Kepurbakalaan Islam di Indonesia

Oleh Prof. Dr. Hasan Muarif Ambary (alm)

Peninggalan purbakala tidak dapat dilepaskan kaitannya dengan sejarah, karena peninggalan purbakala merupakan saksi hidup jalannya sejarah kita. Kalau kita memperhatikan periode sejarah Indonesia dilihat dari segi peninggalannya, maka periode sejarah Indonesia digolongkan kedalam tiga periode, yaitu peninggalan masa pra-sejarah, peninggalam masa Hindu-Budha, dan peninggalan masa Islam. Peninggalan masa pra-sejarah berupa benda-benda peniggalan dan belum mengenal sumber tertulis . sedangkan, peninggalan masa Hindu-Budha dan masa Islam selain berupa benda dan bangunan juga adanya sumber-sumber tertulis.

Yang dimaksud dengan peninggalan kepurbakalaan Islam ialah segala hasil kegiatan manusia Indonesia yang bernilai sejarah dari masa kerajaan-kerajaan Indonesia bercorak Islam. Peninggalan purbakala dari masa Islam dapat berupa masjid-masjid kuno, keratin-keraton (istana, benteng, makam raja, dan makam bersejarah lainnya, taman sari dan sejumlah benda bersejarah lainnya seperti senjata, ukiran kereta, dlsb).

Kalau kita melihat keadaan geografi Indonesia, maka tanah air kita yang berpulau-pulau yang jumlahnya mencapai puluhan ribu ini menyebabkan daerah pantai atau pesisir telah memegang cukup penting dibidang perdagangan dan kekuasaan politik. Melihat kenyataan bahwa sejak berdirinya kerajaan Islam yang pertama di Indonesia baik yang terletak di Sumatera, Jawa, Sulawesi, Kalimantan dan Maluku maka akan menjadi kenyataan bahwa daerah pesisirlah yang menjadi pusat kerajaan-kerajaan Islam.

Tentu saja ada beberapa kekecualian dimana ada beberapa kerajaan Islam yang berpusat di pedalaman seperti kerajaan Islam Mataram yang dulu berpusatt di sekitar Surakarta dan Jogjakarta. Serta kerajaan-Pajang yang berpusat di sekitar Prambanan.

Kedatangan Islam di Indonesia tidaklah bersamaan dengan kerajaan-kerajaan atau daerah-daerah yang didatanginya memiliki situasi politik dan social budaya yang berbeda-beda pula.

Sebenarnya, tanah air kita sudah didatangi oleh kelompok Muslim sejak abad 7-8 masehi yaitu ketika pedagang-pedagang muslim yang berasal dari Arab, Persia, dan Gujarat mulai berdagang di perairan Indonesia. Waktu itu keadaan politik kita masih dalam kekuasaan kerajaan Sriwijaya yang menguasai semenanjung Malaka.

Menurut sumber Tiongkok yang berasal dari Dinasti Tang disebutkan bahwa abad 7 M sudah ada kelompok muslim yang bermukim di Kanton, abad 9 M sudah ada kelompok muslim yang bermukim di Sriwijaya (Sumatera). Peninggalan purbakala yang berupa sebuah batu nisan (makam) dari seorang muslim dan ternyata kita dapatkan di daerah Gresik yaitu makam seorang muslimah yang bernama FATIMAH binti MAIMUN di Leran, Gresik, wafat tahun 475 H (1082 M).

Dengan ini kita dapat menarik kesimpulan bahwa kelompok masyarakat muslim rupanya sudah bermukim di pesisir Jawa Timur khususnya Gresik sejak abad ke-12 M. bukti yang tidak dapat dibantah lagi hanya kerajaan Islam yang pertama di Indonesia ialah dengan sebuah batu nisan (makam) seorang raja beragama Islam yang menjadi raja yang pertama kerajaan Samudera Pasai yaitu Malik al-Saleh yang wafat pada tahun 1297 M dan kuburannya ada di Kampung Samudea, kabupaten Aceh Utara.

Salah satu peninggalan purbakala yang penting khususnya untuk kepurbakalaan Islam ialah makam-makam yang bertuliskan huruf Arab yang memuat angka tahun wafatnnya seperti yang dibuktikan oleh Fatimah binti Maimun dan Malik al-Saleh. Namun, selain itu pada umumnya banyak makam raja-raja Islam di Indonesia itu batu nisannya tidak memuat angka tahun seperti makam raja-raja Islam di wilayah Demak, Cirebon, Mataram (Yogyakarta). Walaupun demikian, tidak sukar untuk menentukan makam siapa yang dikuburkan disana karena tradisi dari kerajaan setempat dan sumber-sumber lain seperti kitab-kitab berupa babad telah banyak menyebutkan tokoh-tokoh ini.

Peninggalan purbakala lainnya dari masa Islam yang menarik perhatian adalah masjid-masjid kuno. Pada umumnya masjid-masjid kuno di Indonesia memiliki cirri khusus yang berbeda dengan masjid-masjid modern yang banyak kita jumpai di kota-kota besar. Bentuknya agak spesifik yaitu atapnya bertingkat-tingkat seperti limas       yang bertingkat tiga, empat, dan lima. Masjid semacam ini tidak hanya didapatkan di daerah Jawa saja, tetapi ada juga di Aceh, Maluku, dlsb.

Selain itu juga ada masjid kuno yang mendapat pengaruh arsitektur negeri lain seperti Timur Tengah dan India misalnya masjid Baitturahman di Banda Aceh yang dibangun pada masa Sultan Iskandar Muda (1606-1637 M) dan masjid Jamie Deli di Medan yang memiliki arsitektur Moghul (India).

Di dalam seni hias dan seni ukir bangunan-bangunan dari kerajaan Islam juga telah memiliki pola ukir dan pola hias yang sangat menarik perhatian. Pola ukir dan pola hias itu kadang-kadang masih menunjukkan persamaannya dengan masa Hindu dan tradisinya masih diteruskan seperti Gapura-gapura dan benteng-benteng yang bentuknya seperti gapura Majapahit yang dapat kita jumpai pada keratin dan masjid di Cirebon, Demak, Kudus, Banten dan Gresik. Hal ini menunjukan walaupun  mereka telah menganut agama Islam tetapi tradisi seni dari masa sebelumnya masih tetap diteruskan.

Pada masa Indonesia yang sudah bercorak Islam ini suatu seni baru telah berkembang yakni kaligrafi, yaitu suatu seni dalam menyusun huruf-huruf Arab baik yang berasal dari ayat suci Al-Qur’an, hadits, maupun syair yang disusun dengan indahnya dan diukirkan pada masjid keratin dinding, dlsb. Bahkan di keratin-keraton, kaligrafi ini dikembangkan dalam bentuk ukiran kayu dengan huruf-huruf Arab tapi kemudian bentuknya menggambarkan makhluk tertentu.

Benda-benda purbakala  lainnya dari masa peninggalan Islam masih banyak dan kini masih disimpan dan dihormati oleh pemiliknya khususnya yang ada di keratin. Tradisi yang disebut dengan grebeg, panjang jimat yang ada di keratin Solo, Yogyakarta, Cirebon, intinya ialah perayaan untuk memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW. Tetapi pada acara tersebut juga sekaligus untuk mengeluarkan setahun sekali benda-benda pusat keratin.

Benda-benda lainnya, seperti kereta kerajaan, gamelan kuno, baju-baju perang, senjata-senjata merupakan salah satu bukti kekayaan benda budaya dari masa kerajaan Indonesia yang bercorak Islam. Di museum kita ini juga khususnya pada bagian koleksi benda-benda etnografi banyak sekali benda-benda budaya dari masa Indonesia bercorak Islam seperti ukiran kayu untuk pintu, dinding, dlsb.

Pola masjid kuno belum lagi koleksi benda emas yang hamper sebagian besar adalah warisan bekas kerajaan Islam. Bahkan ketika  team ahli purbakala pada pertengahan Januari 1976 ini telah mengadakan penggalian di bekas keratin (Istana) Aceh telah menemukan peti kubur dari kayu yang berlapis emas yang terpendam dalam tanah yang diduga merupakan peti kubur raja Iskandar Muda (1637-1641) dari masa kerajaan Aceh Darussalam.

Pada saat ini oleh pemerintah melalui Depdikbud sedang giat dilaksanakan penyelamatan dan pemeliharaan serta penggalian warisan budaya kita yang tidak ternilai harganya. Pemugaran-pemugaran bangunan keratin seperti dilaksanakan di Solo, Yogyakarta, Cirebon, dan penggalian kepurbakalaan seperti di Aceh, Demak, Kudus, Banten tidak lain sebagai satu usaha memelihara, menyelamatkan dan menggali kembali kekayaan budaya kita. Kita harus sadar bahwa bangsa Indonesia yang tersebar diperbagai pulau ini memiliki kekayaan budaya yang sangat tinggi dan tidak ternilai dan menjadi kewajiban pula untuk memelihara dan menyelamatkannnya.***

Wallahu’alam

CERAMAH : “PENELITIAN ARKEOLOGI ISLAM DI INDONESIA”, DI MUSEUM PUSAT DIT. MUSEUM DITJEN. KEBUDAYAAN DEPT. P & K JALAN MERDEKA BARAT NO. 12 JAKARTA TAHUN 1967

About diankurniaa

Dian Kurnia. Blogger; Penulis Lepas di koran lokal dan nasional; Mahasiswa Sejarah UIN SGD Bandung.
This entry was posted in Arkeologi, Sejarah and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s