Hadirnya Islam di Nusantara dalam Persfektif Arkeologis

Oleh Dian Kurnia

Ajaran agama Islam (samawi) yang disebarluaskan oleh Nabi Muhammad Saw beserta para sahabat ke luar wilayah jazirah Arab, telah memberikan sebuah jalan terang bagi masyarakat dunia yang pada waktu itu berada dalam kungkungan kegelapan perilaku, akhlak, pemikiran, dan juga kebiasaan (budaya). Masyarakat dunia Arab yang mengalami penjajahan atas akal dan nurani mereka, lambat laun terbebas karena hadirnya Islam. Ajaran Islam menawarkan poin-poin kemaslahatan bagi kehidupan umat. Islam hadir sebagai jalan keluar bagi masyarakat Arab jahiliyah menuju cahaya kebenaran.

Sebagai sebuah agama yang menjungjung tinggi nilai transformatif (baca: perubahan), ajaran agama Islam menawarkan berbagai solusi dalam kehidupan bermasyarakat. Sejak kehadiran Islam di Mekah dan Madinah, telah terjadi arus transformasi yang cukup, dan bahkan, sangat radikal dalam aspek pemikiran individu khususnya dalam hal teologi atau ketuhanan. Selanjutnya, berbagai tinggalan budaya Islam yang diwariskan oleh para sahabat dan salafus salih lainnya kepada umat di masa sekarang, telah menjadi satu khazanah tersendiri bagi budaya Islam. Islam menghiasi peradaban umat manusia dalam dinamika sejarah.

Terkait dengan hal ini, proses islamisasi di Nusantara telah dibuktikan dengan tinggalan kebendaan (arkeologis) yang berupa artefak, nisan makam, guci, gelas, masjid, menara, pelabuhan, kerajaan, dll. Hal ini memperkuat tentang adanya Islamisasi di Nusantara yang dibawa oleh beberapa tokoh pedagang dari belahan dunia lain khsusunya wilayah Arab sebagai pusat lahirnya agama Islam. Bukti tersebut menjadi sebuah kekayaan tersendiri bagi masyarakat yang telah diIslamkan oleh para pembawa ajaran Islam.

Dalam tulisan kali ini, saya akan mengemukakan beberapa bukti arkeologis terkait dengan proses penyebaran Islam di Nusantara dalam aspek bukti benda. Tema tulisan ini adalah religi atau keagamaan. Adapun yang menjadi judul tulisan kali ini ialah “Bukti Arkeologis Proses Penyebaran Islam di Nusantara”

Hadirnya Islam di Nusantara (Islamisasi dalam Teori)

Sampai saat ini, waktu kedatangan Islam di Nusantara belum diketahui secara pasti, hal ini terkait dengan dokumen tentang proses Islamisasi itu sendiri[1]. Tidak banyak para pedagang yang melancong ke wilayah Nusantara dengan meninggalkan bukti tertulis dan material tentang perjalanan spiritualnya[2]. Di samping wilayah Nusantara yang sangat luas, dengan banyak daerah perdagangan yang memungkinkan terjadinya kontak dengan orang asing, mengakibatkan suatu daerah mungkin lebih awal menerima pengaruh Islam daripada daerah lain.

Oleh karena itu, sulit untuk mengatakan secara pasti kapan agama Islam masuk di Nusantara secara keseluruhan. Dengan demikian rangkaian berbagai macam data, baik arkeologis maupun data lain berperan menunjukkan keberadaan orang Islam di daerah bersangkutan.

Ada beberapa teori yang menyatakan secara general tentang datangnya Islam di Nusantara serta kaitannya dengan proses Islamisasi masyarakat Nusantara oleh mereka. Beberapa ahli menyebutkan bahwa berdasarkan berita Cina dari dinasti T’ang, Islam sudah mulai diperkenalkan kepada masyarakat Indonesia pada abad 7-8 M. Berita tersebut menceritakan bahwa orang Ta-shih mengurungkan niatnya untuk menyerang kerajaan Ho-ling[3] yang dipimpin Ratu Si-mo, karena pemerintahan di Ho-ling sangat kuat. Groeneveldt mengidentifikasikan Ta-shih sebagai orang-orang Arab, dan Ho-ling diidentifikasikan sebagai Kalingga, serta Si-mo sebagai Sima. Akan tetapi, berita tersebut belum dapat dibuktikan secara arkeologis, yakni dari sudut peninggalan budaya material. Dengan kata lain, belum ditemukan bukti-bukti artefaktual tentang keberadaan orang-orang Islam di Indonesia pada abad 7-8 M.

Berbicara mengenai masuknya Islam di Nusantara, selain menyangkut waktu dan cara, juga tidak lepas dari pembawanya dalam tahap pertama. Dalam hal ini yang dimaksud adalah etnik pembawa Islam dari luar Nusantara. Sebab meskipun agama Islam diturunkan di jazirah Arab, tetapi penyebarannya ke Nusantara diduga tidak sepenuhnya dan tidak langsung dilakukan oleh etnik Arab. Etnik lain juga berperan dalam hal itu, misalnya: Persia, India, bahkan mungkin juga Cina (dalam teori Indo-Cina). Interpretasi tersebut didasarkan antara lain pada data berikut:

  1. Adanya beberapa nisan kubur yang didatangkan dari Gujarat (pantai barat India). Ini adalah data dalam aspek arkeologis.
  2. Adanya episode yang mengisahkan peranan orang Arab dan India dalam menyebarkan agama Islam di Nusantara, antara lain dalam Hikayat Raja-Raja Pasai, Sejarah Melayu, Babad Tanah Jawi. Ini adalah aspek arkeologi sejarah.
  3. Berita yang ditulis Ma-huan (sekretaris Laksamana Cheng-ho yang berkunjung ke Majapahit pada tahun 1415) tentang keberadaan etnik Cina yang beragama Islam di Jawa. Ini adalah aspek arkeologi sejarah.

[1] Sejarawan Anhar Gonggong mengakui hingga saat ini belum ada kesepakatan bersama mengenai kapan masuknya Islam ke wilayah Indonesia. “Sejak 1961 perbedaan tersebut sudah muncul. Ada yang berpatokan pada abad ke-7, ke-8 atau ke-13 dan ke-14. Masing-masing teori memiliki penjelasan khusus tersendiri yang diakui kebenarannya. Bahkan, almarhum Buya Hamka meyakini Islam sudah masuk ke Indonesia sejak abad pertama Hijriah atau abad.ke-7 Masehi,” ujarnya.

Perbedaan pendapat tersebut, menurut Anhar, sangat wajar. Mengingat, ajaran Islam masuk dan diterima oleh masyarakat di wilayah nusantara melalui proses bertahap. Adanya proses yang bertahap ini, ungkapnya, didasarkan pada bukti-bukti fisik yang ditemukan oleh para ahli arkeologi.

[2] Hasan Muarif Ambary menyatakan, sekitar abad pertama tahun Hijriah atau abad ke-7 M, meskipun dalam frekuensi yang tidak terlalu besar, kawasan Asia Tenggara mulai berkenalan dengan tradisi Islam. Hal ini terjadi ketika para pedagang Muslim, yang berlayar.di kawasan ini, singgah untuk beberapa waktu. Pengenalan Islam lebih intensif, khususnya di Semenanjung Melayu dan nusantara, berlangsung beberapa abad kemudian. Dan, sejak saat itulah peradaban Islam mulai dikenal dan berkembang luas di wilayah nusantara.

[3] Kalingga adalah sebuah kerajaan bercorak Hindu di Jawa Tengah. Letak pusat kerajaan ini belumlah jelas, kemungkinan berada di suatu tempat antara Kabupaten Pekalongan dan Kabupaten Jepara sekarang. Kalingga telah ada pada abad ke-6 Masehi dan keberadaannya diketahui dari sumber-sumber Tiongkok. Kerajaan ini pernah diperintah oleh Ratu Shima, yang dikenal memiliki peraturan barang siapa yang mencuri, akan dipotong tangannya.

***

Gambaran Umum Tentang Hadirnya Islam di Nusantara dalam Kacamata Arkeologis

Dalam penjelasan lain disebutkan bahwa bukti arkeologis menunjukkan bahwa pada akhir abad 11 M di Indonesia, khususnya di daerah Jawa, sudah ada penganut Islam yang bermukim di kota pelabuhan. Bukti arkeologis itu berupa batu nisan bertulis dari pemakaman kuno di Leran, di dekat kota Gresik (Jawa Timur). Pada batu nisan itu tertulis nama Fatimah binti Maimun bin Hibatallah, dengan angka tahun 475 H  bersamaan dengan tahun 1082 M. Artinya masih dalam periode kekuasaan kerajaan Kadiri[1]. Jika dilihat dari namanya tampak bahwa dua generasi di atas Fatimah (ayah dan kakeknya, yakni Maimun dan Hibatallah) sudah memeluk agama Islam. Namun, tidak jelas betul apakah mereka warga lokal yang memeluk agama Islam, ataukah pendatang yang menetap di pelabuhan terdekat lalu meninggal dan dimakamkan di sana.

Dari sisi lain, nama Fatimah tidak diawali oleh gelar apapun seperti gelar-gelar kebangsawanan lokal. Tidak seperti nama Malik al-Saleh dari Samudra-Pasai yang diawali dengan gelar al-sultan. Dengan demikian berarti Fatimah adalah seorang muslimat dari kalangan rakyat biasa. Hal ini dapat difahami karena waktu itu pusat kekuasaan yang bercorak Hindu masih solid di kerajaan Kadiri.

Munculnya bukti material tentang keberadaan Islam di Nusantara adalah dengan diketemukannya batu nisan berhuruf Arab di kompleks makam Tuan Makhdum di daerah Barus (pantai barat Sumatra Utara). Prasasti ini memuat nama Siti Tuhar Amisuri, dan tahun meninggalnya yaitu 602 H atau abad 13 M yang bersamaan dengan tahun 1205 M. Ditilik dari namanya, diduga ia adalah seorang wanita bumiputra yang memeluk agama Islam. Sama halnya dengan Fatimah binti Maimun, ia juga diduga sebagai seorang anggota masyarakat biasa, karena namanya tidak diawali oleh gelar atau sebutan kebangsawanan. Akan tetapi, sangat mungkin pada waktu itu di wilayah Barus memang belum terbentuk institusi politik atau kerajaan yang bercorak Islam. Meskipun Barus sebagai produsen kapur barus sudah dikenal dunia internasional jauh sebelum tarikh Masehi.

“Ada beberapa versi yang berkembang hingga kini. Ada teori yang berpendapat bahwa Islam itu sudah masuk ke Indonesia sejak abad ke-7 Masehi. Tetapi, ada juga yang menyebutkan di abad ke- 8, abad ke-13, dan abad ke-14,” kata guru besar ilmu sejarah Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, Prof Susanto Zuhdi, kepada Republika. Kesemua teori itu, menurutnya, masih harus didukung dengan bukti-bukti fisik, seperti batu prasasti ataupun batu nisan. Bukti-bukti fisik ini, diakuinya, memang masih minim dan hampir jarang ditemukan dan dipublikasi secara global.

Seperti yang sudah dijelaskan diatas, salah satu bukti fisik yang menunjukkan kapan Islam masuk ke wilayah Indonesia adalah sebuah batu nisan yang bertuliskan nama Fatimah binti Maimun binti bin Hibatullah yang wafat pada 475 H/1082 M yang ditemukan di Leran, Gresik. Makam tersebut terdapat di kelompok makam di Leran, bersama-sama dengan beberapa makam yang tidak berang-ka tahun. Jenis nisan pada makam-makam tersebut seperti yang ditemukan di Campa, berisi tulisan yang berupa doa-doa kepada Allah. “Tapi, temuan harta karun Kerajaan Tiongkok dan Kerajaan Persia dari bangkai kapal karam berusia seribu tahun di perairan Cirebon baru-baru ini menunjukkan bahwa Islam sudah ada di Indonesia sejak abad ke-9,” tambahnya.


[1] Kerajaan Kadiri atau Kerajaan Panjalu, adalah sebuah kerajaan yang terdapat di Jawa Timur antara tahun 1042-1222. Kerajaan ini berpusat di kota Daha, yang terletak di sekitar Kota Kediri sekarang. Daha merupakan singkatan dari Dahanapura, yang berarti kota api. Nama ini terdapat dalam prasasti Pamwatan yang dikeluarkan Airlangga tahun 1042. Hal ini sesuai dengan berita dalam Serat Calon Arang bahwa, saat akhir pemerintahan Airlangga, pusat kerajaan sudah tidak lagi berada di Kahuripan, melainkan pindah ke Daha.

***

Kesimpulan

Islam yang dibawa oleh para pedagang dari Arab pada paruh abad ke-7 Masehi yang relevan dengan teori Mekah (Buya Hamka), memberikan sebuah informasi kepada kita bahwa para pedagang memerankan peranan besar dalam proses Islamisasi di Nusantara. Keberadaan mereka terlihat dalam bukti arkeologis yang berupa pelabuhan, kota kecil, artefak, nisan makam, dan serpihan mata uang serta fragmen keramik yang berciri Arab.

Dalam penjelasan sebelumnya, penulis mengemukakan data dan dokumen seputar bukti artefaktual dari kedatangan Islam di Nusantara dalam berbagai bukti material seperti nisan makam yang bertuliskan Arab serta mengandung syair-syair pujian kepada Allah Swt. Namun, masih banyak kekurangan yang masih belum penulis ungkapkan dalam tulisan ini dikarenak berbagai factor, seperti minimnya informasi seputar arkeologi sejarah dalam hal Islamisasi di Nusantara serta kurangnya ilmu kearkeologian penulis dalam mengungkapkan data dan fakta tersebut.*** Wallahu’alam

Sumber bacaan:

Adrisijanti Romli, Inajati.. “Islam dan Kebudayaan Jawa”, dalam Cinandi. Yogyakarta: Panitia Lustrum VII Jurusan Arkeologi UGM, 1997

Tjandrasasmita, Uka (ed.), “Sejarah Nasional Indonesia III”, Jakarta: Balai Pustaka, 1990


About diankurniaa

Dian Kurnia. Blogger; Penulis Lepas di koran lokal dan nasional; Mahasiswa Sejarah UIN SGD Bandung.
This entry was posted in Arkeologi, Islam, Sejarah and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s