Korupsi dalam Persfektif Sejarah

Oleh DIAN KURNIA

Republika, 9 Nopember 2011

kaya-korupsi-noKORUPSI telah menjadi budaya di negeri ini. Hampir setiap lini kehidupan tak luput dari pemberitaan korupsi. Dari tingkat atas (pemerintah) hingga tingkat bawah (rakyat), skandal korupsi selalu menjadi headline surat kabar lokal maupun nasional. Korupsi adalah kejahatan besar dan luar biasa yang membahayakan kelangsungan pembangunan negara. Keterikatan kita oleh ‘tradisi-budaya’ korupsi merupakan bentuk penjajahan baru yang lebih ‘sadis’ ketimbang penjajahan Belanda dan Jepang. Korupsi tak berwujud dan tak memiliki senjata fisik sebagaimana Belanda dan Jepang miliki. Korupsi bagai bom waktu yang suatu saat bisa meledak dan menghancurkan negara ini.

Hingga detik ini, skandal korupsi para koruptor selalu menjadi menu utama dalam pemberitaan surat kabar. “Kalau nggak ada korupsi, bukan Indonesia namanya.” Begitulah kira-kira adagium yang pantas untuk menggambarkan wajah Indonesia saat ini. Beberapa kasus yang sempat mencuat, seperti kasus Nazaruddin yang sempat menjadi top isu di beberapa media, kasus persengketaan Banggar dengan KPK dalam hal pembahasan RAPBN 2012, mencuatnya kembali kasus pembunuhan Nasrudin Zulkarnain, hingga kisruhnya beberapa lembaga negara atas dugaan korupsi yang melibatkan anggota fraksinya telah menyulutkan optimisme publik tentang penangan masalah tindak pidana korupsi.

Duduk permasalahan penyelesaian persoalan korupsi adalah bahwa masyarakat belum bisa melihat dengan jelas kesungguhan pemerintah dalam upaya memberantas tindak pidana korupsi. Mungkin menjadi tidak berlebihan kiranya jika Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mengubah jargon politis “Lanjutkan!” menjadi “STOP, Hentikan!” Terlebih ketika muncul polemik baru seputar pro kontra pemberian remisi bagi terpidana kasus korupsi dan kejahatan luar biasa lainnya yang semakin membingungkan publik atas sikap pemerintah selama ini.

Dalam buku yang bertajuk Panduan Untuk Memahami Tindak Pidana Korupsi, terbitan KPK, disebutkan bahwa pemberian hadiah (gratifikasi) kepada penyelenggara negara dan berhubungan dengan jabatannya, jika tidak dilaporkan ke KPK menjadi salah satu bentuk tindak pidana korupsi. Menurut catatan Pacific Economic and Risk Concultacy (PERC), pada tahun 2005 silam Indonesia menempati dudukan pertama sebagai Negara terkorup di wilayah Asia. Korupsi sudah menjadi adat kebiasaan yang tidak kita sadari hingga terasa sangat sulit persoalan korupsi untuk diselesaikan secara tuntas.

Ketimpangan hukum yang berlaku, berlama-lamanya penyelesaian skandal ‘hitam’ para pejabat korup, serta perilaku kekanak-kanakan anggota DPR dalam mengemban tugas serta fungsinya, menunjukan evidensi merdekanya para elite politik korup yang menjunjung tinggi simbol-simbol keambiguan dengan mengatasnamakan keadilan sosial bagi rakyat Indonesia. Janji semu  pembangunan yang sering digembor-gemborkan pemerintah kian menjauhkan bangsa dari cita-cita kemerdekaan yang sesungguhnya. Cita-cita mencerdaskan kehidupan bangsa dan menyejahterakan kepentingan umum seakan menjadi idealisme utopis para bandit negara.

Potret korupsi yang menyebar hampir di setiap sektor kehidupan, tak cukup layak disebut sebagai keberhasilan ekonomi negara, apalagi bukti kesejahteraan rakyat, walaupun (SBY) dengan pendekatan kharismatisnya terus-menerus memburu optimisme publik atas kinerjanya. Bukan tanpa alasan rupanya ketika negara semakin tak jelas arah perjalanannya. Managerial sistem pemerintah yang terkesan jauh dari ketegasan telah melucuti pengorbanan para ‘pekerja’ kemerdekaan. Nilai juang yang semestinya terpatri dalam jiwa penerus bangsa, kini sudah di(ter)jual murah oleh mafia anggaran. Sila keadilan sosial dan penghargaan terhadap hak-hak orang lain yang sangat dijunjung tinggi, tak ubahnya bagai omong kosong.

Inilah dasar ketidakbecusan pemerintah dalam mengupayakan kemerdekaan yang sesungguhnya. Mekanisme juang yang ditawarkan hanya sebatas pada tatanan politik praktis. Berbekal modal kharismatik di hadapan publik, pemimpin bangsa semakin meroket menumpahkan kelembekan sikap di era globalisasi yang kian mendera. Publik semakin terbingungkan. Simaklah pernyataan khalifah keempat, Ali bin Abi Thalib RA, “Apabila sikap lemah lembut menyebabkan terjadinya kerusakan dan pembangkangan, maka sikap tegas adalah bentuk lain dari ‘kelemahlembutan’ itu sendiri.”

Persfektif historis

Budaya korupsi yang kini ‘menggerayangi’ bangsa kita, sesungguhnya terjadi bukan tanpa sebab dan permulaan. Jauh sebelum Indonesia merdeka, para pendahulu bangsa sudah melegalkan praktek korupsi dalam lembaga konvensional pemerintahan mereka sendiri. Kehancuran kerajaan-kerajaan besar seperti Sriwijaya, Majapahit dan Mataram adalah karena perilaku korup sebagian besar para bangsawannya. Sriwijaya diketahui berakhir karena tidak adanya penerus kerajaan sepeninggal Bala Putra Dewa. Majapahit diketahui hancur karena adanya perang saudara (Perang Paregreg) sepeninggal Maha Patih Gajah Mada. Sedangkan Mataram lemah karena dipecah belah dan dipreteli gigi taringnya oleh Belanda. Semua kehancuran itu terjadi karena praktik korupsi yang berjalan dalam sistem kehidupan sosial.

Lebih luas lagi, bangsa Portugis, Spanyol dan Belanda pun gemar berkorupsi ria di institusinya. Kita tahu penyebab hancur dan runtuhnya VOC (berdiri pada Maret 1602) juga karena praktik korupsi. Lebih dari 200 orang pengumpul Liverantie dan Contingenten di Batavia kedapatan korupsi dan langsung dipulangkan ke Belanda. Kongsi dagang Belanda ini dibubarkan pada tanggal 31 Desember 1799 dengan utang sebanyak ±136,7 juta gulden.

Pada tahun 1899 C. Th. van Deventer, seorang ahli hukum yang pernah tinggal di Indonesia antara tahun 1880-1897, menerbitkan artikel yang berjudul Een eereschuld (Suatu Utang Kehormatan) di dalam majalah berkala Belanda de Gids. Dalam artikelnya, ia menyatakan bahwa Belanda berutang pada Indonesia atas semua kekayaan yang telah mereka ‘korupsi’ (Ricklefs, 2007).

Atas dasar kenyataan inilah kita wajib belajar dari sejarah. Memahami setiap geraknya secara proporsional serta mampu mengimplementasikan nilainya secara realistis dalam kehidupan nyata. Keberanian untuk berkata ‘tidak’ pada tradisi-budaya korupsi akan menentukan masa depan kita kelak, serta berpengaruh pada nasib anak cucu kita tentunya di masa depan yang penuh misteri. Semoga.■

(Penulis, Mahasiswa Sejarah Fakultas Adab dan Humaniora UIN SGD Bandung)


About diankurniaa

Dian Kurnia. Blogger; Penulis Lepas di koran lokal dan nasional; Mahasiswa Sejarah UIN SGD Bandung.
This entry was posted in Opini, Politik, Sejarah and tagged , , , . Bookmark the permalink.

49 Responses to Korupsi dalam Persfektif Sejarah

  1. zamrinata says:

    Ngomongin korupsi di Indonesia cuma bikin sakit hati maz bro. Pemimpin yang harus nya mengayomi kita malah perlahan bunuh rakyat nya sendiri…

    • Dian Kurnia says:

      Ya, seperti itulah realita negeri kita. Berdo’a saja sob buat masa depan yg lebih baik. Semoga.

  2. bensdoing says:

    revolusi mental dan revolusi moral adalah dua produk yang urgen dari bangsa ini yang harus dikedepankan terlebih dahulu….
    salam kenal !

  3. Prihatin, mau di bawa kemana negara tercinta ini… kalau rakyatnya pada doyan korupsi.
    Ditambah sebagian :

    Yang miskin gak punya jati diri, [ mau aja di perdaya ]
    Yang kaya pada lupa diri, [ hanya mementingkan dirinya ]
    Dan yang berkuasa gak tau diri !
    [ Wakil rakyat, bukan mensejahterakan malah menyengsarakan ]

  4. Noer says:

    Datang berkunjung lagi sobat…

  5. arip says:

    Cara yg paling tepat tentu saja perbaiki diri kita sendiri, meski memang susah.
    Kita terbiasa menghujat para koruptor yg ada di DPR sana, padahal mereka hanya wakil rakyat, cerminan dari rakyat itu sendiri.
    Wajah buruk mereka tentu saja merupakan cermin dari rakyat yg buruk pula. Kalaupun ada segilintir wakil rakyat yg baik, ya berarti mencerminkan dari segilintir rakyat yg baik pula.
    😀

    • Dian Kurnia says:

      Itu poin paling penting, perbaiki diri sendiri🙂
      “Menghujat” itu perlu. Tentunya dengan solusi jitu. Guna mengejawantahkan sikap kotor para koruptor. Rakyat juga sedikit banyaknya punya andil dalam “mensejahterakan” para koruptor yang kini banyak mereka hujat. Ini lumrah dan sering terjadi di Indonesia. Mari kita sosialisasikan pendidikan politik yang komprehensif serta profesional kepada segenap elemen bangsa. Karena “Jika pendidikan tidak berpolitik, kita akan dipolitikkan oleh pendidikan,” begitu tulis Freire (Munawar, 2001: 365).
      Wallahu’alam

  6. elfarizi says:

    Korupsi bisa ditemukan diaman-mana sekarang😀
    Wah, anak UIN juga yaaa?
    Hebat nih dah nulis di Republika …

    Selamat berkarya😀
    Link-nya saya share di blog ya …

  7. yisha says:

    ngga mungkin bangets deh kaya’nyaaa

  8. Korupsi itu udah seperti bernapas bersama dengan rakyat indonesia.

    oh iya link Mas Dian sudah saya pasang di MarcheiJourney..

  9. nandobase says:

    Korupsi itu adalah sebuah pengkhianatan terhadap bangsa dan rakyat. Korupsi itu menggerogoti tiang pondasi negara dan membawa kepada kehancuran.
    Apa hukuman yang pantas untuk seorang pengkhianat?
    Di zaman perang kemerdekaan, seorang pengkhianat akan langsung ditembak mati tanpa melalui proses pengadilan.

    • Dian Kurnia says:

      Sekarang tidak semudah itu mas. Hukuman penjara untuk koruptor saja sudah terlampau sulit untuk direalisasikan, apalagi hukuman mati?
      Poin penting dari masalah ini hemat saya bagaimana kita mampu merefleksikan nilai-nilai kejujuran dalam keseharian. Itu saja. Hingga korupsi akan hilang dari alur budaya bangsa Indonesia. Semoga.

  10. Hijauku says:

    Pemerintah Indonesia cuma disibukan oleh masalah korupsi yang tiada akhir dan jarang terungkap!
    koruptor sama seperti teroris,,orang seperti mereka gk pantas hidup di muka bumi ini,,hukum mati koruptor!

  11. asril tandjung says:

    korupsi memang sudah mendarah daging di Indonesia, susah dihilangkan.
    ada sesuatu buat mas bro http://asriltandjung.wordpress.com/2012/01/14/award-awal-tahun/

    • dc0de says:

      Matur nuwun mas Asril atas award-nya. Bulan ini udah dapet tiga award dari sahabat ngeblog..
      Terima kasih sekali lagi mas Aril…🙂

  12. Noer says:

    Membaca tulisan Mas Dian, beberapa contoh peristiwa korupsi, sejak jaman kerajaan, kemudian era penjajahan sampe sekarang umumnya tidak jauh dari pusaran kekuasaan. Jadi, bener apa yg dikatakan oleh Lord Acton yg mengatakan bahwa kekuasaan itu cenderung korup. Disamping mentalitas para pejabat, peluang untuk melakukan korupsi pada lingkungan ini memang sangat besar. Lah wong mereka yg ngatur dan pegang uang sih.

    Walaupun pada cerita yg lain, kita jg mendengar ada kerajaan dimana penguasanya sangat meneggakan keadilan. Konon Ratu Sima, dulu pernah memotong tangan anaknya sendiri karena mencuri. Sehingga pada saat itu, rakyatnya menjadi patuh pada hukum.

    Kalo pada tingkatan orang kecil, saya masih melihat petani-petani di negeri kita ini masih jujur. Ini dikarenakan mereka masih kuat memegang tradisi yg diajarkan oleh para leluhurnya, ketimbang para pejabat yg telah meninggalkan akar tradisi.

    Kalo mental korupsi ini terus berkembang, pengalaman bubarnya kerajaan sriwijaya, majapahit dan mataram, mungkin bakal menimpa negara kita sekarang ini. Wah, jangan sampe terjadi kayak gini. Kalo negara bubar ngeri ya mas…

  13. tuaffi says:

    harus optimis..😀 semoga bisa ilang segera tindk korupsi negeri ini.

  14. putracisc says:

    korupsi itu seperti DBD. mewabah..😀

  15. Abed Saragih says:

    memang korupsi itu udah menjadi budaya kita mas bro🙂

    susah ngilangin nya🙂

  16. riez says:

    bicara korupsi memang tidak ada habisnya,sebenernya korupsi itu bisa hilang kalo pribadi masing berpondasi kuat untuk tidak melakukan KKN

    ow iya link mu udah aku pasang dgn ID: dian’s blog thanks dah mau tukeran link

    ~salam plur~

  17. Datang hanya ingin mengucapkan.
    Selamat Tahun Baru 2012.
    Semoga Tahun 2012 lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya. Amin.
    Salam persahabatan selalu.

  18. putracisc says:

    Selamat tahun baru 2012 masbro.
    sukses buat kita bersama🙂

  19. teeyara says:

    Sya stlah lulus kuliah disuruh lgsg kluar negri soalnya negri sndri uda bobrok😦

    wah keren jd pnulis di republika😀

    • Dian Kurnia says:

      Kemana mbak luar negerinya?
      Tapi harus tetap optimis dong🙂
      Alhamdulillah, sedang mencoba serius di Republika. Do’anya saja ya…🙂

  20. Gustav says:

    Gan Ngasih Pengumuman nih gan ..
    Blog agan udah ane backlink ….

    oh ya ini pesenan agan…hehehe ternyata ane lupa blum buat post ttg itu.
    http://gustavpc.wordpress.com/2011/12/31/cara-membuat-widget-melayang-sosial-network/

  21. Tanamkan akhlak sejak dini agar tak korupsi,😀

  22. budiastawa says:

    Kalau memberantas korupsi itu gak boleh tebang pilih. Harus sapu bersih. Kalau masih milih-milih, sampai kapanpun negara kita nggak akan pulih😀

  23. Ichaawe says:

    iya yah menyedihkan… korupsi itu sepertinya seudah mendarah daging, mengalir di tiap nadi bangsa kita😦 dari mulai korupsi yang triliunan sampai korupsi kecil2an anak SD. Anak SD juga udah bisa korupsi loh. korupsi uang sekolah yang dipake jajan. parah deh. miris😦 … macam korupsi itu sudah biasa dan ga berdosa😦

  24. ardhyanz says:

    Takkan pernah hilang yang namanya korupsi, selama sistem hukum yang diterapkan kepada para pelakunya masih belum bisa memberikan efek jera, maka dalam hal ini siapa yang sangat bertanggung jawab terhadap masalah krusial yang sudah sangat pelik ini??? Kita tidak bisa lagi berpedoman pada sistem yang ada, harus ada perubahan dalam tatanan hukum khususnya di negeri ini. Namun kita juga masih harus bisa menaruh harapan pada penegak saat ini, walaupun itu mungkin akan terasa sangat sulit.
    Salam😀

    • Dian Kurnia says:

      Sudah terlihat banyak mas yang gigih memperjera koruptor. Namun memang banyak juga tunas koruptor baru. Terpenting kita tidak korupsi saja. Demikian juga dengan keluarga, sahabat, dan teman yang perlu kita jaga mereka dari perilaku korup, walaupun dalam skala kecil. Insya Allah bisa🙂🙂

  25. Irfan Handi says:

    Semoga tradisi yang sudah mendarah daging ini benar-benar bisa diberantas mas bro. Kasihan anak cucu kita kelak.

    • Dian Kurnia says:

      Aamiin🙂
      Insya Allah kekalutan saat ini akan terselesaikan oleh para pejuang yang tengah berjibaku dengan mafia hukum. Kita do’akan saja dan berusaha untuk membantu mereka walau secara kecil-kecilan…

  26. Dian's says:

    Tak akan pernah habis masalah korupsi, sudah mendarah daging.😦

    Sifat korup pasti ada dalam diri kita sejak kecil. Sebagian besar anak suka meminta uang lebih kepada orang tua, untuk membeli buku misalnya. Mungkin di sisi ini fungsi pendidikan harusnya berperan, untuk membentuk karakter dengan minim sifat korup, bahkan hilang.

    Agar nanti saat anak itu dewasa tak menjadi penerus mereka yg korup. Sekolah seharusnya mendidik, tidak hanya mengajar.😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s