Resonansi: Suparmin dan Perampok

Oleh: AHMAD SYAFI’I MAARIF

Pembaca setia ruang Resonansi ini tentu masih ingat sosok seorang Suparmin, pria cacat fisik sejak dalam kandungan. Pada 27 September 2007, Resonansi itu berjudul “Suparmin Korban Gempa 27 Mei 2006”. Sahabat kita ini harus saya tampilkan lagi. Bukan karena apa-apa, melainkan karena memang perjalanan kariernya sebagai tukang asah pisau-asah gunting sarat dengan pengalaman yang terasa tidak bisa diterima nalar.

Pada 27 November 2011, Parmin mampir ke tempat saya untuk asah pisau. Saya tunggui dia sambil menyimak pengalaman hidupnya yang dramatis sampai rampung melaksanakan tugasnya dengan baik. Saya sangat percaya dengan tutur katanya karena dia jujur dan lugu.

Demikianlah pada suatu hari di Terminal Bus Kartasura (Surakarta-Jawa Tengah) jauh sebelum gempa 2006, Parmin didekati oleh seseorang yang langsung memaksanya agar uang yang ada di dompetnya diserahkan segera. Semula Parmin mengatakan tidak punya uang. Tetapi, karena terus didesak, dompetnya dibuka dan dikeluarkan uang sebanyak Rp 60 ribu hasil jerih payahnya berlawalata pada hari itu dengan tongkatnya yang setia.

Perampok memaksa agar seluruh isi dompet itu diserahkan kepadanya. Terjadilah dialog singkat. Parmin meminta agar disisakan Rp 20 ribu untuk ongkos bus pulang ke kampungnya. Entah suara apa yang menyelinap ke dalam hati si perampok, uang Parmin malah tidak jadi diambil. Parmin bahkan diajak masuk warung makan tanpa harus mengeluarkan uang karena yang membayar adalah orang yang mengajak itu. Parmin kali ini terbebas dari rampokan.

Kejadian nahas kedua di atas bus Sumber Kencono di Klaten, pascagempa 2006, sekitar dua tahun yang lalu. Parmin baru pulang dari Jawa Timur mengais rezeki selama beberapa hari di sana. Di dompetnya tersimpan hasil jerih payahnya sejumlah Rp 1,1 juta. Bagi Parmin, jumlah ini banyak sekali. Tetapi, apa yang berlaku di atas bus itu? Tiga perampok memaksa Parmin menyerahkan dompetnya, padahal HP dan KTP-nya tersimpan pula di dalamnya. Ancaman perampok berbunyi: “Jika kamu tidak menyerah kan dompetmu, akan kami patahkan kakimu, dan jangan berteriak.” Kaki Parmin yang sangat tidak normal itu malah mau dipatahkan.

Luar biasa beringasnya perampok ini. Parmin pasrah dengan permintaan si perampok. Jika dia mati, mohon KTP-nya diserahkan kepada istrinya di Gunungkidul agar ada yang mengurus jenazahnya. Maka, terjadilah apa yang terjadi. Dompet dan seluruh isinya diserahkan, tak sesen pun lagi yang tersisa. Lalu, bagaimana untuk ongkos pulang?

Parmin minta jasa baik polisi yang semula tidak percaya, tetapi akhirnya dibantu. Saya masih ingat tidak lama setelah tragedi itu, Parmin minta dibelikan HP, tetapi cerita rampokan itu secara rinci belum sempat diceritakan. Sambil asah pisau tanggal 27 itu lah saya mendapatkan kisah biadab yang dialami Parmin disampaikan secara lengkap kepada saya. Reaksi saya hanya termangumangu sambil menghela napas dalam sekali.

Ternyata, ada manusia jenis perampok yang pertama yang pada akhirnya tidak jadi melaksanakan perbuatannya atas seorang Parmin dengan kondisi fisik tanpa tongkat tidak bisa pergi ke mana-mana. Jenis kedua adalah tiga perampok yang ingin mematahkan kaki Parmin, jika dompet tidak diserahkan seketika. Siapa tahu jenis kedua ini akan sempat membaca Resonansiini dan sadar, lalu memohon maaf kepada Parmin sambil mengembalikan harta yang dirampoknya.

Tuan dan puan, inilah kondisi dunia yang kita tempati bersama. Gelap dan terang bertetangga. Ada manusia jenis serigala, ada pula jenis merpati. Parmin masih hidup bersama kita dengan suara lirih: asah pisauasah gunting. Jika pada suatu hari singgah ke tempat Anda, ajaklah dia berbincang sambil menyerahkan pisau atau gunting yang perlu diasah. Parmin bukanlah tipe manusia peminta-minta. Dia tegar dalam filsafat berdikarinya yang tahan banting.[]

Republika, Selasa, 06 Desember 2011

About diankurniaa

Dian Kurnia. Blogger; Penulis Lepas di koran lokal dan nasional; Mahasiswa Sejarah UIN SGD Bandung.
This entry was posted in Opini, Pengalaman and tagged , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s