Anak Hebat Hasil Orang Tua Cerdas

Hanya dua dari 10 anak mengkonsumsi sayur dan buah-buahan. Diperlukan intervensi gizi dari orang tua kepada anaknya.

GARAM memang asin, bahkan sayur terasa tak enak tanpa garam. Tapi fungsinya tak hanya untuk mengasinkan sayur. Kekurangan iodium, zat yang ada pada garam, bisa menyebabkan gangguan fungsi mental dan terhambatnya pertumbuhan pada remaja dan anak-anak. Selain itu, kurangya iodium pada ibu hamil akan menyebabkan cacat bawaan pada janin. Bila terjadi setelah melahirkan, menyebabkan penyakit gondok dan berkurangnya kecerdasan anak.

Masalah di atas dibicarakan dalam acara “Pentingnya Kecukupan Asupan Vitamin dan Mineral untuk Anak Incredible“, Sabtu (5/11/2011), di Cilandak Town Squares, Jakarta Selatan. Menurut Kepala Seksi Standarisasi Subdirektorat Gizi Makro Direktorat Bina Gizi Masyarakat Kementerian Kesehatan, Entos Zainal, penduduk Indonesia masih kekurangan vitamin dan mineral, khususnya anemia, gangguan akibat kekurangan iodium dan kekurangan vitamin A. “Bahkan, pada 2010, status balita kurang gizi mencapai 17,9 persen, 4,9 persen di antaranya mengalami gizi buruk,” katanya.

Keadaan tersebut, menurut Entos, tentu memprihatinkan. Apalagi, hanya dua dari 10 anak yang mengkonsumsi sayur dan buah-buahan tiap hari. Bahkan dari hasil survey terhadap 250 ibu yang bekerja di perkantoran di Jakarta pada September 2011, ternyata hanya ada satu dari 10 ibu yang mengetahui manfaat vitamin dan mineral. Padahal asupan vitamin dan mineral yang cukup sangat dibutuhkan anak-anak untuk pertumbuhan dan perkembangan mereka. Sayur dan buah-buahan adalah kaya akan zat gizi.

Menurut konsultan parenting Hanny Muchtar Darta, peran orang tua sangat penting dalam memastikan anak mendapatkan asupan vitamin dan mineral. “Anak dengan supan nutrisi yang kurang berbeda sekali dengan anak yang mempunyai asupan cukup. Kalau nutrisi kurang, biasanya konsentrasi anak lemah, berfikir lambat, dan mengantuk,” ujarnya.

Untuk menjaga asupan gizi pada anak, menurut Entos, dengan mengutip studi Martorell, diperlukan intervensi gizi pada anak-anak prasekolah di awal usia mereka. “Semakin muda anak mendapatkan intervensi gizi, semakin baik perkembangan perilakunya,” ujar Entos. Studi itu diperkuat oleh penelitian Grantham-McGregor dan Hoffman, yang menyebutkan anak yang kekurangan energi dan protein memiliki hasil belajar yang kurang baik dibandingkan dengan anak berstatus gizi baik.

Perhatian orang tua dalam hal asupan nutrisi dinilai menjadi faktor kunci yang membuat anak tumbuh dan berkembang secara maksimal, baik fisik maupun mental. “Anak yang incredible (hebat) dimulai dari orang tua yang incredible pula,” ujar Hanny. [Amirullah]

Sumber: kosmo TEMPO, 8/11/2011

About diankurniaa

Dian Kurnia. Blogger; Penulis Lepas di koran lokal dan nasional; Mahasiswa Sejarah UIN SGD Bandung.
This entry was posted in Informasi, Umum and tagged , , . Bookmark the permalink.

One Response to Anak Hebat Hasil Orang Tua Cerdas

  1. abedsaragih says:

    Kalau nurut saya,betul sob…dan juga ditambah faktor manakan yang dikonsumsi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s