Gua Belanda di Pusat Kota Sumedang

Oleh: Dian Kurnia

Bila kita meluncur dari arah Bandung menuju Kota Sumedang melewati jalan Cadas Pangeran, terpampang dengan jelas di atas gapura besar di daerah Sumedang Selatan kalimat “Selamat Datang di Sumedang Kota Budaya”. Memang benar adanya. Beragam budaya lokal terdapat di kota bekas kerajaan Sumedang Larang ini. Selain terkenal karena kulinernya tahu bunkeng, kota yang pernah menjadi bagian dari sejarah lokal urang Sunda pada masa kerajaan Sumedang Larang ini juga ternyata masih banyak menyimpan kekayaan alam dan kekayaan budaya yang indah jika kita telusuri.

Salah satu khazanah kota Sumedang adalah Gua kecil yang terletak di sebuah bukit yang dikenal oleh masyarakat Sumedang dengan sebutan Gunung Kunci. Letaknya yang berdekatan dengan RSUD dan Polresta Sumedang, telah memberi kehangatan tersendiri terhadap eksistensi Gunung  Kunci yang menjadi salah satu maskot kebanggaan masyarakat kota tahu ini selain Gunung Puyuh dengan tempat kuburan Cut Nyak Din.

Gua Pandjoenan

Sejak tahun 1914 silam, yakni pada masa pemerintahan Bupati Aria Soeria Atmadja (1883–1919), Gunung Kunci yang memiliki ketinggian ± 500 meter dpl, dijadikan sebagai salah satu basis pertahanan bangsa Belanda ketika berkecamuknya Perang Dunia I (1914-1918). Belanda membangun gua yang berfungsi sebagai bunker para serdadu militer dengan mempekerjakan masyarakat sekitar. Gua yang memiliki pintu masuk sebanyak tujuh belas ini terdiri atas tiga lantai. Masing-masing difungsikan berdasarkan tingkat kemiliteran yang ada. Lantai dasar digunakan sebagai tempat penyimpanan senjata dan mortir. Lantai ke dua berfungsi sebagai kamar para prajurit. Sedangkan, lantai paling atas digunakan oleh para perwira militer Belanda dalam melakukan segala aktivitasnya.

Indahnya Gunung Kunci adalah karena letaknya yang sentral di pusat kota. 500 meter di sebelah utara alun-alun Kota Sumedang. Saat ini Gunung Kunci dijadikan sebagai tempat wisata bersejarah yang diperuntukan bagi kalangan umum serta siswa menengah dan mahasiswa yang sekedar hendak berkunjung dan melihat-lihat Gua Panjdoenan. Semilir angin sepoy-sepoy dapat kita rasakan dengan tenang di puncak Gunung Kunci yang menyediakan beberapa buah tempat istirahat. Selain di tumbuhi oleh berbagai macam tumbuhan pioner seperti jati, mahoni, pinus, serta sedikit pohon salak, area di gunung ini juga menyediakan berbagai arena permainan untuk anak-anak seperti outbond dan tempat teater.

Tiket yang ekonomis

Keindahan langit kota Sumedang akan lebih kita rasakan kehangatannya jika dipandangi pada malam hari. Sinara lampu kota yang berkelip-kelip memancarkan pesona keindahannya menambah suasa romantis untuk sekedar berefleksi melepas segala penat dan kegundahan sehari-hari. Akomodasi menuju tempat ini cukup mudah didapatkan. Lokasinya strategis yakni di jalan by pass antara Terminal Ciakar dan Polres Sumedang. Pada waktu-waktu tertentu, lokasi Gua Panjdoenan sering di datangi oleh para pengunjung yang berasal dari luar kota, seperti Bandung, Cirebon, Subang, dll. Pesona keindahannya akan begitu terasa ketika pertama kali kita menginjakan kaki di depan pos penjagaan. Udaranya sejuk dan cukup baik digunakan untuk melatih kekuatan jasmani dan pikiran. Tiket masuknya terbilang ekonomis untuk semua kalangan. Hal ini menjadi media alternatif bagi Pemerintah Kabupaten Sumedang sendiri dalam menggulirkan pendidikan kesadaran tentang sejarah masyarakat dan bangsa Indonesia secara konsisten dan menyeluruh.

Refleksi nilai-nilai sejarah

Jejak kehadiran Belanda di Sumedang dalam bentuk gua, merupakan salah satu bukti sejarah material yang sejatinya kita sikapi dengan pemahaman yang sesuai dengan konteks keberagaman masyarakat Indonesia sebagai sebuah kebudayaan lokal masyarakat. Toh, semua sarana dan prasarana tinggalan budaya para penjajah dahulu, mulai dari bangsa Jepang hingga Belanda, kebanyakan dikerjakan dan diselesaikan oleh masyarakat kita dengan susah payah berbekal penderitaan mengorbankan jiwa, raga, dan harta.

Oleh karena itu, akan lebih arif dan bijaksananya seandainya kita sudi untuk meluangkan waktu sejenak mengunjungi tempat-tempat bersejarah yang ada di daerah  kita masing-masing, terlebih ketika kita bisa mengunjunginya dengan mengungkap dan mengkaji nilai-nilai kemanusiaan (humanities) yang ada di dalamnya. Kesadaran akan sejarah lokal yang pernah terjadi di masyarakat diharapkan bisa menumbuh kembangkan sikap toleransi yang lebih proporsional secara menyeluruh. Melihat realitas masyarakat kita dengan segala macam permasalahan yang tak kunjung selesai, sudah barang tentu tidak kita sikapi dengan apatis. Mulai dari diri sendiri dengan menanamkan kesadaran akan pentingnya membangun mental juang dan juga menghargai nilai-nilai kebudayaan masyarakat masa lampau dengan berbekal pengetahuan tentang sejarah, sudah tentu kiranya walaupun sedikit akan memberikan suasana kondusif bagi lingkungan kita sendiri.***

Wallahu’alam

About diankurniaa

Dian Kurnia. Blogger; Penulis Lepas di koran lokal dan nasional; Mahasiswa Sejarah UIN SGD Bandung.
This entry was posted in Khazanah Sunda, Sejarah and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s