Sajak: Ziarah Kebisuan

Oleh: Dian Kurnia

LONCENG kematian kian menggema. Jeritan si bocah menambah kelam seisi ruangan. Putih bersarikan kelambu hijau. Peluh darah mengukir leher kecil tanpa sepersen pun nyawa. Aduhai indahnya pemandangan itu bagi sang sastrawan. Di sisi lain, mereka terkapar membisu. Diselimuti jeratan selang tak bertulang. Menusuk setiap lubang kehidupan. Dalam diam aku bergumam, Ibu, alangkah sakitnya dicabut nyawa!

Rintihan alam di sore ini terdengar begitu menggoda. Kumulai membaca dan bertanya. Oh, rupanya mentari baru terjaga saat hujan menghempas gerombolan awan petrocumulus di ufuk timur. Namun, mengapa mentari tenggelam pagi ini. Kegelapan menyergap si pengumbar do’a. Sial, ia terlantar di dalam cangkir tak beratom.

***

SUATU malam, gelegar halilintar pecahkan kelam. Gerombolan badai liar berlalu-lalang diantara tumpukan puing-puing kesabaran. Melululantahkan harapan di  keranda tua. Seorang bocah lusuh memapah mamaknya. Sementara bapaknya terkapar bersimpah darah segar. Menusuk hingga ke alveoli terdalam. Bau amis, suasana mencekam. Dan, Tuhan berkata di sana, “Kemarilah wahai hambaKu!

***

SIANG ini terlihat sangat kacau. Air bah menggulung ternak, menghancurkan! Debu panas berorasi di atap rumah, juga menghancurkan! Menyuarakan keadilan dalam kubangan lumpur panas, malah tak didengar! Si miskin lahap memakan tanah basah karena tak ada beras. Si borjuis memapah zebra di tengah trotoar sambil mengunyah dedaunan. Ia melambai-lambaikankan tangan emas sembari meledek si miskin “Kasihan sekali kalian!” lalu pergi menghilang. Di terang benderang, manusia berpaling dari Tuhan, tapi tak semua Ada dua, tiga, empat, atau bahkan lebih yang masih merenung di setiap malam. Hingga, “Jahanam sekali, kalian, wahai manusia pendusta!” gerutu sang awan di atas ubun-ubun merah mereka.

Selayang, kutatap rona mentari yang mulai memerah padam. Di balik dedaunan kering di atas balkon hijau. Kopi hitam segera kugelontorkan ke dalam darah pekat. Alhamdulillah, nikmat sementara baru kurasa :)

***

AWAN merah tak begitu bersinar ketika hujan tadi siang bergelombang menggerayangi atap balkon rumah. Pantulan sinar pelangi pun tak sempat terlihat. Apalagi keindahan rona mentari yang tersapu awan merah beriringan. Pertanda malam akan segera berterbangan lagi di pelupuk kemesraan dedaunan ilalang.

Padang Adenium menyebarkan bau mawar. Putih yang tak begitu indah. Cukup pantas disebut pucat pasi. Aromanya tak semerbak parfume melati wanita paruh baya yang kira-kia sudah dua jam lebih berdiri di depan nisa kuburan anaknya. Di seberang padang Adenium.

Lusuh tapi harum melati. Tubuh wanita itu tegar dihantam badai. Bagai beringin di tengah himpitan tiang listrik desa. Aroma melati yang tersiram air terpancar dari dalam kebaya hijau. Bersulamkan jejaring emas di tangan. Melambaikan amarah kegirangan di pusara bocah malang. Terlihat di nisan ukuran 3 meter itu, “Korban Kelaparan!

***

Bersambung…

About diankurniaa

Dian Kurnia. Blogger; Penulis Lepas di koran lokal dan nasional; Mahasiswa Sejarah UIN SGD Bandung.
This entry was posted in Renungan, Umum and tagged , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s