melihat seorang ayah pergi membawa motor. Maka sang anak akan merengek-rengek untuk ikut. Begitu pula aku. Seorang anak kecil berkulit hitam pekat. Rambut hitam kusam.

Perut buncit karena cacingan. Memaksa ikut dengan bapak. Bapak tidak mengindahkan keinginanku. Aku berlari sekencang mungkin mengikuti bapak. Mungkin kuda yang sedang berlari di arena balapan pun akan terkalahkan oleh lariku. Dan kemudian ibuku pun menyusul dari belakang. Di bawah tanjakan belakang rumah, motor tiba-tiba mati. Aku senang. Karena aku mengira bapak mengijinkanku untuk ikut. Namun yang terjadi adalah aku dimarahi bapak habis-habisan karena berisik. Seperti beruang yang dibangunkan dari tidurnya. Maka semua yang ada di sini akan diterkam. Begitu juga dengan ibu yang sedari tadi mengikutiku.

Tamparan di pipi kiri pun tidak terelakkan. Bahkan tidak hanya tamparan, hujatan perkataan pun dia dapatkan. “Kamu tidak becus ngurus anak!” bentak bapak sembari melotot dan tangan menampar pipi kiri ibu. Di waktu yang bersamaan. Aku menangis dengan kencang sambil berdiri di samping motor. Setelah puas menampar dan memarahi ibu. Bapak kembali ke motor dan menyalakan mesin motor bututnya. Sekarang giliran aku yang menjadi pelampiasan bapak. Dengan kencang dada kecilku ditendang. Sampai aku terpental dan punggungku langsung menghantam pohon yang ada di bawah tanjakan tadi. Dengan air mata yang terus mengalir deras, ibu langsung mengangkat dan memeluk erat tubuhku. Hari berganti. Malam sunyi kembali datang. Setelah kejadian siang kemarin karena kekejaman bapak, benar-benar menyimpan lara yang begitu perih.

Entah kapan bisa sembuh dan oleh apa bisa terobati. “Mau ke mana pak malam-malam begini?” Ibu bertanya kepada bapak yang kala itu tengah berdandan rapi. “Tak perlu tau aku mau pergi ke mana! Kamu urus saja anak-anakmu,” Dengan nada sinis bapak menjawab pertanyaan ibu “Apa gak kasihan ke jumat. Setiap malam dia bangun dan menybut nama bapak,” “Aku sudah bilang, kamu urus saja sendiri!” entak bapak lagi seraya melotot di depan cermin yang menempel di lemari butut. “Tapi,” Ibu memotong. “Dasar perempuan bodoh. Goblok. Tolol.

Begitu saja tidak becus!” Bapak memotong pembicaraan ibu sembari berjalan menuju pintu keluar dan pergi dengan motor bututnya. Ibu dengan sabar menutup pintu dengan perasaan yang teriris dan terpancar dari sinar matanya. Mata yang mulai bergaris akibat perasaan yang selalu tersayat. Rasa sakit yang teramat dalam. Ibu merebahkan tubuhnya di sampingku.

****

Hari-hari yang bapak jalani penuh dengan warna hitam. Dan sekarang, tujuh tahun telah berlalu. Kami hidup berdua. Ibu memberikan aku kebahagiaan. Aku memberikan ibu kebahagiaan. Pancaran sinar dari wajah ibu tak mungkin aku hapus. Karena sekarang hanya kebahagiaan yang ibu rasakan. Meskipun dengan kesederhanaan. Ibu mampu membangun ruang untukku. Anaknya. Yang siap untuk menjaganya. Meskipun harus mati. Aku rela. Aku tak mau menghapus sinar di wajah ibu. Terlalu berharga kalau hanya untuk menangisi kepergian ayah. Meskipun baru sekarang aku tahu alasan ayah meninggalkan kami. Sepi dalam hari. Sunyi dalam malam.

****

“Maaf akang telat,” “Pasti ngurusin istrimu yang rewel itu dulu ya!” “Iya, dia minta agar akang tidak ke mana-mana. Karena Jumat selalu menanyakanku kalau bangun tengah malam,” “Alah, alasan dia saja supaya kamu tidak pergi kan!” sergah Titin dengan ketus. “Aku sudah bilang, ceraikan saja istrimu itu. Lalu kita terang-terangan kalau kita mau menikah,” “Tapi itu tidak mungkin,” “Kenapa tidak mungkin? Kamu takut sama istrimu?” “Bukannya begitu, hanya saja akang belum mendapatkan waktu yang tepat,” “Iya, tapi kapan? Dari dulu alasannya selalu itu, sudah bosan aku mendengarnya!” Pembicaraan di malam itu berlanjut pada sebuah lubang kenistaan. Titin adalah seorang istri yang selalu ditinggal pergi oleh suaminya untuk mencari nafkah. Titin adalah seorang tetangga yang dikenal sebagai seorang yang pendiam. Namun bagai menggunting dalam lipatan. Entah sudah berapa lelaki yang dia masukkan ke rumahnya saat suaminya pergi.

 

Tentang Penulis

DOP Rumput

Rukman Syahrudin

Rukman Syahruddin. Lahir di Bekasi, 24 Mei 1989. Sekarang sedang menempuh jenjang S1 di Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung pada jurusan Ilmu Komunikasi Jurnalistik. Lelaki yang sangat suka dengan bidang Videografi ini, memiliki keinginan menjadi seorang cameramen dan anchor TV yang profesional. Selain itu, ia juga sedang mencoba dalam bidang tulis menulis sebagai seorang wartawan di Sakoentala TV.

About diankurniaa

Dian Kurnia. Blogger; Penulis Lepas di koran lokal dan nasional; Mahasiswa Sejarah UIN SGD Bandung.
This entry was posted in Motivasi, Pengalaman, Renungan and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s