Sajak-sajak Dian Kurnia

Di Sepertiga Malam

http://ibnuflp.files.wordpress.com/2010/05/ps45-semak-daun-pier-malam.jpgTersungkur di belantara malam. Sesosok anak Adam meratap pada ujung tiang surau. Sesak meresap pada lembar demi lembar. Kisah lama yang begitu kelam. Potongan mozaik alam raya terbang, mengitari potongan air mata. Saat itu alam jiwa meronta; alam nalar berontak terobek tirai sunyi, terterkam erang do(s)a.

Derai tangis membuncah liar. Labirin kehidupan semakin dekat pada perjumpaan. Sajak malam ku melebur cinta: hamba bersimpuh, meminta maghfirah sang Penguasa Alam. Tuhan, di sepertiga malam aku sendiri, sepi. Di tengah dunia yang tak begitu benar-benar (terlalu) sepi. Aku bertanya, “Ada Apa Indonesia?!”

Deretan kejadian luar biasa dewasa ini merayap di punggung Persada Nusantara. Mengukir satu pola pada alam pikir para penyamun dosa. Menyisakan duka terjal bagi si binatang jalang.  Di mana posisi kita? Jerit tangis berderai, peluh amis berurai, mengairi sekujur jiwa sang penyamun dosa. Indonesia menangis. Mengerang menangis(i) darah. Campuran sperma hitam dengan berkubik-kubik drum penyesalan.

Di sepertiga malam sang Penguasa Alam memandang pada tempat si binatang jalang. Penuh kasih Dia menatap, penuh sayang dia menanti. Kepada sekumpulan “pembangkang” yang tertidur pulas di pelataran istana berlumpur, yang hampir (tak) retak. Di sepertiga malam sang Penguasa Alam menanti. Datanglah!

“…Tuhan, datanglah! Aku sedang tidur dulu di bundaran mimpi. Tunggulah, Tuhan!

Di Ujung Pagi

http://1.bp.blogspot.com/-pWFe0iw-BKU/TkG67EeNwPI/AAAAAAAAAc0/cMlvapjTlyo/s320/morning_dew.jpgPagi, pecahan angin malam tampak putih di punggung dahan oak. Persada lembah kehidupan mulai ranum oleh pahatan busur hijau. Geometris dari pantulan cahaya pagi menembus bongkahan cangkir kayu. Aku masih berkata, “Selamat pagi, Tuhan!”

Kehidupan adalah lembah terjal menganga. Di setiap sisi terdapat ribuan, bahkan jutaan atau miliaran, atau bahkan tak terhingga perangkap liar aktif. Waspada menjadi keharusan saat menapaki lembah.

Di mana pun lembah itu tetap terjal dan menakutkan. Tentu, manusia punya akal berkat pemberian Tuhan Sang Pencipta Alam. Tetapi tidak dengan binatang. Segala jenis binatang berotak, tapi tak berakal. Tapi bukankah manusia juga tergolong sebagai binatang (hayawan natiq)?

Apa yang lebih benar selain menapaki lembah tanpa takut jatuh? Sebab, takut pada lembah hanya akan membuat kaki terkunci. Lembah tetap terjal menganga. Lembah tetap menakutkan. Namun, kaki kita masih terkunci. Sedang, malaikat terus mengawasi. Dinamika akal akan tetap dipertanyakan.

Di ujung pagi, lembah mulai tampak. Keterjalan lembah mulai terlihat jelas. Manusia bisa lebih berhati-hati terhadap lembah. Beda saat lembah terjal itu terselimuti malam. Maka, ucaplah syukur kepada Tuhan Sang Pencipta Pagi. “Alhamdulillah!”

Jelang siang, ujung pagi terhenti. Terkunci garda malam yang akan segera berlari menuju lembah. Terjal menganga, dan menakutkan mulai tampak lagi. Maka, bersiap-siaplah agar kaki tak selamanya terkunci.

Di ujung pagi aku berdiri. Di lembah terjal aku menatap: ketakutan, masa lalu yang kelam, masa depan yang suram. Tapi, Tuhan ciptakan pagi. Agar lembah terlihat tak begitu menakutkan. Dan aku bisa berlari kencang hingga ujung lembah. Begitulah!

“…Di ujung pagi: harapan terbentuk, biar malam tak menyapa lembah.”

DIAN KURNIA Penikmat Sastera

About diankurniaa

Dian Kurnia. Blogger; Penulis Lepas di koran lokal dan nasional; Mahasiswa Sejarah UIN SGD Bandung.
This entry was posted in Renungan, Umum and tagged , , . Bookmark the permalink.

3 Responses to Sajak-sajak Dian Kurnia

  1. Tikatiko says:

    di Indonesia ada pohon Oak ya mas😀

  2. Aisyah says:

    daebak…..
    merinding..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s