Amina Filali, Bunuh Diri Karena “Tradisi”

AMINA Filali, gadis Maroko berusia 16 tahun, akhirnya memilih menenggak racun tikus untuk mengakhiri hidupnya. Pilihan sulit itu mungkin lebih mulia baginya setelah orangtua, keluarga, dan hakim memaksanya menikahi pria yang telah memerkosanya.

Ditekan oleh masyarakat pedesaan Maroko yang konservatif, seorang hakim, dan ibu kandungnya, Amina harus menikahi pria yang menurutnya telah memerkosanya pada umur 15 tahun. Sepanjang kehidupan pernikahan, deritanya tak berhenti karena mengalami kekerasan dalam rumah tangga. Hanya ada satu jalan keluar menurut Amina: bunuh diri.

“Saya harus menikahkannya dengan pria itu karena saya tidak mau membiarkan putrid saya tanpa masa depan dan terus melajang,” kata ibunya, Zohra Filali, saat ditemui di Larache, sebuah kampung di Maroko utara, seminggu setelah putrinya bunuh diri.

Departemen Kehakiman menegaskan, Amina juga setuju dan dia bukan korban. Meski demikian, kematian Amina telah menyita perhatian dan kemarahan publik. Pasalnya, sebuah pasal hukum pidana membebaskan pemerkosa anak di bawah umur jika diikuti perkawinan.

Zohra mengatakan, dia mendapati putrinya telah diserang di sebuah hutan oleh seorang pria yang lebih tua 10 tahun dari putrinya. Pria itu mengancam dengan pisau. Dia lalu membwa anak gadisnya itu kepada keluarga sang pria, dan menuntut agar dinikahkan.

Dalam masyarakat konservatif Timur Tengah, kehormatan bertumpu pada perempuan. Hubungan seks di luar nikah merupakan aib besar keluarga dan hanya dapat dipulihkan dengan pernikahan. Praktik ini berkembang sejak zaman Perjanjian Lama, dan hidup di wilayah konservatif dan suku-suku dunia Islam, seperti Afganistan.

Menurut cerita yang disampaikan orangtua Amina, amat jelas bahwa sang ibu berperan besar di balik pernikaha putrinya, yang juga mendapat persetujuan seorang hakim. Hukum juga memungkinkan pernikahan anak di bawah umur demi “menyelesaikan” kasus itu.

Kematian tragis Amina menimbulkan kemarahan public di Maroko. Ratusan aktivis pembela hak asasi perempuan turun ke jalan, Sabtu (17/3), meminta Negara merevisi UU Pidana yang mengatur tentang kasus pemerkosaan. Para demonstran menjunjung poster wajah Amina dan membentangkan spanduk sambil berteriak, “Akhiri pernikahan paksa atas korban.”

“Melalui UU ini, pemerkosaan menjadi sah,” kata Fouzia Assouli, ketua kelompok advokasi Liga Demokratik untuk Hak-hak Perempuan, seperti dimuat CNN, Minggu.

Maroko telah memperbarui kitab UU keluarga pada tahun 2004 untuk melindungi perempuan. Namun, para aktivis mengatakan masih banyak pasal yang harus direvisi. Terkait kasus pemerkosaan, misalnya, beban pembuktian sering pada korban. Jika dia tidak bisa membuktikan telah diperkosa, wanita itu bisa dituntut.

Versi Perancis tentang Pasal 475 dari UU Pidana 1962 mengatakan, “penculik”—istilah yang dapat mengacu pada penyerangan atau pemerkosa—anak di bawah umur tidak dapat dituntut jika dia menikahi korbannya. Adapun versi Arab mengacu pada orang yang “menculik atau menipu” anak di bawah umur.

Apa pun istilahnya, pasal itu dikutip untuk menjustifikasi pernikahan anak di bawah umur. Sebuah petisi di situs internet menyerukan agar UU Pidana segera direvisi. Lebih dari 3.500 orang sudah menyatakan dukungannya.

Setelah pada awalnya tetap diam dalam menanggapi kasus ini, Departemen Kehakiman akhirnya mengeluarkan pernyataan, Jumat lalu. Dikatakan, hakim telah bertindak dengan benar dan sesuai hukum, dan sejala pula dengan keinginan keluarga korban.

“Korban mempunyai hubungan dekat dengan pria yang telah menikahinya itu tak lama setelah kehilangan keperawanan. Hal itu pun atas persetujuannya sendiri,” demikian sebuah pernyataan Departemen Kehakiman.

Orangtua Amina, keluarga petani miskin di pantai yang tandus di Maroko, menegaskan, anak mereka memang telah diperkosa sebelum akhirnya dinikahkan.

Suami Amina dan keluarganya tidak dapat dihubungi.

Ketika keluarga sang pria pada awalnya menolak untuk menikahi Amina, Zohra justru memeriksakan anak gadisnya itu ke dokter. Kepada Zohra, dokter mengatakan Amina telah kehilangan keperawanannya, tapi tidak dijelaskan penyebabnya.

Tekanan social terhadap kaum gadis di pedesaan Maroko sangat kuat. “Wanita adalah korban pertama dari situasi ekonomi dan social,” kata Fathiya el-Yaakoubi, seorang aktivis.

Judul Asli: Tragedi Amina Filali, Akhiri Hidup di Bawah Tekanan Tradisi

Sumber: Kompas, 20/03/2012, hal. 10

poster-amina-filali

AP PHOTO/ABDELJALIL BOUNHAR

Perempun Maroko turun ke jalan untuk mendukung Amina Filali, yang bunuh diri pekan lalu, di depan Gedung Parlemen Maroko di Rabat, Sabtu (17/3). Di Marokoseperti di banyak negara Timur Tengah lain, tersangka pemerkosa bisa bebas dari hukuman jika menikahi korbannya karena dianggap memulihkan kembali kehormatan korban dan keluarganya. Sistem hukum di Maroko mendukung tradisi kehormatan ini, tetapi aktivis perempuan mendesak perubahan segera.

About diankurniaa

Dian Kurnia. Blogger; Penulis Lepas di koran lokal dan nasional; Mahasiswa Sejarah UIN SGD Bandung.
This entry was posted in Berita, Umum and tagged , , , . Bookmark the permalink.

4 Responses to Amina Filali, Bunuh Diri Karena “Tradisi”

  1. tiara says:

    beuh parah kalau hukum kayak gitu. bisa-bisa banyak korban karena tindak kayak gitu dilegalkan dengan jalan nikah. parah parah

  2. badru says:

    ikut nimbrung disini

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s