Refleksi Perjuangan Germa di Indonesia

Oleh: DIAN KURNIA

demo-uin-bandungSEJARAH berbicara gamblang tentang realita pada masa lalu. Realita yang menghadirkan sisi unik untuk dikaji dan diteliti oleh sejarawan. Pun demikian dengan sisi tragis yang sifatnya global. Seperti tragedi Malari 1974 dan Reformasi 1998. Sejarah adalah icon kecerdasan bersama (collective intelegence) bangsa ini. Karena keterkaitannya antara masa lalu dengan masa kini yang cukup relevan, maka Soekarno pun berkata : “JAS MERAH!” Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah. Baik dalam ranah spekulatif maupun ranah kritis, penjelasan sejarah selalu berangkat dari dua aspek, yakni data dan fakta. Keduanya berfungsi sebagai landasan interpretasi-argumentatif atas keilmiahan sejarah. Hingga, dikenal istilah “no document no history” (tidak ada dokumen, berarti tidak ada sejarah).

Berbicara sejarah bangsa tentu tidak lepas dari potret gerakan mahasiswa atau germa. Selain sebagai salah satu lokomotif perubahan –disamping gerakan petani dan gerakan buruh yang cenderung revolusioner– germa memiliki nilai historis yang cukup panjang. Hingga, pada puncaknya ia selalu berhasil ‘mendikte’ ketimpangan manajerial sistem pemerintah yang berjalan di atas pola kediktatoran rezim.

Secara umum germa adalah dunia politiknya mahasiswa. Berbeda dengan dunia politik pada umumnya yang secara definitif sering dikaitkan dengan konsep negara dan pemerintahan, germa justru berpolitik di luar ke dua aspek tersebut. Mereka berpolitik ketika terjadi pembiasan arah kebijakan pemerintah yang cenderung menindas dan melukai hati rakyat. Politik merupakan tulang punggung sejarah (politics is the backbone of history). Begitu pula dengan germa (karena ia masuk dalam studi sejarah pergerakan). Keduanya berjalan beriringan secara memanjang dalam dimensi waktu. Nama-nama seperti GMNI (Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia), HMI (Himpunan Mahasiswa Islam), PMKRI (Persatuan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia), dan KAMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia) adalah potret germa era Demokrasi Terpimpin yang berhasil mendikte pemerintah ‘nakal’ hasil interfensi kaum sosialis komunis.

Kendati demikian, berbagai peristiwa heroik yang melibatkan germa dalam rangka mereaktualisasi perubahan pra kemerdekaan lambat laun dipertanyakan oleh sejarah. Tujuan memperjuangkan kepentingan rakyat dan bangsa di atas kepentingan kelompok dan golongan tertentu (efek budaya politik praktis) menjadi tak sekontras dahulu. Alhasil, arah perjuangan germa saat ini semakin jauh dari jalur yang semestinya dilalui. Menyitir pernyataan Ketua Umum Gerakan Mahasiswa Pelajar Indonesia (GMPI), Danial Nafis, bahwa: “Seperti telah terjadi degradasi semangat perjuangan gerakan mahasiswa (germa) sekarang.” Lanjutnya, “Harus dikembalikan ke khitohnya, yaitu memperjuangkan kepentingan rakyat dan bangsa di atas kepentingan kelompok dan golongan tertentu.”

Sadar atau tidak, perubahan –sebagai ruh perjuangan germa– dalam konteks apa pun akan terus berjalan. Ia melintas dalam lintasan sejarah, bergerak setahap demi setahap (step by step) dengan atau tanpa diketahui oleh dunia luar. Gagasan tersebut merupakan proses evolutif. Peristiwa Malari tahun 1974 dan Reformasi tahun 1998 adalah prototype atas tesis di atas. Dan, pada akhirnya, ia menemukan titik start baru untuk melompat lebih jauh menuju tangga perubahan berikutnya.

Basis perjuangan

Selain sebagai peneliti ilmu di kampus, mahasiswa berfungsi sebagai ‘pendekar’ dalam lingkup tatanan sosial. Mereka mengontrol dan meluruskan kebijakan pemerintah yang menyimpang dari jalur demokrasi. Potret ini terekam ketika tragedi Mei 1998 berkecamuk di Jakarta. Mahasiswa berkonfrontasi dengan pemerintah sampai titik darah penghabisan. Sumpah mahasiswa Indonesia dengan lantang bergema di seluruh penjuru negeri. Rezim diktator Soeharto (alm) pun ‘gulung tikar’ dari kursi kepresidenan. Mahasiswa sebagai aktor sejarah dalam tubuh germa memiliki peran strategis, yakni sebagai inti (core) atau basis perjuangan dalam memperjuangkan kepentingan rakyat yang jauh dari kesejahteraan akibat ketimpangan moral pejabat pemerintah.

gerakan mahasiswaApa yang lebih puitis selain berbicara lantang tentang keadilan. Begitulah kira-kira ‘slogan’ perjuangan germa di negeri ini. Namun, idealisme perjuangan awal mereka yang jauh dari unsur kepentingan kelompok dan golongan, kini luntur dan menghilang ditelan gelombang politik praktis. Gebrakan ‘revolusioner’ yang mewarnai aksi mereka, sudah membias dari konteks awal. Tengok potret buram yang baru-baru ini dipertontonkan oleh oknum mahasiswa Universitas Negeri Gorontalo (UNG). Tercatat, sebanyak 41 mahasiswa terlibat langsung dalam aksi tawuran yang melibatkan fakultas Teknik dan Fakultas Ilmu Pertanian. Selain merugikan kredibilitas mahasiswa sebagai kaum intelektual yang jauh dari kesan anarkis, tragedi yang telah memusnahkan gedung laboratorium Fakultas Ilmu Pertanian ini juga berhasil mencederai anggota mahasiswa lain yang menjadi korban.

Hal senada dipertontonkan oleh mahasiswa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan program studi Pendidikan Jasmani dan Kesehatan dan Rekreasi melawan mahasiswa Fakultas Hukum (FH) Universitas Suryakancana, Cianjur. Persoalan sepele menjadi biang keladi tragedi memilukan ini. Kedua peristiwa miris di atas hanya sebagian kecil dari sekian banyak potret buram sisi kehidupan mahasiswa era reformasi yang berimbas langsung pada status germa sebagai gerakan perubahan.

Kepentingan politik praktis telah melunturkan idealisme perjuangan germa. Hemat penulis, indikasi degrasi perjuangan germa bukan hanya terletak pada persoalan hilangnya idealisme tersebut. Budaya materialisme-kapitalistik yang cenderung melegalkan gaya hidup konsumerisme-hedonistik juga telah menggerayangi sisi internal kehidupan psikologis mahasiswa. Mental juang yang sejatinya terpatri dalam jiwa mahasiswa dan germa semakin sulit terdeteksi. Selain karena dampak globalisasi yang kian mendera, degradasi perjuangan germa pun terjadi karena atmosfer akademis kampus yang kian berubah. Nepotisme para pejabat kampus (dari tingkat pimpinan universitas hingga tingkat jurusan), serta hilangnya daya nalar mahasiswa karena kurangnya minat baca ditambah kurangnya kemampuan menulis karya ilmiah, telah melatarbelakangi munculnya permasalahan krusial di atas.

Membangun kesadaran bersama diantara mahasiswa dan kampus dalam mengoptimalisasikan konsepsi Tri Darma Perguruan Tinggi (Pendidikan, Penelitian, dan Pengabdian) adalah solusi yang patut digagas dan direalisasikan bersama. Jangan sampai terjadi kemandegan komunikasi antar keduanya yang malah akan memperburuk keadaan bangsa ini.  Akhirnya, ketika permasalahan bangsa yang sudah sedemikian hebat menggema, germa sebagai lokomotif perjuangan mahasiswa dalam menyuarakan aspirasi publik pun akan semakin anjlok dari rel pergerakan. Hingga, ia menghilang dalam pencaturan sejarah bangsa. Lalu pertanyaanya, siapa kelak yang mampu menghunuskan ‘pedang revolusi’ pada pemerintah ketika manajerial sistem kenegaraan sudah semakin amburadul karena ulah bandit negara dan mafia hukum, selain daripada germa?■

Penulis, Mahasiswa Sejarah Fakultas Adab dan Humaniora UIN SGD Bandung

About diankurniaa

Dian Kurnia. Blogger; Penulis Lepas di koran lokal dan nasional; Mahasiswa Sejarah UIN SGD Bandung.
This entry was posted in Gerakan, Opini, Sejarah and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s