Nasib Manuskrip Islam Nusantara Memprihatinkan

Wawancara bersama DR. Oman Fathurahman

Naskah kuno (manuskrip) nusantara merupakan salah satu bagian dari identitas bangsa Indonesia. Oleh karena itu, jika kita tidak menyelamatkannya, bangsa ini akan kehilangan salah satu identitas budayanya sendiri. Hal itu disampaikan oleh Dr. Oman Fathurahman (ketua umum Masyarakat Pernaskahan Nusantara [Manassa] dan peneliti di PPIM UIN Syarif  Hidayatullah Jakarta) kepada Ali Rido dari Republika.

Melihat nasib manuskrip nusantara yang demikian memprihatinkan, pihak Manassa mendukung Program Restorasi dan Digitalisasi Naskah. Misalnya, restorasi dan digitalisasi naskah-naskah Islam dari Aceh berkat bekerja sama Museum Aceh, Yayasan Ali Hasjmy, PKPM Aceh, dan Leipzig University. Hasilnya, tercatat sejak 2007 hingga akhir 2009, sudah lebih dari 1.989 naskah yang direstorasi dan 1.223 naskah yang didigitalisasi. [good job !]

Pertanyaannya,

Mengapa bangsa Indonesia harus menyelamatkan warisan budayanya? Apa kandungan naskah-naskah nusantara itu? Apa pula pentingnya bagi umat Islam Indonesia untuk mengetahuinya? Berikut penjelasan Oman Fathurahman selengkapnya.  [check it out !]

Sekarang ini, banyak pemerhati sejarah dan budaya Indonesia yang membincangkan warisan naskah nusantara. Apa yang dimaksud dengan naskah nusantara itu?

Yang dimaksud naskah dalam konteks ini adalah semua karya lama yang ditulis tangan atau yang kita kenal sebagai manuscript, handschriften, bukan naskah cetak. Sedangkan, nusantara bisa merujuk pada wilayah yang sekarang ini disebut Asia Tenggara. Identitas kenusantaraan bisa diketahui melalui banyak hal: pengarang, penyalin, bahasa, atau aksara yang digunakan.

Menurut saya, naskah nusantara mencakup tiga kategori. Pertama, semua naskah yang ditulis oleh pengarang asal nusantara, baik menggunakan bahasa-bahasa lokal nusantara, seperti Melayu, Jawa, Sunda, Bugis, Aceh, Batak, Bali, Wolio, ataupun bahasa asing, misalnya Arab dan Belanda.

Kedua, naskah karangan penulis asing, tapi disalin oleh penyalin lokal dan naskahnya banyak digunakan oleh masyarakat nusantara. Ketiga, naskah karya penulis asing dengan bahasa asing pula, tetapi ditulis dalam konteks nusantara.

Disiplin apa saja yang termuat dalam naskah nusantara?

Beragam sekali. Bayangkan, naskah nusantara adalah rekaman kehidupan sehari-hari masyarakat masa lalu. Jadi, semuanya ada, mulai dari yang ‘biasa-biasa’ saja sampai yang dianggap akademis. Ada adat istiadat, hukum, aktivitas sosial, ekonomi, politik, agama, hingga primbon dan mujarobat. Bahkan, ada juga naskah tentang takwil gempa.

Naskah kan lahir pada masa transisi antara tradisi lisan dan tradisi cetak masyarakat nusantara, jadi hanya naskah media setiap orang berekspresi saat itu. Dalam konteks keagamaan (Islam), kita bisa menjumpai naskah-naskah Alquran, tafsir, hadis, fikih, tauhid, tasawuf, bahasa, dan sastra. Yang beberapa di antaranya bisa disebut sebagai ‘yang pertama’, tafsir Melayu pertama, hadis Melayu pertama, fikih Melayu pertama, dan seterusnya.

Kira-kira, berapa persen jumlah naskah yang termaktub dengan aksara Arab Jawi dibandingkan yang tertulis dengan aksara lainnya?

Saya tidak bisa menyebut angka pasti. Tapi, jelas sangat dominan karena tulisan Arab Jawi dan juga Arab Pegon (untuk bahasa Jawa dan Sunda), dalam banyak hal, telah menggantikan peran aksara-aksara nusantara lainnya sejak abad ke-14 dan semakin berpengaruh di seantero nusantara seiring dengan proses Islamisasi.

Aksara Jawi datang bersama ideologi Islam masa itu. Tentu, bukan berarti aksara nusantara lain sudah tidak dipakai sama sekali, tapi perbandingannya mungkin bisa 70:30. Tapi, ini baru perkiraan saja. Kami belum bisa menghitungnya dengan pasti.

Siapa yang memelopori penulisan dengan aksara Arab Jawi di nusantara?

Kalau siapa dalam pengertian orang, agak sulit diketahui. Sejauh ini, berbagai kajian tentang aksara Jawi belum sampai pada kesimpulan siapa tokoh yang memulai. Bahkan, bagaimana ceritanya sampai ada tambahan enam huruf, selain huruf Arab, pun belum terlalu jelas. Mungkin, ada pengaruh Persia juga. Tapi, hampir semua sepakat bahwa perkembangan awalnya tidak dapat dilepaskan dari tumbuhnya komunitas Muslim Melayu nusantara.

Bisa Anda ceritakan bagaimana proses peralihan penulisan teks-teks berbahasa Sanskerta ke bahasa-bahasa yang menggunakan huruf Arab Jawi?

Saya kira, ini ada kaitannya dengan sejarah budaya terjemahan di nusantara. Terjemahan yang saya maksud bukan sekadar peralihan dari satu bahasa ke bahasa lain, aksara ke aksara lain, melainkan juga diiringi peralihan agama ke agama lain. Tentang hal ini, saya banyak terinspirasi sebuah buku baru berjudul Sadur, yaitu tentang sejarah terjemahan di Indonesia dan Malaysia, buah suntingan Henri Chambert-Loir (2009).

Ia menjelaskan bahwa gelombang pertama sejarah terjemahan adalah ketika teks-teks India berbahasa Sanskerta membuka dan memulai lembaran sejarah terjemahan di nusantara, lebih dari seribu tahun lalu (tahun 900-an). Pada masa ini, Hindu-Buddha pun menjadi agama mayoritas.

Pada gelombang kedua, tradisi tulis dan terjemahan di nusantara dipengaruhi teks-teks asing Islam berbahasa Arab dan mulai saat itulah masyarakat nusantara lebih gemar menulis dengan aksara Arab, yang kemudian dimodifikasi menjadi Jawi dan Pegon untuk disesuaikan dengan bunyi vokal bahasa lokal setempat. Kegemaran ini muncul seiring peralihan agama mayoritas, dari Hindu-Buddha ke Islam.

Uniknya, ketika pada abad ke-19 aksara Jawi mulai tergantikan oleh aksara Latin akibat derasnya desakan kolonialisme dan misionaris Kristen, pola lama tidak terjadi–peralihan aksara itu–misalnya, tidak diiringi dengan peralihan agama secara masif dari Islam ke Kristen yang banyak dianut oleh masyarakat Barat. Justru, agama Islam semakin terkonsolidasi dalam melakukan perlawanan meski aksara Jawi tetap semakin terpinggirkan.

Seberapa luas persebaran naskah-naskah Islam nusantara? Bagaimana pengaruhnya terhadap pengetahuan dan perilaku keagamaan pada waktu itu?

Sangat luas, dari ujung barat sampai timur nusantara. Ini terkait dengan persebaran Islam itu sendiri. Sebuah teks Islam tertentu bahkan diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa, mulai dari Arab, Melayu, Jawa, Sunda, Wolio, dan lainnya. Dalam setiap proses penerjemahan itu, selalu ada unsur lokal yang tersimpan sehingga naskah-naskah tersebut menjadi sumber lokal unik untuk merekonstruksi sejarah sosial intelektual Islam di wilayah yang melahirkannya. Ini tentu menggambarkan seberapa jauh pengaruhnya terhadap pengetahuan dan perilaku keagamaan saat itu.

Peralihan tradisi tulis dari bahasa Sanskerta menjadi aksara Arab Jawi tentu saja menyebabkan terjadinya perubahan pola pikir masyarakat, dari pola pikir yang bercirikan Hindu-Buddha menjadi Islam. Bagaimana ciri-ciri perubahan itu?

Salah satu cirinya mungkin dari karya-karya yang dihasilkan. Jika sebelumnya banyak karya bercirikan doktrin dan semangat teologi Hindu-Buddha, seiring peralihan tradisi tulis ke aksara Jawi itu, banyak karya, seperti hikayat dan babad, yang ‘di-Islam-kan’. Tapi, hebatnya masyarakat nusantara, peralihan pola pikir itu juga tidak terjadi secara radikal, melainkan lebih kultural. Tak heran jika karakter masyarakat Muslim Indonesia cenderung lebih akomodatif dan adaptif terhadap tradisi lokal.

Tradisi penulisan dengan aksara Jawi sendiri akhirnya nyaris punah akibat lemahnya kesadaran untuk melestarikan warisan budaya Islam Indonesia. Pendapat Anda?

Saya kira, banyak faktor yang menyebabkannya. Pada masa kolonialisme, Islam kan diidentikkan dengan perlawanan, sementara aksara Jawi kadung dianggap sebagai bagian dari identitas tradisi dan budaya masyarakat Muslimnya. Karenanya, saat itu, kolonialisme cenderung mengurangi apa pun yang berbau Islam, termasuk pengaruh penggunaan aksara Jawi.

Faktor lain adalah globalisasi yang menyebabkan aksara Jawi tidak lagi fungsional. Siapa sekarang ini yang mau berkirim surat dalam aksara Jawi? Bahwa perlu ada kesadaran untuk melestarikan aksara Jawi sebagai warisan budaya Indonesia, itu hal lain.

Bagaimana nasib naskah-naskah nusantara sekarang ini?

Nah, ini yang memprihatinkan. Sebagai orang lapangan, saya tahu persis bagaimana kondisi fisik naskah-naskah nusantara kita itu terabaikan dan bertambah rusak, bahkan pada setiap detik saat kita membicarakannya. Ini terjadi terutama dalam kasus naskah-naskah yang tersimpan di tangan masyarakat.

Mengapa? Karena itu tadi, tingkat kesadaran masyarakat akan nilai pentingnya benda cagar budaya tersebut masih sangat rendah. Kondisi ini diperparah oleh infrastruktur konservasi dan restorasi yang belum maksimal, termasuk di lembaga-lembaga pemerintah, seperti perpustakaan dan museum.

Tapi, saya tetap optimis bahwa ke depan akan lebih baik karena sebetulnya kita juga tidak tinggal diam. Masyarakat Pernaskahan Nusantara (Manassa) yang saya pimpin melakukan dua pola pelestarian. Pertama, pelestarian fisik naskahnya melalui konservasi dan restorasi. Kedua, pelestarian teks-teksnya melalui upaya alih media digital.

Ini berarti bahwa meskipun pada suatu saat fisik naskah-naskah nusantara itu secara alami akan musnah, setidaknya teks-teks yang terkandung di dalamnya akan tetap dapat diwariskan dari generasi ke generasi.

Strategi apa yang sebaiknya dilakukan, baik oleh pemerintah, akademisi, peneliti, maupun LSM, untuk menyelamatkan naskah-naskah nusantara?

Saya kira, kita harus menyamakan persepsi dulu bahwa naskah nusantara yang sudah dijamin oleh Undang-Undang Cagar Budaya Nomor 5 Tahun 1992 adalah artefak budaya yang penting dilestarikan karena menyangkut bagian dari sejarah peradaban dan kebudayaan masa lalu kita. Kalau ini sudah disadari, action-nya lebih gampang. Tidak akan terjadi lagi heboh jual beli naskah ke luar negeri.

Khusus bagi pemerintah, saya kira masih perlu memfasilitasi berbagai fasilitas preservasi naskah nusantara. Mestinya, ada semacam Pusat Penelitian Naskah Nusantara, semacam Pusat Arkeologi Nasional yang sudah kita miliki.

Memang, sudah ada Perpusnas dan Arsip Nasional, tapi kedua lembaga ini kan lebih pada menyimpan dan merawat saja, tidak berkonsentrasi pada aspek pengkajian dan penelitiannya. Saya yakin, lembaga semacam itu bisa mempercepat dan mengejar ketertinggalan kita dalam hal upaya pelestarian naskah-naskah nusantara.

Bagi kalangan akademisi, naskah nusantara seyogianya dijadikan sebagai salah satu sumber primer kajian dalam disiplin ilmu apa pun, termasuk kedokteran misalnya, karena kandungan isi naskah nusantara sungguh sangat beragam. Jika sudah demikian, pasti masyarakat akan dapat merasakan manfaat naskah kuno tersebut.

Apa pengaruh naskah-naskah nusantara itu bagi kehidupan sosial dan keagamaan masyarakat Indonesia modern?

Sejarah katanya kan tidak pernah mati. Siklus kehidupan sering kali berputar dan berulang-ulang. Nah, saya kira, kita bisa banyak belajar dari kearifan lokal masa lalu yang terkandung dalam naskah-naskah tersebut, dari apa yang pernah terjadi, mungkin menyangkut resolusi konflik, penyelesaian masalah adat, masalah sosial keagamaan, dan lain-lain. Itu memang tergantung pada kemampuan kita menarik benang merah antara masa lalu dan masa kini. [alhamdulillah !]

Wallahu’alam

Sumber: Republika, Minggu, 27 Desember 2009

About diankurniaa

Dian Kurnia. Blogger; Penulis Lepas di koran lokal dan nasional; Mahasiswa Sejarah UIN SGD Bandung.
This entry was posted in Islam, Sejarah and tagged , , . Bookmark the permalink.

One Response to Nasib Manuskrip Islam Nusantara Memprihatinkan

  1. islamia says:

    saya sependapat karena di jaman ini sangat sedikit sekali generasi muda yang mau perduli dan menghargai sejarah bangsa!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s