Mempertahankan Identitas Bangsa

Oleh Dian Kurnia

Identitas merupakan tanda pengenal atau ciri khusus seseorang dalam realitas sosial. Dengan memiliki identitas –terlebih identitas yang asli-, seseorang akan lebih mudah dikenal dan dipahami oleh masyarakat sekitar. Hal ini berdampak pada keberhasilan proses internalisasi pendidikan manusia sebagai makhluk sosial.

Pancasila sebagai identitas bangsa Indonesia yang dirumuskan oleh panitia PPKI tanggal 18 Agustus 1945 atas dasar kemajemukan (plural) ras dan golongan, merupakan satu aturan pokok yang secara khusus dan komprehensif mengatur berbagai macam urusan yang menyangkut moral publik (public morality). Keberagaman masyarakat Indonesia yang merupakan formalistis dari sikap kebhinekaan, menjadi sebuah kekuatan tersendiri masyarakat ketika pihak kolonial Belanda membumi hanguskan wilayah dan masyarakat Indonesia dengan praktek imperialismenya.

Berbagai bentuk serangan kolonial baik materi maupun non-materi, secara tidak disadari telah menjadikan masyarakat Indonesia sebagai masyarakat yang kuat, dengan memporsikan identitas bersama yakni kebersamaan sebagai bentuk kekuatan bersama bangsa untuk melawan kolonialisme. Hemat saya, inilah hal yang harus kita pahami secara mendalam di era globalisasi yang sarat akan penjajahan gaya baru (neo kolonialsme) dengan teknologi sebagai amunisinya. Selain itu, pemahaman identitas bangsa harus digulirkan kedalam sistem pendidikan nasional dengan merevitalisasi aspek-aspek krusial dalam konsep Pancasila.

Pancasila sebagai indentitas bangsa Indonesia yang berfungsi mengatur beragam tradisi politik, memerlukan pemahaman kontekstual yang komprehensif. Sikap kerukunan dan gotong royong dalam konsep Pancasila harus direvitalisasi sebagaimana mestinya. Tujuan utama adalah agar terjadinya pemahaman yang proporsional dari segenap lapisan bangsa akan pentingnya memahami identitas bangsa. Sebagaimana telah disampaikan oleh mantan presiden ke-2 RI,  alm. Soeharto dalam pidato kenegaraannya tanggal 16 Agustus 1975, “…saya mengajak masyarakat luas … untuk memikirkan dan mengusahakan rumusan-rumusan penjabaran Pancasila itu yang sederhana dan mudah dimengerti sehinga mudah juga untuk dihayati dan diamalkan oleh segenap rakyat Indonesia.”

***

Baru-baru ini Yudi Latif, Direktur Reform Institute meluncurkan sebuah buku yang mengupas tuntas tentang Pancasila sebagai identitas bangsa Indonesia. Peneliti sekaligus pengamat politik lulusan Australian Nation University (ANU) ini juga mengupas tuntas identitas bangsa Indonesia dalam konteks Pancasila sebagai upaya dalam membangun bangsa yang berkesejahteraan dan berwawasan global.

Menurut penuturan beliau, suatu bangsa bisa dikatakan maju tidak hanya ditentukan oleh faktor teknis semata, seperti seberapa banyak lulusan sarjana, seberapa banyak kita punya sumber daya alam, seberapa sering pemilu, seberapa banyak anggota parlemen, dlsb. Kemajuan suatu bangsa ditentukan juga oleh kemampuan dirinya dalam mengenal identitas atau jati diri secara komprehensif. Logikanya, kalau kita tidak kenal diri kita sendiri, tidak bisa memahami siapa diri kita, tentu saja kita juga tidak akan bisa memahami apa maunya kita kan?

Oleh karena itu, modal awal dalam membangun bangsa dan Negara Indonesia adalah dengan memahami jati diri bangsa terlebih dahulu melalui pendidikan karakter. Hal ini menjadi sebuah solusi  praktis dan logis untuk lebih mengedepankan pemahaman terhadap identitas bangsa, yakni Pancasila.

Permasalahan yang terus menerus menerjang bangsa kita pasca tumbangnya rezim Orba atau era reformasi, dan juga ketidakjelasan visi-misi kita ke depan itu menurut beliau disebabkan oleh ketidakmampuan diri kita mendefinisikan siapa  bangsa Indonesia itu. Hal ini menyangkut indetitas bangsa yang kita gunakan, yakni Pancasila. Menjernihkan posisi Pancasila sebagai dasar Negara adalah meluruskan pemahaman kita bahwa Pancasila bukanlah sebuah ideologi seperti agama. Pancasila hanya mengurus permasalahan moral publik. Artinya, Pancasila hanya mengurusi pergaulan lintas komunitas, tidak mengurusi dan juga mencampuri moral pribadi, tidak juga mencampuri keyakinan pribadi, berapa kali kamu shalat, berapa kali ke gereja. Tegasnya, kita jangan mengagamakan Pancasila, dan jangan mempancasilakan agama.

Sejatinya, dalam memahami identitas bangsa (baca: Pancasila), kita harus segera mengambil peran yang proporsional dan profesional. Dalam hal ini Yudi Latif menegaskan bahwa dirinya bukanlah pengusaha yang bisa memberikan banyak uang, bukan politisi yang bisa mengambil kebijakan. “Saya hanya seorang ilmuwan yang bisanya melahirkan buku-buku meski dengan berdarah-darah,” tegasnya.

Selanjutnya, Yudi Latif menyatakan bahwa pemahaman rakyat akan nilai-nilai moral Pancasila bisa diukir apabila para penyelenggara konstitusi yang terdiri dari anggota parlemen, birokrat parpol, dan pejabat Negara lainya memprakarsai pemahaman ini terlebih dahulu. Sebelum mempancasilakan rakyat hal ini harus sudah menjadi agenda penting petinggi Negara. Namun, realita saat ini jauh dari harapan mulia para pendiri bangsa. Banyak ketimpangan dan kemerosotan moral dan nilai dari semangat Pancasila yang masih banyak dianut oleh petinggi Negara.

Solusinya adalah dengan membatasi seberapa kali orang bisa duduk di DPR. Hal ini bertujuan dalam proses regenerasi yang akan cepat tercapai. Kekuasaan murni dalam entitas Negara Indonesia masih kontras terlihat. Realitas ini kurang berefek positif bagi kelangsungan kehidupan bangsa dan Negara Indonesia di masa depan. []

About diankurniaa

Dian Kurnia. Blogger; Penulis Lepas di koran lokal dan nasional; Mahasiswa Sejarah UIN SGD Bandung.
This entry was posted in Gerakan, Sejarah and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s