Google dan Masyarakat Jejaring

Dian Kurnia

logo-google arifjayarana wordpress comSebagai salah satu mesin pencari, google (www.google.com) terbilang sukses menjadi top 1 search engine karena keberadaannya yang sangat digandrungi oleh mayoritas neter. Selain karena faktor kecerdasannya sebagai mesin pencari (semantic web), google juga menyediakan banyak layanan lain yang cukup menarik, seperti: google book, google docs, google adsense, hingga yang terbaru google+ atau g+ yang diluncurkan pada 28 Juli 2011 lalu.

Namun dari semua hal tersebut di atas satu poin penting yang menjadikan google tangguh sebagai “jawara” mesin pencari ketimbang mesin pencari lainnya adalah faktor komplitsitas. Hampir semua data yang dicari oleh user akan tersedia di database google. Tinggal ketik kata kunci (keyword) di form pencarian, lalu klik tombol search, maka keluarlah daftar hasil pencarian yang diinginkan. Menurut saya, poin inilah yang menjadi senjata utama mbah google sebagai jawara SE di jagatmaya yang diciptakan oleh Larry Page dan Sergey Brin (mahasiswa Universitas Stanford) pada 4 September 1998.

Kini istilah googling pun sudah tak asing lagi di telinga kita karena tiap menit bahkan detik istilah tersebut didengungkan oleh masyarakat jejaring. Googling aja..!” Begitulah kira-kira pernyataannya. Hal ini menjadi indikasi logis bahwa google memang cukup dikenal oleh publik yang diantaranya diisi oleh kalangan akademik seperti: pelajar, mahasiswa, dan dosen.

Manuel Castells menyatakan bahwa masyarakat jejaring adalah sebuah masyarakat sosial yang terbentuk dengan kekuatan jejaring informasi berbasis mikroelektronik dan teknologi komunikasi. Melalui struktur sosial semacam ini, lanjutnya, Castells memahami pengaturan organisasi manusia dalam hubungan-hubungannya dengan pengamalan produksi, konsumsi dan kekuasaan diekspresikan dalam komunikasi yang disandi melalui kebudayaan.

Dalam term umum, googling yang secara resmi sudah masuk dalam Oxford English Dictionary, merujuk pada aktivitas mencari data di internet (database google). Dan kini, hampir semua lapisan masyarakat secara antusias tertarik melakukan googling dalam pekerjaan mereka. Pengalaman saya, google mampu memberikan semua hal (data) yang saya perlukan baik untuk keperluan kuliah atau pun sekedar bahan menulis artikel. Dari data berbentuk teks, gambar, audio serta video sudah tersedia di google.

googling - naladwipa orgKehidupan era digital yang serba cepat serta menuntut keakurasian tinggi dalam hal pekerjaan, internet (google) cukup disambut hangat oleh khalayak ramai. Tak pelak term masyarakat jejaring (network society) pun muncul sebagai konsekuensi logis atas lahirnya internet (cyberspace).

Dalam buku Islam Digital (2011), penulis dengan mengutip pendapat Manuel Castells menyatakan bahwa masyarakat jejaring adalah sebuah masyarakat sosial yang terbentuk dengan kekuatan jejaring informasi berbasis mikroelektronik dan teknologi komunikasi. Melalui struktur sosial semacam ini, lanjutnya, Castells memahami pengaturan organisasi manusia dalam hubungan-hubungannya dengan pengamalan produksi, konsumsi dan kekuasaan diekspresikan dalam komunikasi yang disandi melalui kebudayaan.

Ekspresi masyarakat di internet terbilang beragam. Begitu pun dengan cara penggunaannya yang sangat bervariatif. Hal ini bisa diihat secara objektif ketika kita berada di lingkungan kampus, misalnya. Setiap individu adalah mereka yang sedang asik “menggauli” internet sesuai kebutuhan. Keragaman sikap onliners terlihat di sini. Apalagi onliners yang nongkrong di mall dan tempat keramaian lain. Ada yang sedang ngeblog, update status di facebook dan berkicau di twitter, ada juga yang sedang ngimel. Selain itu ternyata ada juga masyarakat yang menggunakan google sebagai media promosi usahanya.

Googling sudah sangat merakyat. Dari anak kecil hingga orang dewasa akrab dengannya. Di dalam perangkat mobile layaknya handphone, Ipad, dan tablet PC pun tak lepas dari google sebagai perangkat surving. Hampir bisa dikatakan, setiap pekerjaan, apa pun bidangnya, kini tengah menyenderkan diri pada “otoritas” google sebagai sebuah tool pencarian data terlengkap. Terutama bagi pekerja yang menghendaki adanya mobilitas tinggi, seperti jurnalis dan usahawan. Tak berbeda halnya dengan kalangan akademik, seperti: pelajar, mahasiswa, dan dosen yang kini memporsikan google sebagai sumber ilmu disamping (buku) perpustakaan yang mulai ditinggalkan secara bertahap oleh masyarakatnya. Layanan free dari google seperti google book dan google docs mereka jadikan ladang “pencurian” ilmu yang halal.

Kehidupan era digital yang serba cepat serta menuntut keakurasian tinggi dalam hal pekerjaan, internet (google) cukup disambut hangat oleh khalayak ramai. Tak pelak term masyarakat jejaring (network society) pun muncul sebagai konsekuensi logis atas lahirnya internet (cyberspace).

Dengan semakin cepat dan maraknya pertukaran informasi dalam timbunan gigabyte atau bahkan terabyte data, google semakin dinamis meningkatkan kualitas layanan sebagai mesin pencari nomer wahid di jagatmaya. Masyarakat pun semakin ternina bobokan oleh eksistensi google. Gedung perpustakaan semakin hening dengan keangkerannya. Hanya beberapa kutu buku yang setia datang menyantroni gedung “tua” itu. Begitu juga dengan buku-buku teks berbasi pelajaran yang kian jauh dari empunya (pelajar).

Disinilah terasa pentingnya filter pemikiran kita sebagai masyarakat jejaring yang senantiasa bergaul dengan internet [baca: Google]. Jangan sampai kita salah berfikir dalam memahami dan memetakan secara bijak konsep nalar dalam diri di tengah-tengah kegamangan teknologi informasi. Akhirnya, ber-google-lah secara sehat. Hingga kita mampu berfikir jika seandainya google tiba-tiba hilang tanpa jejak. Pertanyaannya, dengan apa kita mampu mencari sesuatu (data) secara tepat dan cepat seandainya suatu saat nanti ketika google benar-benar hilang dari peredaran melainkan dengan kemampuan otak kita sendiri?[]

About diankurniaa

Dian Kurnia. Blogger; Penulis Lepas di koran lokal dan nasional; Mahasiswa Sejarah UIN SGD Bandung.
This entry was posted in Internet, Opini and tagged , , . Bookmark the permalink.

2 Responses to Google dan Masyarakat Jejaring

  1. diankp says:

    haloo nanya dong, aku kan juga pake wordpress, kalau mau pasang histast.com gmn ya, soalnya aku pernah masang tp jdnya yg keluar malah tulisannya, makasih🙂

    • Dian Kurnia says:

      Coba digoogling aja ya. Sy jg udah lama jd lupa lg. Yg pasti script histat nya kita ubah, disisipi.script.lain….. sukses!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s