Refleksi Gerakan ’98

Oleh Dian Kurnia

Tiga belas tahun berlalu sudah ketika presiden Soeharto (alm) menyerahkan tampu kekuasaan rezim Orde Baru yang otoriter secara terpaksa kepada BJ. Habiebie selaku wakil presiden. Prosesi penyerahan kekuasaan berlangsung dramatis, ditonton oleh seluruh rakyat Indonesia penuh antusias. Momen penting ini merupakan saat-saat yang paling ditunggu dan dinantikan oleh seluruh masyarakat Indonesia yang sudah 32 tahun hidup dalam kungkungan kekerasan formal pemerintahan Orde Baru.

Berbagai elemen masyarakat dan gabungan mahasiswa seluruh Indonesia mengangkat satu suara dan turun ke jalan, mereka meneriakkan “Turunkan Soeharto!!!” Jargon ini menjadi bahan peledak yang mengompori para demonstran yang mengutuk kepemimpinan otoriter Orba yang sarat dengan praktek KKN. Sebagai pucuk pimpinan Orde Baru, selama 32 tahun lamanya Soeharto telah banyak dikenal oleh masyarakat luas.  Terlebih ketika ia berhasil dalam operasi penumpasan gerakan komunis (G 30 S/PKI 1965) yang telah membantai tujuh jenderal AD di Lubang Buaya, Kalibata, Jakarta. Agenda pembangunan nasional yang terakumulasi dalam program Repelita (Rencana Pembangunan Lima Tahunan) pada tahap awal disambut optimis oleh segenap rakyat Indonesia. Mereka yakin akan adanya perubahan dan tegaknya kesejahteraan. Namun, beberapa tahun selanjutnya muncul kecurigaan di kalangan rakyat sipil, program Repelita yang terus bergulir dalam jangka lima tahun sekali disinyalir hanya sebagai alat pelengkap keabadian kekuasaan Soeharto. Repelita pun bertahan hanya sampai beberapa periode.

Akhirnya reformasi juga

Era reformasi yang di awali pada bulan Mei 1998, menjadi babak baru dalam pergumulan kehidupan masyarakat Indonesia. Menyongsong kehidupan yang lebih baik dari sebelumnya. Menjadi mimpi baru bagi rakyat tentang keadilan dan kesejahteraan sosial. Mei 1998 merupakan saksi sejarah yang tidak akan pernah terlupakan oleh masyarakat Indonesia. Perjuangan dan pengorbanan membela kepentingan umum (masyarakat) demi sebuah keadilan yang dicita-citakan, sudah selayaknya mendapatkan hasil yang signifikan. Orde Baru runtuh, Soeharto mangkir dari jabatan kepresidenan. BJ Habiebie selaku wakil presiden, secara otomatis langsung memegang kendali pemerintahan RI setelah dilantik dan disyahkan oleh MPR RI.

Moncong reformasi mengeluarkan debit aspirasi yang begitu banyak. Kebebasan sebagai aspek utama dalam negara demokrasi telah terbuka lebar selebar-lebarnya. Kebebasan menyatakan pendapat tak lagi dilarang oleh tiran. Kebebasan mendirikan partai politik sebagai ciri negara demokrasi, seakan telah menjadi jamur di musim hujan. Sisi negatif dan positif dari kelahiran reformasi terbalut dalam entitas Indonesia berparlemen.

Reformasi memiliki makna kongkrit terjadinya perubahan mendasar dalam segala aspek kehidupan berbangsa dan bernegara. Perubahan kepemimpinan dari otoriter menjadi bijaksana, perubahan dari sikap refresif menjadi mengayomi, kebijakan publik menjadi agenda utama pihak pemerintah yang dilakukan secara proporsional dan profesional, pembenahan sistem birokrasi secara komprehensif dari unsur KKN, meminimalisir segala bentuk tindak radikalisme masyarakat dengan memberikan pemahaman tentang pentingnya memiliki jiwa nasionalisme dan patriotisme dalam membangun keadilan yang dicita-citakan, serta agenda perubahan lainnya.

Pembiasan tujuan reformasi

Gerakan tuntutan perubahan yang digencarkan oleh masyarakat Indonesia pada Mei 1998  telah berhasil menumbangkan rezim otoriter dan mengubah sistem sosial secara radikal. Reformasi telah bergulir 13 tahun lamanya. Waktu yang cukup lama untuk bisa merasakan dampak dari lahirnya era reformasi. Cita-cita sosial harus sudah terpenuhi dan terasa oleh sebagian masyarakat -terlebih semua masyarakat-. Namun, kenyataan memang tidak selamanya sesuai dengan harapan. Ironis memang, jika kita harus melihat kenyataan yang sesungguhnya. Ketidakadilan semakin menjadi-jadi, kerusuhan horizontal semakin meletus bak gunung berapi, kemiskinan masih mengambang bagai buih di lautan yang tak bisa berlabuh ke pantai, moral bejat para pejabat semakin kontras terlihat jelas menembus kokohnya dinding gedung DPR (yang katanya kurang nyaman dipakai ruang kerja), pencurian uang berkedok reses telah menjadi agenda pelesiran sebagian anggota dewan. Berbagai penyimpangan yang terjadi di negeri ini -dalam istilah saya sebagai pembiasan tujuan reformasi-, terjadi karena adanya sampah yang menghambat  corong reformasi itu sendiri. Terjadilah sumbatan dalam merealisasikan tujuan reformasi, perubahan. Kontras memandang era reformasi sebagai era perubahan memang sudah selayaknya memporsikan elemen bangsa sesuai status dan perannya masing-masing. Pembangunan kearah perubahan menjadi nihil untuk dilakukan ketika status dan peran terdistorsi oleh kepentingan pribadi dan golongan.

Pembiasan tujuan ini lebih banyak dilakukan karena kurangnya pendidikan watak masyarakat untuk lebih peduli lingkungan ketimbang diri sendiri.

Kesadaran menjadi kunci dalam memaknai reformasi

Memaknai reformasi bukan hanya sebatas merenungkan dan memikirkan bagaimana mendapatkan hasil dari perubahan itu. Reformasi harus dimaknai secara penuh dan mendalam oleh setiap masyarakat dengan cara bergerak secara nyata. Perubahan tidak akan pernah tercapai ketika kita tidak mau belajar untuk berubah. Bagaimana caranya? Terlebih dahulu, lakukanlah pada diri sendiri dengan mengubah sikap kita dari keburukan menjadi kebaikan. Karena barangsiapa menanam pasti ia akan menuai. Sama halnya ketika kita menanamkan perilaku baik dalam diri, maka sejatinya suatu saat kelak kita juga yang akan menanam kebaikan itu.

Indonesia menjadi konteks kebangsaan yang plural. Kebudayaan, ekonomi, religi, dan politik, menjadi satu dalam balutan Indonesia. Semuanya berimplikasi terhadap realita. Misalnya, budaya feodalisme yang masuk ke Indonesia melalui jalan globalisasi dengan ciri pasar bebasnya, telah menjadikan masyarakat sebagai agen sosial berjalan sendiri-sendiri, mengesampingkan kondisi sosial lainnya. Orang kaya menindas orang miskin. Mempekerjakan manusia diluar batas kemanusiaan. Mereka semakin kaya dan yang miskin semakin terpuruk dalam jurang kemiskinannya. Maka wajar saja jika muncul tindak kriminal di kalangan masyarakat kecil. Alasannya adalah materi yang tidak tercukupi. realitas menuntut mereka untuk tetap hidup, tetapi tidak ada solusi yang mereka miliki selain mencuri dan melakukan tindak pemerasan. Pembiasan tujuan reformasi yang dilatarbelakangi oleh realita ini, seharusnya mendorong kita -khususnya para pejabat- untuk lebih arif dan bijaksana, harus lebih serius memperjuangkan keadilan dan hak-hak warga sipil. Harus bisa memilih dan memilah agenda kerja yang dirasa efektif untuk kesejahteraan rakyat. Bangsa ini akan terus menerus berada dalam jurang kenistaan, akan banyak bencana alam, banyak kejahatan, dan akhirnya Tuhanpun membinasakan kita dalam kebodohan (naudzubillahi min dzalik) jika para pemimpin masih menjajah rakyat dan mengebiri hak-haknya secara sistematis.

Kalau realitas seperti ini masih saja terjadi, maka tidak ada bedanya dengan zaman Orde Baru dulu. Mungkin yang membedakan hanya caranya saja. Saat ini penjajahan atas hak–hak sipil dilakukan secara sistematis dan halus. Sehingga banyak rakyat yang tertipu dan menjadi korban karena ketidaktahuan mereka. Sejatinya ini adalah pembodohan publik. Harus ada kesadaran dalam diri masyarakat untuk bangkit dan bergerak melawan hal itu. Caranya adalah, meningkatkan kualitas diri dengan memperdalam pendidikan (ilmu), memporsikan diri sebagai agen perubahan sosial, serta harus memiliki kesadaran untuk tidak pernah tergiur dengan materi yang sedikit, karena itu semua hanya akan membinasakan dan menyengsarakan kita semua.***

Wallahu’alam

About diankurniaa

Dian Kurnia. Blogger; Penulis Lepas di koran lokal dan nasional; Mahasiswa Sejarah UIN SGD Bandung.
This entry was posted in Gerakan, Politik, Sejarah and tagged , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s