Harian Kompas Sangat Memerlukan Artikel dari Penulis Baru


Harian Kompas Sangat Memerlukan Artikel dari Penulis Baru

Oleh  PEPIH NUGRAHA (Wartawan Senior HU Kompas)

“Kita (Harian Kompas) sangat perlu artikel-artikel dari penulis baru yang panjangnya sekitar 3.500 sampai 5.000 karakter”

Itu kutipan langsung Tati Samhadi, editor opini Harian Kompas, yang masih tertera di pesan blackberry saya. Saya sengaja meminta waktunya untuk bercakap-cakap secara tertulis di sela-sela persipannya boarding di ruang tunggu bandara mengingat banyaknya pertanyaan klasik para penulis yang dialamatkan kepada saya: bagaimana cara menulis opini Kompas halaman 6 dan 7 itu dan bagaimana kiat menembusnya.

Beberapa teman mengeluh betapa sulitnya menembus opini Kompas, meski sudah berpuluh-puluh kali mencobanya. Berkali-kali mengirim, berkali-kali pula dikembalikan. Akan tetapi ada pula yang menyampaikan sukacitanya karena satu artikelnya berhasil menembus halaman 6-7 Kompas. Ada pula yang pesimistis dengan mengatakan, “Ah, yang nulis itu-itu melulu, nggak ada nama baru, bosenin deh!”

Tentu saja dalam beberapa kali kesempatan bertemu dengan Mbak Tat, demikian saya memanggil wartawan senior Kompas itu, sejumlah masukan sekaligus kritikan disampaikan. Terkait dengan hal itu, yakni agar para penulis “yang itu-itu melulu” berganti wajah baru, Mbak Tat berujar, “Kita sangat perlu artikel-artikel dari penulis baru.”

Pertanyaan saya mewakili teman-teman penanya itu begini, apakah “17 tabu” sebagai syarat dimuatnya artikel atau opini di Kompas masih berlaku. Mbak Tat mengatakan, “17 tabu” (ini hanya istilah saya saja) sebagai panduan. Sekadar mengingatkan, inilah “17 tabu” yang dimaksud:

1. Topik atau tema kurang aktual
2. Argumen dan pandangan bukan hal baru
3. Cara penyajian berkepanjangan
4. Cakupan terlalu mikro atau lokal
5. Pengungkapan dan redaksional kurang mendukung
6. Konteks kurang jelas
7. Bahasa terlalu ilmiah/akademis, kurang populer
8. Uraian Terlalu sumir
9. Gaya tulisan pidato/makalah/kuliah
10. Sumber kutipan kurang jelas
11. Terlalu banyak kutipan
12. Diskusi kurang berimbang
13. Alur uraian tidak runut
14. Uraian tidak membuka pencerahan baru
15. Uraian ditujukan kepada orang
16. Uraian terlalu datar
17. Alinea pengetikan panjang-panjang.

Dalam postingan terdahulu, saya mengatakan, secara sederhana kepada para penulis saya sarankan agar menegasikan (menjadikannya terbalik) “17 tabu” itu, sehingga kalau dikatakan “topik atau tema kurang aktual”, maka “topik atau tema harus aktual”. Kalau dikatakan “argumen dan pandangan bukan hal baru”, maka “argumen dan pandangan baru” yang dikirimkan ke Kompas. Begitu seterusnya.

Tetapi pertanyaan mendasar yang saya sampaikan kepada Mbak Tat adalah, adakah “syarat” lain selain “17 tabu” itu, misalkah adakah preferensi editor sendiri terhadap artikel-artikel yang layak dimuat di halaman opini Kompas? Mbak Tat menjawabnya dengan senang hati, meski mungkin ada yang bersinggungan dengan “17 tabu” itu. Jika diringkas, beginilah harapan Mbak Tat sebagai editor opini Harian Kompas:

  • Sebisa mungkin isu yang aktual
  • Kalau isunya tidak aktual,  isu yang sangat penting buat orang banyak seperti analisis atau mendudukkan persoalan yang sedang menjadi perhatian atau concern banyak orang.
  • Tulisan sifatnya reflektif, kontemplatif dan komprehensif.
  • Harus pandangan orisinil.
  • Harus ada nilai tambah atau pencerahan yang diberikan kepada pembaca.
  • Jangan cuma common sense atau kutip sana sini
  • Bahasa yangg mengalir
  • Penyampaian tidak vulgar
  • Jangan terlalu teknis
  • Jangan bernada mendikte
  • Harus ditulis satu orang
  • Jangan dikirim ke tempat lain.

Pertanyaan saya lainnya, apakah artikel/opini itu harus ditulis oleh seorang yang benar-benar pakar? Mbak Tat menjelaskan, untuk sampai pada syarat-syarat yang disebutkan tadi, memang tidak semua orang bisa menulis sepeti yang disyaratkan tadi atau atau kepakarannya sudah sampai level itu.

“Karena itu sebisa mungkin, tulis saja apa yang menjadi bidang keahlian atau spesialisasinya. Bagus juga kalau hasil pengamatan, kajian atau penelitian, dengan referensi ilmiah yang cukup. Kalau bukan bidang keahliannya, jangan deh,” pesan Mbak Tat.

Mbak Tat juga mengingatkan, karena halaman opini Kompas sangat terbatas, maka panjang tulisan tidak boleh melebihi ketentuan yang disyaratkan, yakni 3.500-5.000 karakter dengan spasi.

“Kadang nyari artikel pendek susah, padahal artikel pendek lebih besar peluang masuk. Tentu pendeknya yang padat, concise dan langsung ke pokok persoalan,” pungkasnya.

Percakapan lewat gadget ini sengaja saya bagi di sini, siapa tahu bisa bermanfaat buat persiapan menulis dan mengirimkan artikelnya ke Harian Kompas. Ini memang bukan panduan pasti, tetapi setidak-tidaknya dengan “meraba” keinginan, kecenderungan, dan preferensi dari editor opininya sendiri, setidak-tidaknya ini merupakan panduan berharga.

Selamat mencoba!

***

Jakarta, 19 Juni 2012

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s