Potret Gerakan Sosial Keagamaan di Indonesia

Oleh Dian Kurnia

Kepulauan nusantara Indonesia merupakan satu wilayah di kawasan Asia Tenggara atau Hindia Belakang yang memiliki berbagai macam kekayaan, baik kekayaan alam maupun kekayaan budaya, serta kekayaan sumber daya manusia sebagai pengguna sekaligus pengelola.  Indonesia adalah Negara dengan mayoritas umat Islam sebagai penghuninya. Dari latar sejarah, proses islamisasi di kepulauan Indonesia berlangsung secara bertahap dalam beberapa periode. Setelah Islam datang yang mayoritas di bawa oleh para pedagang muslim dari Timur Tengah dan India, mereka membentuk satu pola komunitas muslim yang bermukim di daerah pesisir untuk para pedagang (karena pada waktu itu kegiatan utama adalah berdagang rempah-rempah), dan ada sebagian yang bermukim di pedalaman sebagai petani ladang dan sawah.

Kawasan muslim Indonesia yang terletak secara geografis di pinggiran Dunia Islam (Timur Tengah) mempresentasikan salah satu bagian Dunia Islam yang paling sedikit mengalami Arabisasi (Nor Huda, 2007: 179). Sebagaimana tercantum dalam Renaisans Islam Asia Tenggara, Prof. Azyumardi Azra menyatakan, “Islam di Asia Tenggara (Indonesia) sering dipandang banyak orientalis sebagai “Islam periferal”, Islam pinggiran, Islam yang jauh dari bentuk “asli” yang terdapat dan berkembang di pusatnya Timur Tengah. Dengan kata lain, Islam di Asia Tenggara –khususnya di Indonesia- bukanlah “Islam yang sebenarnya” sebagaimana berkembang dan ditemukan di Timur Tengah” (Azra, 1999: 5). Dengan perkataan lain, Islamisasi di wilayah ini berlangsung secara gradual. Dampaknya adalah bentuk dan keyakinan agama lama diubah secara lambat tanpa harus menghilangkan subtansinya (akulturasi dan asimilasi).

Pada tahap selanjutnya, kebijakan politik pemerintah kolonial Belanda telah membatasi ruang gerak umat, hal ini tidak selanjutnya menyurutkan semangat umat Islam untuk merajut jalinan intelektual dengan pusat-pusat studi Islam di wilayah lain. Muhammadiyah sebagai sebuah organisasi sosial Islam yang terpenting di Indonesia telah merespon segala bentuk kebijakan pemerintah Belanda yang sifatnya refresif terhadap masyarakat Indonesia. Organisasi yang didirikan di Yogyakarta pada tanggal 18 November 1912 oleh KH. Ahmad Dahlan ini memetakan pola yang seharusnya di jalani oleh para pahlawan dan pemimpin bangsa. Muhammadiyah lebih condong pada pengelolaan aspek pendidikan masyarakat muslim pada masa kolonial Belanda.  Pada awal abad XX, dalam kurun waktu sepuluh tahun, seorang Kiai Abdul Wahab Hasbullah, telah mengorganisir kelompok Islam tradisional dengan dukungan dari Kiai Hasyim Asyari, seorang kiayi dari Jombang, Jawa Timur. Kiai Wahab sama halnya dengan KH. Ahmad Dahlan berusaha merespon segala macam kebijakan pemerintah Belanda yang menekan kehidupan masyarakat Indonesia, terutama kehidupan umat Islam. Pada tahun 1916, Kiai Wahab mendirikan sebuah madrasah yang diberi nama Nahdatul Wathan (cikal bakal lahirnya Nahdatul ‘Ulama) dengan pusatnya di kota Surabaya.

Tidak jauh berbeda dengan KH. Ahmad Dahlan dan KH. Wahab, Haji Zamzam dan Haji Muhammad Junus juga berperan aktif dalam merumuskan organisasi Persatuan Islam (Persis) di Bandung pada permulaan tahun 1920-an. Organisasi ini berawal dari pada perkumpulan tamu-tamu kenduri yang diadakan oleh peranakan Sumatera yang tinggal di Bandung. Mereka keturunan Palembang pada abad ke-18. Perbincangan awal adalah menyangkut masalah agama yang dibicarakan oleh majalah Al-Munir di Padang, majalah Al-Manar di Mesir, pertikaian Al-Irsyad dan Jamiatul Khoir, serta masalah-masalah umat lainnya.

Realitas historis ini merupakan cikal bakal lahirnya gerakan sosial keagamaan Islam di Indonesia pada abad ke-20. Mereka menyatukan suara dalam visi-misi masing-masing kelompok dalam menentang kebijakan Belanda yang refresif. Ditengah-tengah kisruhnya keadaan sosial masyarakat Indonesia karena praktek penjajahan Belanda mereka hadir memberikan solusi bagi masyarakat Indonesia. Oleh karena itu, pada tulisan ini saya akan menggambarkan realitas gerakan sosial keagamaan di Indonesia dalam tubuh organisasi Muhammadiyah dan NU, sebagai dua buah organisasi penting dan besar di Indonesia yang secara langsung mempengaruhi peta perjalana politik bangsa Indonesia.

  1. Latar Belakang Sejarah
    1. Muhammadiyah

Muhammadiyah merupakan gerakan Islam, Dakwah Amar Ma’ruf Nahi Munkar, beraqidah Islam yang bersumber langsung kepada Al-Qur’an dan as-Sunnah. Organisasi ini didirikan oleh Muhammad Darwis atau KH. Ahmad Dahlan pada tanggal 18 November 1912 bertepatan dengan  8 Dzulhijjah 1330 Hijriah di kota Yogyakarta. Muhammadiyah sendiri berasal dari istilah Arab, “Muhammad”, yaitu nama Nabi dan Rasul Allah Swt yang terakhir (khotamin nabiyin). Filosofi penamaan gerakan Muhammadiyah adalah agar gerakan ini bertafa’ul (berpengharapan baik), dapat mencontoh dan meneladani jejak agung kemuliaan akhlak baginda Rasul tercinta, Muhammad Saw.

KH. Ahmad Dahlan sebagai pendiri Muhammadiyah dilahirkan di Yogyakarta pada tahun 1869 dengan nama kecil Muhammad Darwis. Ia adalah anak KH. Abubakar bin Kiayi Sulaiman, seorang khatib di mesjid Sultan Yogyakarta. Ibunya adalah anak Haji Ibrahim yang bernama Siti Aminah. Latar belakang pendidikannya dihabiskan dengan belajar nahwu, fiqh dan tafsir di Yogyakarta dan sekitarnya. Pada tahun 1890, KH. Ahmad Dahlan pergi ke Mekkah di mana ia belajar selama setahun lamanya. Salah seorang gurunya adalah Syaikh Ahmad Khatib al-Minagkabawi (1860-1916).[1]

Sepulang dari Mekkah, KH. Ahmad Dahlan menggantikan ayahanda nya, KH. Abubakar karena wafat (1896 M), sebagai khatib di Mesjid Sultan Yogya. Ini adalah salah satu tanda kebesaran Ahmad Dahlan di kemudian hari dalam mengusung Muhammadiyah sebagai organisasi sosial keagamaan terbesar di Indonesia.

Visi Misi Organisasi Muhammadiyah

Dalam buku “Muhammadiyah Sebagai Gerakan Islam”, H. Mustafa Kamal Pasha dan H. Ahmad Adaby Darban menyatakan bahwa sejarah perumusan dan tujuan berdirinya Muhammadiyah sejak berdiri sampai sekarang telah mengalami beberapa kali perubahan redaksional. Namun, hal ini tidak serta merta mengubah subtansi isi dari maksud dan tujuan berdirinya organisasi Muhammadiyah. Redaksi tersebut mengalami tujuh kali perubahan, yakni:

a)             Pertama

–                 Menyebarkan ajaran kanjeng Nabi Muhammad Saw kepada penduduk bumi-putera di dalam residensi Yogyakarta.

–                 Memajukan hal agama Islam kepada anggota-anggotanya.

b)             Kedua

–                 Memajukan pengajaran dan pelajaran agama Islam di Hindia Belanda

–                 Memajukan hidup sepanjang kemauan agama Islam kepada sekutu-sekutunya.

c)             Ketiga

“Sesuai dengan kepercayaan untuk mendirikan kemakmuran bersama seluruh Asia Timur Raya di bawah pimpinan Dai Nippon, dan memang diperintahkan oleh Tuhan Allah, maka tujuan Muhammadiyah menjadi:

–                 Hendak menyiarkan Islam, serta melahirkan hidup yang selaras dengan tuntutannya

–                 Hendak melakukan pekerjaan kebaikan umum

–                 Hendak memajukan pengetahuan dan kepandaian serta budi pekerti yang baik kepada anggota-anggotanya

d)            Keempat

“Maksud dan tujuan perserikatan ini ialah menegakkan dan menjunjung tinggi agama Islam sehingga dapat mewujudkan masyarakat Islam yang sebenar-benarnya”

e)             Kelima

“Menegakkan dan menjungjung tinggi agama Islam sehingga terwujud masyarakat Islam yang sebenar-benarnya”

f)              Keenam

“Menegakkan dan menjungjung tinggi agama Islam sehingga terwujud masyarakat utama, adil dan makmur yang diridhai Allah Swt”

g)             Ketujuh

“Muhammadiyah adalah gerakan Islam, dakwah amar ma’ruf nahi munkar, berasaskan Islam yang bersumber pada Al-Qur’an dan as-Sunnah”

Muhammadiyah sebagai gerakan reformasi (tajdid)

Jika kita melihat kembali dokumen awal berdirinya Muhammadiyah, tak satupun yang menjelaskan bahwa Muhammadiyah adalah gerakan tajdid. Dalam Anggaran Dasar pertama disebutkan bahwa maksud dan tujuan Muhammadiyah adalah ”menyebarkan pengajaran Kanjeng Nabi Muhammad kepada penduduk Bumiputra, di dalam residensi Yogyakarta. Memajukan hal agama Islam kepada anggota-anggotanya.”

Rumusan ini menegaskan tentang identitas diri Muhammadiyah sebagai gerakan dakwah amar ma’ruf nahi munkar. Penegasan identitas diri inilah yang membedakan Muhammadiyah dengan gerakan Islam semasanya yang umumnya mengikatkan diri pada orientasi ideologi keagamaan tertentu sebagai gerakan reformis (Al-Irshad), memberantas bid’ah, khurafat, dan takhayul secara radikal (Persis), dan ahlus sunnah wal jamaah (NU). Identitas diri Muhammadiyah sebagai gerakan tajdid baru dirumuskan akhir-akhir ini.
Secara garis besar, gerakan tajdid dalam tubuh Muhammadiyah terumuskan dalam empat poin berikut:

  1. Menegakkan tauhid yang murni, sesuai dengan ajaran Allah Swt yang dibawa oleh Nabi dan Rasul-Nya sejak zaman Adam as hingga Muhammad Saw
  2. Menyebarkan ajaran Islam yang bersumber kepada kitab suci Al-Qur’an
  3. Mewujudkan amalan-amalan Islam dalam kehidupan perorangan, keluarga, dan masyarakat
  4. Pemahaman agama dengan menggunakan rasio (Abdul Munir Mulkan dan H. Ahmad Azhar Basyir, 1996: 147)

Model tajdid yang dilakukan oleh Muhammadiyah harus mengacu pada pembentukan watak dan karakter warga anggota masyarakat yang memiliki kompetensi nilai-nilai di atas. Karena itu gerakan keilmuan yang berorientasi pada pengembangan sumber daya manusia melalui pendidikan tetap menjadi program utama gerakan ini. Identitas diri Muhammadiyah sebagai gerakan dakwah amar makruf nahi munkar dan tajdid hendaknya dipahami sebagai gerakan kultural dan bukan struktural, yang berorientasi pada kekuasaan dengan melibatkan lembaga secara langsung dalam politik praktis.

Dalam kaitan ini peran Muhammadiyah adalah mempersiapkan sumber daya manusia yang mampu mengarahkan bahtera kehidupan sosial, budaya, ekonomi, politik, dan keagamaan. Karena itu peran penting Muhammadiyah adalah keikutsertaannya dalam proses dan bukan menciptakan peradaban itu sendiri. Hal ini sama seperti yang diperankan oleh Nabi besar Muhammad SAW yang telah meletakkan dasar nilai-nilai bagi terciptanya peradaban Islam pada masa Klasik Islam. Sebab, secara fisik peradaban Islam itu tidak lahir pada masa awal Islam, tetapi pada masa akhir, yakni seabad kemudian (Achmad Jainuri, “Model Tajdid Muhammadiyah:Membangun Peradaban Utama” blogbeswandjarum, 2010).

  1. Nahdatul Ulama

Dalam latar sejarahnya, Nahdatul Ulama lahir dan berkembang dalam entitas keberagamaan masyarakat Indonesia. Dalam kurun waktu abad XX, seorang yang sangat dinamis yang pernah belajar di Mekkah, yaitu Kiai Abdul Wahab Hasbullah, mengorganisir Islam tradisionalis dengan dukungan Kiai Hasyim Asy’ari.[2] Sejak bermukim di Mekkah, Kiai Wahab aktif di Sarekat Islam (SI), satu perkumpulan para saudagar muslim yang didirikan di Surakarta tahun 1912, yang pada tahap awal bertujuan menangkal pencuri dengan sistem ronda dan memperbaiki posisi pedagang muslim, Arab, dan Jawa dalam bersaing menghadapi keturunan Tionghoa (Siraishi, 1990: 13).

Pada tahun 1926, Kiai Wahab mendirikan Nahdatul Wathan di Surabaya. Pada tahap awal, Nahdatul Wathan diasuh oleh Kiai H. Mas Mansur (juga Kiai Ridwan Abdullah, sedangkan pemimpin sekolahnya adalah Kiai H. Abdul Kahar, seorang saudagar terkenal di Surabaya). Nahdatul Wathan tersebar di berbagai daerah di Jawa. Diantaranya adalah di Surabaya, Semarang, Malang, Sidoardjo, Gresik, Lawang, Pasuruan, dll.

Menurut Umar Burhan, seorang tokoh NU dari Gresik yang rajin mengumpulkan arsip-arsip NU sejak lama, selain Kiai Wahab, tokoh-tokoh besar seperti Tjokroaminoto, Soendjata, R. Panji Suroso juga membantu mendirikan NW (Nahdatul Wathan). Pada tahun 1918 Kiai Wahab juga mendirikan Nahdatul Tujjar, sebuah kooperasi pedagang. Tahun 1919, sebuah madrasah dibangun di Surabaya, tepatnya di daerah Ampel dengan nama Tashwirul Afkar. Madrasah ini bertujuan untuk menyediakan tempat bagi anak-anak untuk mengaji dan belajar, lalu ditujukan menjadi “sayap” untuk membela kepentingan Islam tradisionalis (Anam, 1985: 27).

Pada bulan Januari 1926, sebelum kongres Al-Islam di Bandung, suatu rapat antar organisasi pembaru di Cianjur memutuskan untuk mengirim utusan yang terdiri dari dua orang pembaru ke Mekkah. Sebulan kemudian, Al-Islam tidak merespon gagasan Kiai Wahab yang mengusulkan kepada kaum tradisionalis mengenai praktek keagamaan yang dibawa oleh delegasi Indonesia. Selanjutnya, pada tanggal 31 Januari 1926 telah diputuskan untuk membentuk suatu organisasi yang mewakili kaum tradisionalis, yakni Nahdatul Oelama. Pada muktamar NU tahun 1928, telah ditetapkan anggaran dasarnya untuk mendapatkan pengakuan resmi dari pemerintah Belanda, akhirnya pengakuan itu diterima pada tanggal 6 Februari 1930. Kemudian NU menetapkan tujuannya untuk mengerjakan apa saja yang menjadikan kemaslahatan Agama Islam. Untuk mencapai tujuan tersebut, dilakukanlah ichtiar:[3]

  1. Mengadakan perhubungan diantara ulama-ulama yang bermadzhab tersebut dalam fasal 2
  2. Memeriksa kitab-kitab sebelumnya dipakai untuk mengajar, supaya diketahui apakah itu dari pada kitab-kitabnya Ahli Sunah wal Jama’ah atau kitab-kitab Ahli Bid’ah
  3. Menyiarkan agama Islam di atas madzhab sebagai tersebut dalam fasal 2 dengan jalan apa saja yang baik
  4. Berikhtiar memperbanyak madrasah-madrasah yang berdasar agama Islam
  5. Memperhatikan hal-hal yang berhubungan dengan masjid, langgar, dan pondok, begitu juga dengan hal awalnya anak-anak yatim dan orang-orang fakir miskin
  6. Mendirikan badan-badan untuk memajukan urusan pertanian, perniagaan, dan perusahaan, yang tiada dilarang oleh sara’ agama Islam.

Secara umum, NU hadir sebagai pengawas tradisi dengan memperhatikan ajaran keempat madzhab, meskipun pada kenyataannya madzhab Syafi’ilah yang banyak direalisasikan.

Dalam buku NU vis-à-vis NEGARA, disebutkan bahwa NU memberikan perhatian khusus pada kegiatan ekonomi, bidang yang berkaitan dengan kehidupan para kiai yang terkadang adalah pemilik tanah dan pedagang.[4] Barangkali, kita akan melihat dalam tubuh NU adanya pertautan kepentingan antara tujuan ekonomi dan keagamaan yang keduanya terkadang ada dalam diri beberapa kiai.

Pada perkembangannya, NU berkembang pesat pada masa penjajahan Belanda, tahun 1935, NU memiliki 68 cabang dengan 67.000 anggota (Bousquet, 1939: 21). Tiga tahun kemudian, NU memiliki 99 cabang. Perkembangan NU sampai ke luar Jawa, yakni ke Kalimantan Selatan, Sulawesi Selatan, dan Sumatera Selatan. Perkembangan NU dalam politik semakin terlihat jelas ketika para aktivis mudanya seperti Wahid Hasyim, putera KH. Hasyim Asy’ari, dan Mahfudz Shiddiq, membentuk sebuah federasi yang diberi nama GAPI (Gabungan Politik Indonesia), masuknya mereka ke MIAI yang mendukung GAPI agar Indonesia berparlemen. Perjuangan politik NU semakin besar ketika zaman pendudukang Jepang di Indonesia (1942-1945).

Penutup

Perlu kiranya saya menegaskan kembali penjelasan mengenai organisasi sosial keagamaan dalam tubuh Muhammadiyah dan Nahdatul Ulama. Keduanya merupakan organisasi penting dan besar di Indonesia. Muhammadiyah yang didirikan oleh KH. Ahmad Dahlan di Yogyakarta pada tanggal 18 November 1912, telah mengalami tujuh kali perubahan redaksional visi-misi organisasi. Namun, subtansi isi perjuangan Muhammadiyah tak serta merta mengalami perubahan.

Perjuangannya dalalm menegakkan agama Islam di kalangan masyarakat Indonesia telah berhasil dilaksanaka, hal ini ditandai dengan semakin banyaknya anggota organisasi Muhammadiyah yang tersebar di berbagai daerah di Nusantara. Beberapa cabang Muhammadiyah berdiri dengan dilengkapi lembaga pendidikan, kesehatan, organisasi sosial kecil, dll.

Samal halnya dengan NU, organisasi tradisionalis ini telah melebarkan sayap pembarunya di berbagai daerah di Indonesia. Semarang, Surabaya, Malang, Gresik, dan tentunya Jombang telah menjadi basis penting pergerakan organisasi Nahdatul Ulama yang berawal dari dibentuknya Nahdatul Wathan oleh Kiai Wahab.

Dinamika perjalan pergerakan kedua organisasi ini cukup penting dalam membangun dan memperlebar pemahaman ajaran agama Islam dalam masyarakat Indonesia. Dalam kancah perpolitikan, kedua banyak merespon tindak penjajahan kolonial Belanda dan Jepang. Oleh karena itu, kita patut bangga hidup di Indonesia karena masih ada pihak yang konsen membangun masyarakat Indonesia kea rah yang lebih paripurna. *** Wallahu’alam

Daftar Sumber

Noer Deliar, “Gerakan Moderen Islam di Indonesia 1900-1942”, LP3ES, Jakarta, 1980.

FEILLARD Andree, “NU vis-à-vis NEGARA”, LKiS, Yogykarta, 2009.

Huda Nor, “ISLAM NUSANTARA Sejarah Sosial Intelektual Islam di Indonesia”, Ar-Ruzz Media, Yogyakarta, 2007.


[1] Syaikh Ahmad Khatib adalah seorang ulama besar Minangkabau yang lahir pada tahun 1855 di daerah Bukittinggi. Ayahnya seorang Jaksa Kepala di kota Padang, Sumatera Barat. Ibunya merupakan anak dari Tuanku nan Renceh, seorang ulama terkemuka dan terkenal dari kaum Paderi.

[2] Biografi Hasyim Asy’ari, lihat di D. Lombard 1990, II: 127-12. Dokumen-dokumen NU menyatakan bahwa dirinya keturunan Brawijaya VI, raja terakhir kerajaan Hidu Majapahit (Aboebakar, 1957: 958)

[3] Statuten Perkoempoelan Nahdatoel Ulama, 1926: 3 (Arsip NU, Gresik)

[4] KH. Hasyim Asy’ari memiliki perkebunan luas di dekat Jombang (wawancara dengan alm. KH. Abdurahman Wahid, cucunya, tahun 1991)

About diankurniaa

Dian Kurnia. Blogger; Penulis Lepas di koran lokal dan nasional; Mahasiswa Sejarah UIN SGD Bandung.
This entry was posted in Gerakan, Sejarah and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s