Melacak Metode Pembiasan Radikalisme Islam di Rusia

Sejak pengoboman gedung World Trade Center (New York, 11/9 2001), AS berhasil mencitrakan Islam sebagai sumber pemicu terorisme ke segenap masyarakat dunia. Persoalan makin bias ketika setiap hal yang dilakukan umat Islam dalam mereaksi kejahatan rezim di suatu negara, ternyata dianggap terorisme juga. Akibatnya issu yang bersifat lokal bisa berubah menjadi global. Secara kebetulan pula, di sejumlah negara yang lagi bergejolak, umat Islam menjadi dalang perlawanan terhadap rezim yang berkuasa. Tentu saja fakta tersebut kian menguatkan persepsi mereka.

Dimanakah letak dan cara terjadinya pembiasan makna terorisme? Pada akhir tulisan penulis sodorkan potret terorisme di Rusia sebagai bahan renungan Letak Pembiasan Dalam khazanah Islam, tindak kejahatan genosida/kejahatan kemanusian disebut al-Tatharruf al-Islâmî (radikalisme Islam).

Istilah “radikal” paling tidak mengandung 3 makna: (A). Radikal sebagai sesuatu yang berhubungan dengan akar, (B). Radikal menunjuk pada sikap fundamental, (C). Radikal sebagai sesuatu yang bersifat ekstrem. Dalam pengertian yang terakhir inilah radikal diartikan sebagai terorisme. Max Muller membagi agama dalam dua macam karakter, yaitu non missionary relegions (Hindu, Yahudi, Zoroaster) dan missionary relegions (Buddha, Nasrani, Islam). Islam sebagai agama missionary relegions, tentu saja tidak terlepas dari dakwah. Dan dakwah tidak akan pernah hidup, tanpa jihad. Hasan Albana memetakan jihad dalam 5 bentuk; (a). Jihad untuk lebih dekat dengan Allah, (b). Jihad melawan hawa nafsu, (c). Jihad melawan bisikan Syetan, (d). Jihad melawan kemunkaran dengan menggunakan argumen, (e). Jihad melawan kemunkaran dengan al-Qatl (perang). Dan jika kita teliti, lebih 20 istilah “al-Qatl” disebut dalam al-Quran (2:190/193/ 216-217/ 244/ 246/ 279, 3:167, 4:75-77/84/ 91, 8:15-16/39/65, 9:13-14/29/38/39, 22:39, 48:16 dan 49:9). Namun jika diperhatikan seksama, semua ayat yang terkait perintah berperang bersifat defensif.

Istilah defensif mengandung dua makna. Pertama makna positif. Makna ini biasanya dikaitkan dengan kemampuan seseorang dalam mempertahankan dirinya dari serangan orang lain. Kedua makna negatif. Makna ini dikaitkan dengan ekspresi emosional seseorang ketika dirinya mempersepsikan adanya pelecehan dari orang lain. Bentuknya bisa berupa sikap ngeyel (tak mau mengalah) dan mengumpat atau mencaci. Perintah berperang pada ayat-ayat di atas memiliki konteks makna defensif dalam pengertian positif. Hal demikian dapat dibuktikan dengan mengacu pada 2 hal. Pertama, redaksi ayat. Kedua, fakta sejarah yang melatarbelakangi ayat-ayat di atas. Berdasarkan fakta sejarah, dari 31 kali perang yang dipimpin oleh Rasulullah s.a.w tak satupun perang tersebut dipicu/dimulai oleh kaum muslimin. Seluruh peperangan dipicu/dimulai oleh kaum kafirin.

Orang kafirlah yang menyerang kaum muslimin, sehingga timbul perintah dari Allah/Rasulullah untuk balik menyerang. Jika dikemudian hari ayat-ayat di atas dijadikan acuan kaum teroris sebagai pembenaran atas tindakannya, bukan berarti Islam mengajarkan terorisme. Itu murni kesalahpahaman mereka dalam menafsirkan ayat. Begitupun pihak Barat yang selalu menuduh Islam mengajarkan terorisme lantaran ditemukan sejumlah ayat-ayat Quran perintah berperang adalah murni sempitnya wawasan mereka terhadap ilmu-ilmu Islam. Baik teroris maupun Barat sama-sama melakukan penyesatan berpikir.

Metode Pembiasan Timbulnya pencitraan Islam identik dengan teroris tidak terlepas dari penalaran Induksi (pengambilan kesimpulan secara umum dengan berdasarkan pengetahuan yang diperoleh dari fakta-fakta khusus). Misalnya, besi dipanaskan memuai. Baja dipanaskan memuai. Besi dan dan baja adalah logam. Pemanasan besi dan baja sudah cukup untuk menyimpulkan secara umum (generalisasi) bahwa setiap logam pasti jika dipanaskan memuai. Keakuratan penalaran Induksi lalu diterapkan dalam menjelaskan fenomena sosial. Pengebom gedung WTC di New York bernama Sheikh Mohammed dengan alasan jihad. Pengebom di Kuta (Bali) bernama Amrozi juga dengan alasan Jihad. Dan jihad ada dalam ajaran Islam. Kesimpulannya Islam mengajarkan teroris.

Sekalipun dalam banyak kasus pengeboman pelakunya adalah seorang muslim dan dengan alasan jihad, tetap saja generalisasi tersebut menjadi tidak tepat. Bukankah obyektifikasi kebenaran dilandasakan azas korespondensi, yakni adanya kesesuaian antara yang diketahui dengan kenyataan ? Dan berdasarkan fakta lapangan, banyak para ulama yang berpendapat bahwa tindakan kaum teroris tidak dapat dikategorikan jihad. Mereka bukanlah representasi Islam. Dengan demikian penerapan nalar Induksi ke dalam ranah ilmu humaniora menjadi biang keladi timbulnya penyesatan berpikir. Dalam ilmu humaniora, kebenaran bergerak sesuai dengan gerak pengamat dan gerak manusia yang diamati. Sisi-sisi kehidupan manusia tidak dapat dipatok secara aksiomatis sebagaimana dalam ilmu-ilmu alam.

Karakter manusia satu dengan yang lainnya tidaklah sama. Karena itu dalam memotret terorisme di suatu wilayah tertentu, tidak dapat dijadikan landasan men-generalisasi-kan persoalan terorisme di tempat lain. Terorisme di Rusia Pada abad IX, wilayah Kaukasus Utara (Chechnya, Ingushetia, dan Dagestan) yang penduduknya mayoritas muslim, menjadi rebutan dinasti Turki Usmani, Persia, dan Tsar Rusia. Akhirnya wilayah tersebut jatuh ke Tsar Rusia hingga masa Uni Soviet. Dan tatkala Uni Soviet bubar dan berganti nama Rusia (1991), wilayah Kaukasus Utara (khususnya Chechnya) bermaksud memisahkan diri dari Rusia dan memproklamasikan kemerdekaanya pada 1 Nopember 1991.

Bagi Rusia, lepasnya Chechnya bisa berdampak pada munculnya gerakan separatis di Republik-Republik Kaukasus lainnya. Karena itu Rusia mereaksi keras dengan menyerang wilayah Chechnya. Perang sengit terjadi. Chechnya kalah Sejak itu sering timbul beragam bentuk perlawanan kaum muslimin Chechnya terhadap Rusia. Bagi muslim Chechnya, perlawanan terhadap Rusia merupakan jihad. Sedang bagi Rusia sendiri, mereka adalah teroris. Terorisme dimata Rusia adalah gerakan separatisme. Menurut saya, beragam perang yang dilancarkan oleh masyarakat sipil terhadap negara biasanya mengambil dua bentuk: (A). Menghancurkan struktur kenegaraan, (B). Menghancurkan simbol-sombol Kenegaraan.

Perang dalam pengertian pertama ialah terkuasainya lembaga-lemabaga negara oleh gerakan masyarakat sipil. Tumbangnya Thaksin, Soeharto, dan bubarnya kerajaan Nepal tidak terlepas dari hancurnya struktur (lemahnya lembaga negara) oleh tekanan gerakan masyarakat sipil. Jika rezim di suatu negara sangat otoriter, semenatara masyarakat sipilnya lemah maka gerakan perlawanan terhadap negara biasanya mengambil bentuk yang kedua misalnya mengebom pusat-pusat keramaian, membajak pesawat, menyandera anak-anak dan wanita. Mereka sengaja menciptakan situasi teror. Sasaran akhirnya ialah tumbangnya suatu rezim.

Bagi mereka teror merupakan cara efektif melawan rezim yang sangat kuat. Dan gerakan anti pemerintah Rusia oleh komunitas muslim Chechnya, mengambil bentuk model ini. Metode teror yang dilakukan muslim Chechnya terhadap Rusia, mengandung banyak tafsir. Bisa jadi hal itu adalah bagian dari operasi CIA dalam melemahkan eksistensi Rusia. Bukankah Rasullulah s.a.w pernah bersabda “Syetan lebih susah menggoda satu orang berpengetahuan daripada 1000 ahli ibadah”.

Kurangnya wawasan muslim Chechnya dalam beragama adalah senjata ampuh bagi CIA untuk menumpangi aksi mereka. Dan tidak menutup kemungkinan dari para pemuka-pemuka agama yang di Chechnya terdapat orang munafik yang menyamar. Itulah agen CIA. Bagaimanapun juga, Rusia di mata AS adalah satu-satunya negara yang berpotensi bangkit untuk menjadi negara adi daya kembali. Dan itu tidak boleh terjadi. Caranya Rusia harus dilemahkan. Dan aksi terorisme di komunitas muslim Chechnya adalah sarana yang tepat untuk menjalankan misi mereka.

Kusen Al Cepu. Ketua Devisi Intelektual Perhimpunan Mahasiswa Indonesia-Rusia/Kini sedang S-3 Falsafah Agama BELGORAD STATE UNIVERSITY-RUSIA

Sumber: http://www.intelijen.co.id/analisis-dan-kolom/1269-melacak-metode-pembiasan-radikalisme-islam-di-rusia-

About diankurniaa

Dian Kurnia. Blogger; Penulis Lepas di koran lokal dan nasional; Mahasiswa Sejarah UIN SGD Bandung.
This entry was posted in Gerakan, Islam, Sejarah and tagged , , . Bookmark the permalink.

3 Responses to Melacak Metode Pembiasan Radikalisme Islam di Rusia

  1. Abdul Gani says:

    terorisme , siapa diuntungkan dan siapa dirugikan:

    yang dirugikan ialah Negara negara yang bisa di infiltrasi radikalisme mengacaukan Negara tersebut, sehingga rakyatnya kucar kacir,
    persng saudara dikembangkan oleh terorisme.

    diuntungkan ialah Negara radikal Arab Saudi, karena semakin banyak orang naik haji yang membawa duitnya ke Timur Tengah.
    negara Arab jadi raja raja atas rakyat di seluruh Dunia, kekuasaan dunia akan ada di tangan Bangsa Bangsa Arab .

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s