Surat Menjelang Kenaikan BBM

Nak, aku menulis ini ketika kamu sudah terlelap. Aku berharap kamu bermimpi indah. Malam sudah terlampau larut. Bapakmu sakit kepala. Dia memilih rebah di depan televisi, yang entah sudah berapa hari tidak menyala.

Kami tak lagi menonton televisi sejak kenaikan harga BBM mewarnai hampir setiap berita. Kami tidak sanggup melihat begitu banyak orang turun ke jalan, berteriak-teriak, meminta BBM tidak jadi dinaikkan. Tapi seolah para demonstran itu hanya aktor sandiwara rakyat, mereka yang duduk di atas sana cukup menonton lalu tepuk tangan. Demontrasi tidak mengubah apapun. Kami mungkin lelah, Nak. Lelah berharap banyak terhadap pemerintah yang konon katanya menjadi abdi masyarakat. Bagi kami, kamu bisa makan dengan lahap, itu cukup membuat kami sangat bahagia.

Tetapi kelak, jika kamu sudah besar, kamu harus tahu persoalan ini. Ya, beberapa hari lagi, harga BBM akan naik. Bagi mereka mudah saja membuat alasan kenapa harga BBM mesti naik, cukup mengatakan harga minyak dunia naik, maka subsidi minyak kita mesti dicabut, agar tidak terlalu banyak membebani APBN.

Membebani mungkin istilah yang mereka pakai. Tapi hakikatnya, siapa yang membebani siapa? Bukankah sebaliknya? Mereka yang duduk di atas sana itu, semestinya menyadari, bahwa baju yang mereka pakai, mobil yang mereka kendarai, makanan yang mereka makan, rumah yang mereka tempati, semuanya ditanggung negara. Kami tidak pernah meminta makan, tidak pernah meminta dibelikan mobil, baju, atau rumah. Tidak pernah.

Nak, pajak yang dibayarkan itu tidak pernah kembali pada kami. Sebagian mereka makan sendiri, sebagian lagi mereka pakai untuk kepentingan golongan. Tidak ada yang mereka pergunakan untuk kepentingan kami. Namun di iklan-iklan, mereka buat seolah-olah membayar pajak adalah untuk kepentingan kami sendiri. Tidak, Nak. Jangan tertipu senyum dan janji manis mereka.

Semua politisi sama saja. Sebelum duduk di kursi itu, mereka mengatas-namakan rakyat. Mereka berdiri paling depan, bicara banyak hal tentang kemiskinan, keterbelakangan pendidikan, mahalnya biaya kesehatan, dan banyak hal yang mereka bicarakan. Mereka lalu menjanjikan perubahan. Perubahan nasib. Perubahan keadaan. Perubahan sistem. Namun setelah mereka merasakan kursi yang mereka peroleh dengan mengatas-namakan rakyat itu, mereka lupa diri. Mereka mabuk. Mabuk kekuasaan. Mabuk jabatan. Mabuk kemewahan.

Nak, kelak jika kamu sudah dewasa. Ingatlah apa yang kutulis untukmu ini. Kamu boleh jadi apa saja yang kamu suka. Asal jangan jadi politisi. Sebab setelah kamu jadi politisi, apapun yang kamu lakukan adalah kebohongan. Dan kebohongan adalah sumber dari segala kejahatan.

Kami tak pernah tahu, setelah ini, hari-hari kami akan seperti apa. Mungkin harga di pasar itu akan semakin melambung tinggi. Mungkin besok aku tak sanggup lagi membelikanmu ikan, telur, apalagi daging. Mungkin besok, hari-hari kami akan semakin berat. Lalu tangismu mungkin akan semakin sering terdengar.

Nak, aku menulis ini dengan airmata terurai. Tidak, bukan kesedihan yang kurasakan betul. Namun perasaan dikhianati. Aku merasa, mereka yang kini memegang keputusan itu, yang menyuarakan suara rakyat itu, nyatanya tidak lagi menyuarakan suara rakyat. Mereka menyuarakan kepentingan golongan mereka sendiri. Aku, kamu, kita sedang dikhianati.

Kata-kataku ini, Nak. Semua ini takkan mengubah apapun. Besok, saat matahari terbit, orang-orang akan terbangun, berangkat kerja, lalu semuanya terjadi seperti biasa. Tidak, kata-kata seringkali tidak mengubah apapun. Maka jika kelak kamu melihat semakin banyak ibu yang membawa serta anaknya untuk bunuh diri, mungkin itu jalan yang mereka anggap cukup baik sebagai seorang ibu. Mereka tidak sanggup melihat anaknya kelak mengalami hal yang dialaminya saat itu.

Aku mencintaimu, Nak. Aku takkan membawamu bunuh diri. Sebab masih banyak cara untuk tetap membawamu hidup. Aku ingin mengenalkan padamu arti hidup dan kehidupan. Aku ingin mengatakan padamu, cinta yang tulus akan selalu menemukan jalannya sendiri. Aku dan juga bapakmu mencintaimu dengan tulus.

Kelak, jika kami sudah tak ada lagi, tegaklah berdiri sebagai seorang laki-laki. Lihatlah sekelilingmu, bantulah yang lemah, cintailah sesama, dan janganlah sombong. Dunia begitu luas, kesombongan hanya akan membawamu tersudut di pojokan. Tataplah cakrawala dengan cinta. Aku mencintaimu.

Ibumu…

Wida Waridah

About diankurniaa

Dian Kurnia. Blogger; Penulis Lepas di koran lokal dan nasional; Mahasiswa Sejarah UIN SGD Bandung.
This entry was posted in Politik, Renungan and tagged , , . Bookmark the permalink.

2 Responses to Surat Menjelang Kenaikan BBM

  1. Noer says:

    Kemerdekaan indonesia yang katanya akan membawa rakyatnya menjadi sejahtera, nampaknya masih jauh dari capaian ya kang…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s