Idolisasi Bung Nazar

Oleh DIAN KURNIA

KEPULANGAN Muhammad Nazaruddin (mantan Bendahara Umum Partai Demokrat yang menjadi tersangka hampir di 35 kasus dugaan korupsi) dari Kolombia, seakan telah “memancing” simpati publik dengan celoteh kesumbangannya. Bukan tanpa alasan kemudian Nazaruddin menggelar pertunjukan wayang di hadapan publik dan media dengan mengejutkan banyak pihak setelah ia tertangkap oleh polisi Interpol di Kolombia. Pasalnya, selain terdapat kejanggalan dalam kasus yang melibatkan dirinya sewaktu penyergapan di Kolombia, ia juga merupakan salah satu petinggi Partai Demokrat yang (telah) ia kotori dengan tudingan-tudingan miring seputar keterlibatan beberapa kader PD dalam praktek korupsi.

Beberapa nama yang sempat ia sebut diantaranya Anas Urbaningrum, Ketua Umum Partai Demokrat, yang ia tuding terlibat dalam kasus pembagian uang hasil proyek pembangunan wisma atlet, perebutan kursi ketua umum Partai Demokrat 2010 di Bandung, serta proyek Pusat Olahraga di Hambalang, Sentul, serta Chandra M Hamzah (Wakil Ketua KPK), Ade Rahardja (Deputi Penindakan KPK), dan Benny K Harman (Ketua Komisi III DPR) yang juga ia tuding terlibat dalam kasus penanganan wisma atlet oleh KPK. Namun, semua itu masih berupa “nyanyian” Nazaruddin yang diperdengarkan oleh mulut tim pengacaranya.

Saat ini sedang berlangsung perang opini antara KPK melawan tim pengacara Nazaruddin, yang dimotori oleh OC Kaligis. Mereka berpolemik begitu alotnya. Hampir setiap hari di media massa, baik cetak maupun elektronik, pemberitaan tak pernah lepas dari wajah lesu suami Neneng Sri Wahyuni –yang dikabarkan terlibat juga dalam beberapa kasus dugaan korupsi– ini. Kali ini Nazaruddin tak tanggung-tanggung “bernyanyi” dalam salah satu episode pertunjukan wayangnya. Ia melayangkan “surat pribadi” yang ditujukan kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono agar beliau tidak “mengganggu” kehidupan anak dan istrinya, katanya. Dan Nazaruddin siap dipenjara walau tanpa proses penyidikan sebelumnya.

nazaruddin

Beragam spekulasi pihak bermunculan dari pernyataannya ini, terutama mereka yang terkait langsung dengan kasus ini. Misalnya, perihal kebohongan atas nyanyian Nazaruddin, dan juga usaha Nazar dalam mencari simpati publik, menghiasi nada-nada spekulatif para spekulator. Apa pasal yang sebenarnya terjadi dengan Nazaruddin hingga ia berubah haluan 180 derajat dari tudingan sebelumnya?Adanya intervensiRupanya terlalu sulit bagi para penyidik dan KPK untuk menduga alasan Nazaruddin “bernyanyi”. Semula frontal, berubah menjadi serba ketakutan. Walaupun sudah banyak spekulasi yang muncul, itu hanya sebatas di permukaan, belum menyentuh perkara yang sebenarnya. Toh siapa tahu isi hati Nazaruddin yang sebenarnya. Hanya Tuhan-lah yang Maha Tahu atas semua hal yang (mungkin) disembunyikan oleh Nazaruddin. Kita hanya bisa berspekulatif.Semacam ada “kekuatan besar” dalam sikap yang dipertontonkan oleh Nazaruddin. Ketiadaan bukti yang dipertanyakan penyidik dan KPK ketika di Indonesia, menambah dugaan sementara atas kebohongan lelucon Nazaruddin tentang praktek politik praktis dalam tubuh PD dan KPK.

Surat “sakti” yang dikeluarkan oleh Nazaruddin melalui tim pengacaranya kepada presiden SBY, semakin menambah persepsi publik atas kasus yang menerpa dirinya itu. Hal itu pula yang menjadi indikator tentang adanya intervensi dari partai yang selama ini menjadi tempat bernaungnya. Antara dugaan permohonan belas kasihan, ancaman (soft threadment) terhadap SBY dan Partai Demokrat, serta sindiran terhadap kinerja KPK yang tengah dipertaruhkan, menjadi top isu atas dugaan itu.

Semuanya tertuju pada nyanyian Nazar sewaktu berada di tangga Mako Brimob. Adakah kebenaran tentang isu intervensi yang banyak disebut-sebut oleh tim pengacara Nazar. Atau hanya isapan jempol belaka yang sempat diungkapkan oleh tim dari PD dan KPK. Independensi lembaga KPK pun dipertaruhkan. Pasalnya, setelah skandal cicak melawan buaya mengendus, kini spekulatif yang semakin logis pun layak tuk diperbincangkan. Ada dendam dari para koruptor terhadap pemerintah dan KPK. Terbukti dengan menyulutnya penyelesaikan atas beberapa kasus yang entah kemana arah tujuannya. Lalu, dugaan terkaitnya Chandra M Hamzah, wakil ketua KPK dalam beberapa skandal korupsi.

Dalam sebuah artikel penulis menyinggung masalah kerja politik yang sangat membutuhkan ketekunan dan kesabaran. Menurutnya, kerja-kerja politik secara sosiologis misalnya, memerlukan pemahaman yang cukup terhadap masyarakat atau rakyatnya, lembaga-lembaga dan pranata-pranata sosialnya. Dan, secara intelektual mengharuskan pemahaman yang cukup tentang masalah-masalah kenegaraan (organisasi dan infrastrukturnya; politik, hukum, dan lain-lainnya). Di atas itu semua, secara etis seorang politikus hendaknya berusaha secara optimal mendasarkan setiap langkahnya pada etika dan kepatutan.

Etika dan kepatuhan dalam artian politis memiliki esensi sebagai akhlak politik yang sebagaimana telah diungkapkan oleh banyak pengamat ia berkontribusi terhadap sirkulasi pemerintahan di suatu negara. Akhlak politik dalam negara dengan sistem demokrasi cenderung mengedepankan kebebasan dan transparansi. Tidak ada unsur yang ditutup-tutupi. Apalagi sampai “dilupakan”. Hal yang sedang dipertontonkan oleh politikus PD, Muhammad Nazaruddin. Beranggapan secara politis memang sering melahirkan konflik politik yang juga sejalan dengan istilah “perang wacana”. Walhasil, kecenderungan Nazar berpolitik (tanpa) secara humaniora, seperti lagu “lupa-lupa ingat” akan menghadirkan sebuah idolisasi untuk dirinya sendiri. Meskipun tanpa ia sadari.[]

Penulis, Mahasiswa Jurusan Sejarah Fakultas Adab dan Humanira UIN SGD Bandung

About diankurniaa

Dian Kurnia. Blogger; Penulis Lepas di koran lokal dan nasional; Mahasiswa Sejarah UIN SGD Bandung.
This entry was posted in Opini, Politik and tagged , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s