Reportase Futuristik

Tragedi Pembunuhan Tragis Presiden Uzil Bashar Afdhalla
Sinopsis: Puncak kampanye gerakan yang menyebut dirinya Islam Liberal adalah naiknya Sang Pemimpin ke kursi Presiden Republik Indonesia Raya Serikat.
Namun seperti kata pepatah: bila sudah tiba di puncak tak ada lagi arah yang bisa dituju kecuali menurun. Berbagai kerusakan di tengah masyarakat menjadi saksi sejarah kelam sebuah bangsa. Kampanye panjang aliran pemikiran yang mulanya sekadar memupuk popularitas segelintir orang itu berakhir tragis. Kisah fiksi futuristik ini disusun berdasarkan perkembangan pemikiran keagamaan di masa sekarang, diramu dengan gaya penulisan naskah fenomenal skenario film “Area X” karya sastrawan belia Eliza Vitri Handayani. Selamat menikmati.
Lorong Waktu
1912. Sebuah persyarikatan bernama Muhammadiyah dengan missi memurnikan aqidah dan missi sosial untuk ummat Islam didirikan oleh KH Ahmad Dahlan di Yogyakarta.

1926. Berdiri organisasi Nahdlatul Ulama dengan maksud mempertahankan  tradisi ahlus-sunnah wal jamaah di kalangan ulama terutama di Jawa yang bermazhab Syafi’i. Namun juga membawa agenda menahan penyebaran paham Wahabi, paham Islam ‘fundamentalis’ saat itu, yang ditengarai dibawa oleh kader-kader Muhammadiyah.

1937. Para tokoh Muhammadiyah, NU dan ormas-ormas Islam lainnya bergabung dalam Madjelis Islam A’la Indonesia (MIAI). Pada 1943 MIAI berganti nama menjadi Madjelis Sjuro Muslimin Indonesia (Masjumi).
1999. Terjadi pembantaian kaum Muslimin di Ambon oleh Nasrani militan yang berkembang menjadi perang antara kedua belah pihak itu di berbagai wilayah Maluku. Pelanggaran hak asasi manusia yang dialami kaum Muslimin itu
membangkitkan solidaritas para mujahidin setanah air antara lain dengan membentuk dan mengirimkan Laskar Jihad ke bumi Maluku.

2001. Berdiri Jaringan Islam Liberal (JIL) dengan niat melawan gerakan Islam ‘fundamentalis’, Islam ‘ekstrimis’, Islam ‘militan’ dan Islam ‘ortodoks’. Menurut pentolan JIL, lawan mereka antara lain Laskar Jihad, Front Pembela
Islam, Partai Keadilan serta berbagai kekuatan pendukung penerapan syariat Islam di Indonesia. Didanai oleh Asia Foundation, JIL melakukan kampanye besar-besaran untuk memasyarakatkan paham-pahamnya. Dengan berpedoman ‘kitab suci’ kaum liberalis yang dibawa ‘nabi’ Charles Kurzman, gerakan JIL merumuskan enam agenda besar: anti teokrasi, demokrasi, hak-hak perempuan, hak-hak non-Muslim, kebebasan berfikir dan gagasan tentang kemajuan. Berbagai kalangan yang anti syariat Islam, seperti kalangan nasionalis-sekuler, kalangan non-Muslim serta kalangan pencinta maksiat sangat menyambut gembira pendirian dan sepak terjang JIL.

2002. Ketua PP Muhammadiyah, A Syafii Maarif, bersalaman dengan Ketua PB NU, Hasyim Muzadi, bersepakat melakukan gerakan moral bersama untuk menyelamatkan bangsa dan negara dari ancaman disintegrasi. Mereka juga bersepakat untuk menampilkan Islam yang sejuk, damai dan melindungi, sekaligus mencegah anggapan bahwa Islam di Indonesia menakutkan. Kedua organisasi itu berniat merangkul kelompok Islam ‘radikal’ guna ‘menyatukan persepsi perjuangan’.

2002-2005. Ide-ide JIL disosialisasikan dengan gencar.

2006-2010. Sejumlah hasil sosialisasi mulai nampak, antara lain berupa dekonstruksi syariat Islam. Dengan dalih kesetaraan gender, kaum perempuan dan banci dibolehkan menjadi imam shalat kaum pria. Di kalangan JIL, barisan (shaf) laki-laki ketika shalat tidak lagi terpisah dari barisan perempuan, tetapi mereka berbaur dalam satu barisan. Di sejumlah masjid yang mereka dirikan, aturan baru itu mereka terapkan dengan suka cita.
Para pelaku homoseksual dan lesbian juga kian diterima kalangan JIL dengan memberi fatwa kebolehan menikah sesama pelaku homoseksual, dengan dalih HAM. Kisah tentang azab Allah pada kaum Nabi Luth mereka katakan hanya semacam metafora sejarah.
Menteri Kehakiman menggolkan UU Hukum Warisan yang menyamakan proporsi hak waris laki-laki dan perempuan. UU Perkawinan revisi membela para gadis yang
menikah tanpa wali. Para perempuan diberi hak mentalak suami.

2011. Atas desakan Amerika Serikat dan Uni Eropa, Indonesia mengadakan
perubahan ketatanegaraan besar-besaran. Indonesia menjadi negara serikat dengan
parlemen dua kamar: Dewan Perwakilan Rakyat dan Senat. Aceh dan Papua diberi
kesempatan untuk mempersiapkan kemerdekaannya dengan kompensasi pendirian
pangkalan AL Amerika Serikat dan Uni Eropa di kedua wilayah itu. TNI yang
berkeberatan, tidak berdaya melawan tekanan dua kekuatan itu.

2011-2016. Gerakan JIL mulai menampakkan hasil yang signifikan, yakni
semakin banyaknya orang berpindah agama, karena meyakini semua agama hakikatnya sama. Yang terbanyak adalah mereka yang berpindah agama dari Islam ke Kristen dan ke Hindu. Mereka yang berpindah ke agama Kristen beralasan, toh para pentolan JIL banyak yang berguru pada Islamolog dan orientalis Nasrani, kalau begitu sekalian saja beragama sama dengan para guru itu. Lagipula agama Kristen dianggap lebih modern karena dekat dengan Barat yang memegang kekuasaan politik-ekonomi-keuangan-kebudayaan dunia.
Sebagian yang lainnya pindah ke agama Hindu dan Budha karena romantisme
sejarah, merindukan kejayaan Nusantara masa lalu di bawah naungan kerajaan Hindu dan Budha. Melihat fenomena dengan demikian para aktivis JIL tidak merasa risau sama sekali, bahkan gembira, karena hal itu membuktikan ‘ajaran’
pluralisme mereka bahwa semua agama sama, diterima banyak orang.
2017. Gerakan JIL menuai sukses besar, karena dengan referendum yang
disponsori Amerika Serikat, Australia, Singapura, Turki dan Israel, Republik
Indonesia Serikat resmi menjadi negara sekuler. Kalangan ‘fundamentalis’ Islam yang menentang hasil referendum itu segera mendapat tindakan represif dari
militer, karena dianggap merusak proses demokrasi. Perdana Menteri Turki Mehmet Sulaymanoglu datang ke Jakarta untuk memberikan dukungan penuh atas hasil referendum itu. Atas jasa aktivis JIL, Pemerintah nasionalis sekuler yang sedang berkuasa mengangkat para pentolan JIL ke tampuk pemerintahan. Rakyat di Aceh cukup beruntung, karena setahun sebelum referendum itu telah memproklamasikan kemerdekaannya secara sepihak dari Indonesia, menjadi Republik Aceh. Kali ini TNI tidak dapat berbuat banyak, karena rupanya kemerdekaan Aceh disokong Amerika Serikat dan Inggris. Aceh merdeka menjadi bangsa Muslim kesekian yang bergelimang harta tetapi miskin martabat, karena mereka dijebak oleh kepentingan Barat, sebagaimana Arab Saudi dan Brunei.

2018-2025. Gerakan pemurtadan kian menghebat. Di daerah-daerah yang
sebelumnya menjadi basis pesantren seperti di Jawa Timur dan Jawa Barat, kalangan
Nasrani dan Hindu mulai mendominasi. Masyarakat Tengger mulai turun gunung untuk
mengajak masyarakat Jawa Timur kembali ke agama Hindu yang merupakan agama
leluhurnya. Di sepanjang jalan utama dari Bojonegoro hingga Banyuwangi semakin
banyak muncul pura, bersaingan dengan gereja-gereja. Keprihatinan warga
Muslim setempat tetap tidak diindahkan oleh Pemerintah nasionalis sekuler yang
didukung kalangan Islam liberal.

2026. Terjadi demo protes besar-besaran kaum Muslimin terhadap pemerintah
yang membiarkan terjadinya pemurtadan super massal. Protes itu dijawab oleh
Pemerintah dengan mengirimkan tentara yang menumpas kekuatan ‘fundamentalis’ dan ‘ekstrimis’. Menurut Pemerintah, aksi protes kalangan ummat Islam itu bertentangan dengan semangat inklusivitas Islam dan merusak sendi-sendi persatuan bangsa. Gerakan penumpasan ini mendapat dukungan penuh dari AS. Pasukan elit baret hijau dikirim untuk membantu memberantas ‘jaringan teroris internasional’.
“Mereka memang layak ditumpas, karena seperti pernah ayah saya katakan dua
puluh empat tahun lalu, para ekstrimis di Indonesia itu memiliki kontak dengan
jaringan teroris internasional,” kata Presiden AS, Judas Wolfowitz, putra
mantan Wakil Menteri Pertahanan Amerika Paul Wolfowitz yang kemudian sempat
juga jadi presiden AS.

Para aktivis gerakan dakwah melawan intervensi Amerika dengan menyingkir ke
hutan, menggunakan taktik lama: perang gerilya. Dengan dalih membantu
memerangi teroris, sekumpulan Katolik Jesuit membentuk Brigade Jesuit Pembebas.
Mereka kemudian membantai kaum Muslimin di berbagai daerah, seperti pernah
terjadi di Maluku dan Poso. Pertempuran diawali terjadi di daerah ‘tapal kuda’ Jawa
Timur, Madura dan Bali.
2027-2030. Perlakuan tidak berperikemanusiaan itu kemudian menuai protes
dari negara-negara anggota OKI, namun tidak digubris Pemerintah, karena OKI
dianggap hanya membela kelompok ‘fundamentalis’ Islam.

2030. Uzil Bashar Afdhalla, pemimpin Partai Liberal, yang juga mantan tokoh
utama JIL (juga mantan Direktur LSM Asosiasi Studi Organisasi dan Informasi,
ASOI) terpilih sebagai Presiden Republik Indonesia Raya Serikat melalui
pemilihan umum langsung yang direkayasa, dengan dukungan militer dan dana tak
terbatas dari CIA. Program utama kepemimpinannya adalah menjaga keutuhan bangsa
dan menjunjung sekulerisme dan demokrasi dengan mengembangkan semangat
inklusivisme, pluralisme dan toleransi. “Karena itu saya akan menindak tegas siapa
saja yang mengganggu keutuhan bangsa, memusuhi demokrasi dan sekulerisme serta
menolak pluralisme!” kata Uzil dalam pidato pelantikan dirinya sebagai Presiden.

Untuk membuktikan semangat inklusivismenya Uzil membentuk kabinet yang
mayoritas menterinya dari kalangan non-Muslim. “Format ini sudah proporsional,
karena sekarang ini ummat Islam bukan lagi sebagai ummat mayoritas di negeri
ini. Kabinet ini saya namakan Kabinet Pluralis,” kata Uzil bangga. “Dan agar
Anda sekalian tahu, keluarga kami sangat plural. Istri saya adalah keturunan
Tionghoa yang beragama Budha. Anak-anak saya ada yang beragama Islam, ada yang
beragama Kristen dan ada yang Hindhu. Tetapi anak saya yang beragama Islam
kini telah bersuamikan seorang Yahudi Amerika keturunan Russia. Tidak apa-apa.
Toh semua agama sama saja.” Sejumlah menteri Kabinet Pluralis yang berasal
dari JIL juga memiliki keluarga yang inklusif seperti keluarga Uzil.

2031. Dalam pemerintahan Uzil perjudian dan pelacuran dibebaskan oleh
negara. Bar dan klub malam semakin menjamur di mana-mana. “Negara menutup mata
terhadap dosa maksiat perjudian dan pelacuran, karena pahala dan dosa bukan
urusan negara, tetapi urusan pribadi masing-masing. Yang diurus negara adalah
seberapa besar industri perjudian dan pelacuran itu memberikan pendapatan bagi
negara dan rakyatnya,” tegas Uzil. Memang ternyata kemudian industri maksiat
itu memberikan kontribusi sangat besar untuk dana pembangunan negara.
Pembangunan sarana dan prasarana berjalan pesat di berbagai daerah, orang kaya semakin
banyak, lebih banyak lagi orang miskin dan melarat. Kota-kota dibersihkan
dari semua orang miskin dan bodoh dengan segala cara, lewat sebuah program
bernama Operasi Yozo, mengambil nama mantan Gubernur Jagobetag Raya. Seiring
dengan itu tingkat konsumsi minuman keras, ekspornya, dan prostitusi meningkat
tajam.

2032. Uzil meresmikan pusat perjudian di kepulauan Natuna. “Di tempat ini
kita memiliki pusat perjudian terbesar di dunia yang lebih besar dari Las
Vegas. Devisa yang dihasilkan dengan kedatangan para penjudi kelas kakap ke Natuna
akan lebih besar daripada devisa dari hasil gas bumi pulau ini,” kata Uzil
jumawa.

2033. Rakyat Papua tiba-tiba memproklamasikan pemisahan diri dari Indonesia,
kemudian menjadi Republik Kristen Papua Barat. “Jika Timor Timur dan Aceh
bisa memisahkan diri, tentu kami juga bisa,” kata Timotius Rameway, seorang
pentolan gerakan separatis Papua. Lagi-lagi TNI tidak bisa berbuat banyak,
karena di belakang Papua ada pasukan sekutu dari Amerika Serikat, Australia,
Belanda dan Inggris.

2034. Kemerdekaan Papua segera diikuti proklamasi kembali berdirinya
Republik Maluku Serani (RMS) di Ambon. Tetapi keputusan proklamasi itu ditentang
keras oleh kaum Muslimin setempat, sehingga kemudian memicu terjadi konflik
horisontal Islam-Kristen lagi seperti terjadi tahun 1999.

2035. Pemerintahan Uzil mampu menggelembungkan pendapatan per kapita, namun
menutup mata pada kemelaratan. “Negara telah berhasil menghapus kemiskinan
dari bumi Indonesia,” kata Uzil dalam pidato kenegaraan tahunannya. Yang
terjadi adalah, negara menghapus angka-angka kemiskinan dari program pembangunan.
Akibatnya prestasi itu tidak dapat mencegah terjadinya konflik di berbagai
wilayah Indonesia. Terjadi kerusuhan yang dahsyat di Jawa Timur, Jawa Tengah dan
Sumatera Utara. Ratusan pesantren di ketiga propinsi itu hangus dibakar dan
para penghuninya dibantai Laskar Merah.

Pembantaian terhadap ummat Islam di berbagai tempat mendorong kalangan kaum
Muslimin dan gerakan da’wah mengkonsolidasi diri kemudian melakukan
perlawanan bersenjata dengan membentuk laskar Mujahidin.

Himbauan dan peringatan Uzil tentang integritas nasional dan inklusivitas
hanya dianggap angin lalu oleh pihak-pihak yang bertikai. Tentara yang
ditugaskan memadamkan kerusuhan malah terjebak dalam konflik. Masing-masing berpihak
pada kelompok agamanya.

Uzil segera mengadakan sidang kabinet darurat. Dalam sidang itu Uzil
mengungkapkan keheranannya, mengapa sesuatu yang terjadi di Maluku 36 tahun silam
bisa juga terjadi di Jawa, padahal pemerintahannya sangat mengedepankan prinsip
inklusivitas dan pluralisme. Uzil memerintahkan Panglima TNI, Jenderal
Frederic Tanujaya untuk segera menumpas aksi kerusuhan. Tetapi Jenderal Frederic
tidak adil, dia hanya menumpas daerah-daerah dimana Laskar Mujahidin mendapat
kemenangan.

2037. Konflik tidak mereda, bahkan merambat ke Jawa Barat dan Banten serta
di berbagai wilayah Sumatera dan Nusa Tenggara.

2038. Konflik pecah di ibukota. Setiap hari terjadi pembantaian ummat Islam
di mana-mana. Jakarta berubah seperti Sarajevo. Sniper bergentayangan di
balik-balik gedung, dengan senapan laser menembaki masyarakat Muslim yang sedang berjalan kaki. Ribuan mayat kaum Muslimin ada yang menjadi arang karenatembakan laser panas dan ribuan lainnya membeku karena tembakan laser dingin. Keadaan menjadi tak terkendali karena belakangan diketahui, Jenderal Frederic Tanujaya berada di balik pertikaian itu. Uzil panik luar biasa.

Jakarta, Maret 2038

Uzil menatap nanar pemandangan kota Jakarta dari jendela ruang kerjanya di
lantai 20 Nurcholish Madjid Tower, kompleks Istana Negara. Di kejauhan nampak
beberapa gedung bertingkat sedang terbakar, menebarkan jelaga hitam ke langit
ibukota. Dia tak habis pikir, bagaimana mungkin konflik antar ummat beragama
bisa terjadi di pulau Jawa, bahkan di Jakarta, persis seperti yang pernah
terjadi di Maluku dan Bosnia lebih dari tiga puluh tahun lalu. Padahal telah
berpuluh tahun dia dan kawan-kawannya sibuk meneriakkan kerukunan, toleransi,
pluralisme dan inklusivitas. Lagipula negara sedang berada pada tingkat
kemakmuran yang luar biasa. “Kenapa kemudian mereka melakukan pemberontakan dan pembantaian?”

Belum terjawab pertanyaan itu, terdengar suara bel pintu, lalu dua ajudannya
masuk. “Wakil KSAD, Letjend Firman Syakur ingin bertemu, Pak,” kata Darma,
salah seorang ajudannya.

Uzil diam sejenak. “Apa yang bisa ia lakukan?”

“Tidak tahu, Pak. Tapi kata Letjend Firman, dia punya informasi penting
untuk Bapak.”

Uzil kembali terdiam sejenak sambil menarik napas panjang. Lalu katanya,
“Baiklah, atur pertemuanku dengannya di ruang empat mata.”

Setelah berkata demikian Uzil segera bergegas menuju ruang yang dimaksud.
Jalannya begitu cepat dan terburu-buru, sehingga ia merasa seperti melayang di
atas lantai.

Ternyata Uzil lebih dulu tiba di ruang empat mata. Begitu sampai Uzil segera
menghempaskan tubuhnya ke sebuah kursi kepresidenan lalu duduk tersandar.
Sempat merenung sebentar lalu menoleh ke Darma. “Mana si Firman, kok lama
sekali?” tanyanya tak sabar.

Dari saku celananya Darma mengeluarkan room monitor, alat sebesar HP untuk
memantau ruang, memencet-mencet tombolnya dan melihat pada layarnya. “Sebentar
lagi, Pak. Jenderal Firman sedang berjalan menuju ke sini,” kata si Darma

Dua menit kemudian Letjend Firman masuk ke ruangan. Memberi hormat lalu
mengulurkan tangannya. “Maaf, Pak. Saya terlambat datang.”

Uzil segera berdiri menyambut jabat tangannya. “Bagaimana perkembangan
terakhir? Nampaknya agak buruk ya?”

“Nampaknya begitu, Pak. Kecuali jika Bapak mau melakukan langkah berisiko,”
jelas Firman.

Uzil menatap lurus ke wajah Firman. “Apa yang kamu maksud dengan langkah
berisiko?”
Firman membalas tatapan Uzil dengan wajah tak kalah serius. “Seperti sudah
Bapak ketahui tentang pengkhianatan Jenderal Frederic, menurut laporan
intelejen dari Kolonel Iswana, Jenderal Fred sudah merancanakan makar itu beberapa tahun lalu, untuk menggulingkan Presiden, siapapun Presidennya, asalkan Muslim akan digulingkan. Karena target mereka adalah kekuasaan.”

“Ya, aku sudah dengar ada laporan seperti itu. Tapi aku perlu laporan lebih
jauh lagi, misalnya tentang pengkhianatan Jenderal Fred. Benarkah ia telah
berkhianat padaku? Padahal selama ini ia sangat setia padaku. Bagaimana itu
bisa terjadi”

“Jawabannya aku terima dari Laskar Mujahidin. Tadi malam mereka menjumpaiku.
Mereka membawa semua dokumen otentik pendukung bukti-bukti yang selama ini
kita ragukan. Dokumen Lapangan Banteng yang beberapa bulan terakhir kita
teliti memang otentik buatan staf Fred dan Brigade Jesuit. Senjata, amunisi,
laporan pengiriman, lengkap dengan saksi. Karena itu laskar Mujahidin mendesak
agar Bapak memecat Jenderal Fred dari jabatan Panglima TNI. Jika itu dilakukan,
pasukan Muslimin akan berada di belakang kita.”

“Ini langkah yang berat,” sahut Uzil.

“Itulah sebabnya saya katakan sebagai langkah berisko. Risiko pertama, dia
bisa mengkonsolidasikan kekuatannya untuk kemudian menggulingkan Bapak dari
kursi kepresidenan, persis seperti yang pernah dilakukan oleh Pervez Musharaf
kepada PM Nawaz Sharif di Pakistan duapuluhan tahun lalu,” jelas Firman.
“Kemudian, risiko kedua, permusuhan Bapak dengan Jenderal Fred serta dukungan
laskar Mujahidin kepada Anda jika Anda memecat Jenderal Fred, kesemuanya itu
mencoreng reputasi Anda sebagai seorang tokoh pluralisme dan inklusivisme.”

Uzil menyenderkan punggungnya ke kursi dengan kepala tertengadah ke
langit-langit. “Anda betul, ini langkah yang sangat berat. Apa jadinya jika dunia
tahu saya didukung dan bekerjasama dengan Islam fundamentalis. Habislah reputasi
saya.”

“Memang sangat berat, Pak. Tapi perhitungan militer saya, posisi Anda
kritis,” kata Firman.

“Bukankah sebagian perwira dan prajurit berada di pihak saya?”
“Memang ada. Tetapi orang-orang seperti saya di tubuh TNI terlalu sedikit.
Yah, beginilah hasil dari sekulerisasi kita selama ini. Dan Anda punya
sumbangan besar dalam menciptakan sosok tentara ultra-sekular.”

“Kamu mencoba menyalahkan saya?”

“Oh, tidak. Saya hanya menyadarkan, bahwa kita punya peran terhadap
terciptanya kondisi demikian, sehingga mengajak untuk tidak menyalahkan orang lain.”

“Ah, sama saja!” sergah Uzil. “Sekarang yang penting, cari solusinya!”

“Solusinya seperti yang saya sampaikan barusan.”

“Kamu minta saya kerjasama dengan Islam fundamentalis?” suara Uzil meninggi.

“Saya maklum Anda enggan, Presiden. Tapi terus-terang, hanya mereka yang
riil punya kekuatan melawan.”

“Kenapa kamu bisa bilang begitu?”

“Kebetulan saya kenal beberapa orang dari mereka. Meskipun persenjataan
mereka minim, tapi berkat kesabaran dan keikhlasan mereka berjuang, insya Allah
mereka dapat diandalkan. Pasukan yang seperti itulah yang akan ditolong
Allah.”

“Anda mulai mengajari saya tentang agama ya?”

“Tentu tidak, Bapak Presiden. Saya hanya menyampaikan pengalaman dan
perasaan ruhani saya setelah sempat berinteraksi dengan mereka.”

“Ah, omong kosong!”

“Terserah Anda mengatakan demikian. Anda boleh berkata tidak. Tapi saya
tahu, sebenarnya hati nurani Anda membenarkan. Hanya saja hati nurani itu telah
dikalahkan oleh hawa nafsu dan gengsi serta …”

“Cukup! Anda mulai berkhutbah, Jenderal, dan saya mulai malas mendengarnya,”
potong Uzil dengan marah.

“Baiklah Presiden. Ternyata kita berbeda pendapat. Sebelum saya pergi saya
ingin menawarkan kesempatan terakhir. Kita bergabung dengan mereka atau kita
mati dengan terhina.”

“Jadi kamu mau bergabung dengan pasukan fundamentalis Islam?”

“Ya.”

Uzil mengangguk-angguk, menatap tajam Firman. “Saya tidak percaya kamu bisa
bilang begitu.”

“Seharusnya kinilah saatnya Anda percaya. Di kala kita akan dibantai tidak
berdaya dan kini dalam keadaan terdesak, sangat naif jika kita tetap
berpura-pura tidak percaya.

“Letnan Jenderal Firman Syakur, Anda diberhentikan dari jabatan wakil kepala
staf angkatan darat, dan dari TNI, mulai detik ini.”

Firman segera berdiri, memberi hormat, melepas tanda pangkatnya,
meletakkannya di meja.

Uzil malas berdiri dan menyambut jabat tangan Firman. Ia hanya mengibaskan
tangan sambil memalingkan wajah, “Pergilah.”

Firman memberi hormat lalu memutar badan meninggalkan Uzil yang duduk
terpaku.

* * *

Uzil masih duduk terdiam di ruangan itu. Situasi sudah demikian sulit dan
genting. Ibarat bertinju, dia sudah terpojok di sudut ring, tak berdaya.

Pikirannya kemudian melayang pada kenangan 20 tahun silam tatkala ia
berkenalan dengan seorang perwira muda lulusan akademi militer di sebuah acara
diskusi di daerah Utan Kayu. Letda Frederic Tanujaya namanya. Ia lulusan ketiga
terbaik di angkatannya. Wajahnya tampan, postur tubuh atletis serta
kecerdasannya menjadikan ia pusat perhatian.

Kedatangan Frederic saat itu sebenarnya kebetulan saja. Ia mengantarkan
adiknya, Caecilia, mengikuti sebuah acara diskusi bulanan.

“Mas Uzil, kenalkan, ini abang saya, Fred,” kata Caecilia saat berjumpa Uzil
di pintu masuk.

“Fred,” kata lelaki muda itu sambil mengulurkan tangannya.

“Uzil,” balas Uzil.

“Ya, saya sudah kenal Anda sebelum ini,” kata Frederic sambil tersenyum.

“Oh ya? Dimana?”

“Di akademi militer. Kami para taruna sering membaca tulisan Anda dan
menjadikannya sebagai wacana diskusi di antara kami.”

Ada senyum bangga tersungging di bibir Uzil. “Wah, saya tidak menyangka
sejauh itu,” katanya.

“Kami sangat menyukai ide Anda dan teman-teman di sini tentang pluralisme
dan inklusivisme,” Fred menerangkan.

“Di rumah, kami sering membicarakan topik diskusi kita di sini,” Caecilia
menambahkan.

“Senang sekali mendengarnya,” ujar Uzil. “Kalau begitu, mari ikut masuk
kumpul sama teman-teman,” ajak Uzil sambil berjalan ke dalam, kemudian
memperkenalkan tamu barunya ke khalayak yang telah hadir.

Saat diskusi berlangsung seru Frederic cuma asyik menyimak dengan tatapan
tajam ke arah pembicara. Ia enggan mengambil kesempatan saat Uzil
mempersilakannya ikut bicara. “Terima kasih. Biar saya jadi pendengar saja. Saya kan anak
bawang di sini,” katanya merendah.

“Tentu saja tidak,” timpal Uzil.” Bukankah di akademi Anda sudah sering
memperbincangkan masalah ini?”

Setelah didesak berulang kali akhirnya Fred mau buka mulut. Dan seperti
sudah diduga, ulasannya begitu bernas dengan cakrawala yang luas. Fred tidak cuma
melakukan analisis dan sintesis terhadap apa yang diperbincangkan, tetapi
juga memperkaya referensi dari buku-buku berbahasa Inggris, Perancis dan
Belanda yang dibacanya. Singkat kata, paparannya begitu memukau khalayak yang
hadir.

Sejak itu mereka saling bersahabat. Dan kebetulan karir kedua sahabat itu
sama-sama menanjak lancar. Saat Uzil berhasil menggondol gelar doktor dan
menjadi rektor Universitas Paramadina Mulya, Frederic juga berhasil menjabat
sebagai Komandan Korem di Jawa Barat dengan pangkat kolonel.

Pada jabatan itu Kolonel Frederic telah dikenal luas sebagai perwira intelek
yang cemerlang. Ia sering tampil sebagai pemakalah dalam berbagai seminar,
terutama yang diselenggarakan oleh Uzil dan kawan-kawannya. Hubungan kemudian
juga berkembang ke hubungan pribadi. Frederic kerap bertandang ke rumah Uzil,
dan sebaliknya.

Bertahun-tahun kemudian, ketika Uzil berjuang mengkampanyekan negara
Indonesia yang sekuler, Mayjend Frederic memberikan dukungan penuh dan perlindungan
keamanan Uzil dan keluarganya. Begitu pula ketika Uzil mencalonkan diri
menjadi kandidat Presiden Republik Indonesia Raya Serikat, Fred sibuk
mengkonsolidasikan kekuatan mendukung Uzil. Singkat kata, Uzil dan Fred telah menjadi
sepasang sahabat yang saling mendukung perjuangan mitranya.

Uzil masih membayangkan kenangan ketika ia sedang berpelukan dengan Fred,
merayakan kemenangannya ketika tiba-tiba pintu ruang empat mata terbuka,
kemudian beberapa ajudan dan pengawalnya masuk ke dalam sambil tergopoh-gopoh.

Setelah memberi hormat, Darma segera bicara. “Maaf, Pak. Kami dapat perintah
dari komandan Paspampres, Brigjend Batubara, untuk segera mengungsikan Anda
sekeluarga.”

Uzil terkesiap mendengar berita itu. “Ada apa?” tanyanya terkejut.

“Kita harus segera meninggalkan kompleks istana, karena setengah jam lagi
pasukan Jenderal Fred akan segera menyergap tempat ini.
“Kurang ajar betul Fred itu. Pengkhianat!” Uzil memaki. “Mana Brigjend
Batubara?”

“Sedang menuju ke sini, Pak.”

“Kalau begitu, biar suruh dia temui aku di istana.”

“Brigjend Batubara menyuruh Anda tetap di sini.”

“Kenapa jadi dia yang memerintahkan aku?”

“Tidak tahu, Pak. Mungkin demi keamanan.”

“Persetan dengan dia. Aku mau ke istana,” kata Uzil sambil beranjak ke luar
ruangan empat mata, tetapi tiba-tiba HP Darma, salah seorang ajudannya
berbunyi.

“Dari Letjend Firman, Pak,” kata Darma, yang belum mengetahui bahwa Firman
telah dipecat.

“Apa katanya?”

“Dia ingin bicara langsung pada Anda,” kata Darma sambil menyerahkan HP ke
Uzil.

Di layar HP nampak wajah Firman sedang memberi hormat. “Ada apa?” tanya Uzil
dengan emosional.

“Saya langsung saja, Pak, karena situasinya sudah demikian kritis. Frederic,
melalui Batubara, akan menangkap Anda dengan tuduhan keberpihakan Anda
dengan jaringan al-Aqidah, lengkap dengan dokumen-dokumen palsu untuk ke mahkamah internasional. Saya sudah mengirim pasukan elit Mujahidin untuk menyelamatkan Anda. Satu menit lagi super heli yang membawa mereka akan tiba di jendela ruang empat mata. Lalu akan ada dua orang anggota pasukan yang melompat masuk ke ruang empat mata untuk menjemput Anda. Karena itu bersiap-siaplah.”

“Persetan dengan kamu,” kata Uzil memaki.

“Terserah apa kata Anda. Tapi untuk kali ini ijinkan saya memerintahkan Anda
untuk taat pada saya demi keamanan Anda sendiri.”

“Pasukanmu akan ditembak oleh pengawalku.”

“Terserah Anda, mau kami selamatkan atau menyerahkan diri pada Fred,” Firman
menutup pembicaraan.

Mendadak kaca jendela pecah dan seperti dikatakan Firman, dua orang pasukan
elit telah tiba di ruang empat mata dengan menggunakan jaket terbang lalu
menodongkan senapan lasernya ke para pengawal Uzil. “Kami diperintahkan Jenderal
Firman untuk menjemput Anda, Pak Presiden,” kata salah seorang kepada Uzil.

Uzil sempat ragu melihat keadaan yang cepat berubah. Ia menoleh ke para
ajudan dan pengawalnya. “Bagaimana ini?” tanya Uzil.

Darma menyarankan untuk ikut Firman, tetapi kebanyakan ajudannya melarang.
Setelah bingung sejenak, Uzil memutuskan untuk tetap di tempatnya. “Katakan
pada Firman, aku menolak dijemput.’

“Terserah Anda. Yang jelas, jika tidak ikut, Anda akan dieksekusi oleh
pasukan Jenderal Fred. Karena itu kami akan bertanya sekali lagi. Apakah Anda akan ikut kami?” tanya salah seorang pasukan elit.

Uzil kembali ragu. Ia ingin sekali ikut. Tapi ia juga khawatir dicemooh.
Akhirnya dengan berat hati ia kembali menolak. “Katakan pada Jenderal Firman,
mohon maaf aku tidak dapat ikut dengannya.”

Sruut.. Tanpa berkata apa-apa lagi, kedua pasukan khusus Mujahidin itu
terbang kembali ke super heli yang menanti di depan jendela.

Segera Darma menghampiri Uzil. “Seharusnya memang kita ikut dia,” bisik
Darma.

“Kenapa?”

“Karena aku mencium ketidakberesan. Nampaknya Brigjen Batubara memang
berkhianat pada kita.”

Mendadak wajah Uzil pucat pasi. “Kamu serius?”
Darma mengangguk yakin.

Jadi, bagaimana kita sekarang?” Uzil mulai panik.

“Kita ke ruang sebelah. Di sana ada lorong rahasia yang membawa kita ke
ruang penyelamat,” jelas Darma sambil menggamit tangan Uzil lalu menuntunnya ke
ruang sebelah. Darma memberi kode pada Rasyid, ajudan lainnya untuk ikut. Para
pengawal dan ajudan lain diperintah oleh Darma untuk diam di tempat.

Di ruang sebelah, Darma membuka lemari rahasia yang di dalamnya terdapat
sebuah lift supersonik. Dengan lift itu mereka segera berpindah tempat ke ruang
penyelamat di lantai dasar.

Di ruang itu telah tersedia sebuah kapsul penyelamat berbentuk torpedo.
Kapsul itu hanya muat diisi dua orang. “Anda berdua Rasyid akan saya masukkan ke
dalam kapsul penyelamat ini. Lantas kapsul ini akan saya tempatkan di mulut
lorong rahasia. Lorong ini akan tembus hingga ke ruang bawah tanah dermaga
Tanjung Priok. Dari sana sudah menunggu orang kita yang akan memindahkan Anda ke
kapal selam kepresidenan, lalu dengan kapal selam itu Anda bisa melarikan
diri ke Singapura atau Malaysia. Saya akan menyusul Anda dengan super heli.
Kita berjumpa di Tanjung Priok,” jelas Darma.

Uzil bergidik melihat kapsul penyelamat yang akan membawanya pergi. “Saya
harus masuk ke sini?” tanyanya kecut.

“Ya!” jawab Darma tegas.

“Bagaimana kalau bersamamu naik super heli,” tawar Uzil.

“Tidak, Pak. Super heli rawan ditembak roket. Lebih aman dengan kapsul
penyelamat ini.”

Uzil merasa bimbang. Tiba-tiba dia ingat keluarganya. “Bagaimana dengan anak
dan istriku.”

“Mereka sedang dibawa oleh ajudan ke sini. Kemudian mereka dua orang dua
orang akan menyusul Anda.”
“Kalau begitu biar saya tunggu mereka.”

“Tidak ada waktu untuk menunggu mereka. Anda harus pergi sekarang juga jika
mau selamat.”

“Saya tetap akan menunggu mereka,” kata Uzil ngotot.

“Sekarang tidak ada waktu untuk berdebat, Pak. Jika Anda dan keluarga Anda
mau selamat, segera masuk kapsul. Jika tidak, saya tidak akan mengurus Anda
lagi,” ancam Darma.

Uzil terdiam sejenak. Tapi ia tak punya pilihan lagi kecuali harus menurut.
Dengan diliputi rasa takut ia masuk ke dalam kapsul lalu berbaring di
dalamnya, diikuti Rasyid.

Beberapa detik kemudian Uzil menutup pintu kapsul, sehingga terasa begitu
menyesakkan bagi Uzil. Tiba-tiba Uzil dilanda kepanikan luar biasa.
Hampir-hampir dia berontak dan mencoba melompat keluar, tapi tak bisa lagi. Dia sudah
terkunci di dalamnya. Tak ada yang bisa dilakukan kecuali hanya
berteriak-teriak ketakutan.

“Bapak Presiden, saya mohon Anda tenang. Kapsul akan segera saya
berangkatkan. Jika Anda tidak tenang, saya khawatir kapsul akan macet di tengah-tengah
terowongan,” Darma memperingatkan melalui radio kontrol.

Mendengar itu Uzil mencoba tenang. Teriakannya berubah menjadi tangis.
Pikirannya berkecamuk tak karuan.

Sementara itu Darma mulai menyalakan mesin jet kapsul penyelamat tersebut.
Sepuluh detik kemudian kapsul itu sudah melesat di terowongan menuju Tanjung
Priok. Sepanjang perjalanan Uzil menangis sesenggukan membayangkan kematian
yang terasa sudah dekat.

Dalam tempo lima menit kapsul itu sudah sampai di ruang bawah tanah dermaga
Tanjung Priok.

Seorang sersan marinir segera membuka kap kapsul yang menyekap Uzil, lalu
membantu Uzil keluar dari kapsul.

Uzil hampir tak kuat berdiri. Dengan langkah lunglai dia dipapah menuju
sebuah kapal selam kecil khusus. “Aku mau dibawa kemana?”

“Ke tempat yang dirahasiakan pak Darma,” jelas sersan itu sambil mendudukkan
Uzil di kursi samping kokpit lalu memasangkan safety belt ke tubuh Uzil.

“Darma mana?”

“Sebentar lagi dia sampai.”

“Dia naik apa?”

“Naik kapsul juga.”

“Katanya dia mau naik super heli?”

“Tidak jadi. Terlalu berisiko.’

Benar saja, dua menit kemudian kapsul yang membawa Darma tiba di tempat
mereka.

Setelah keluar dari kapsulnya Darma segera menyusul Uzil ke kapal selam
khusus lalu mengambil tempat di samping pilot kapal selam.

“Darma, mana keluargaku?’

“Sedang menyusul.”

“Dengan apa?”

“Tidak tahu.”

“Tidak tahu katamu? Apa maksudmu?” suara Uzil meninggi.

“Sedang diurus oleh teman-teman. Tapi aku belum tahu mereka menggunakan
apa,” jelas Darma. Darma kemudian bicara serius dengan pilot kapal selam.

“Lantas kapan mereka sampai di sini?” Uzil terus bertanya.

Darma tidak menyahuti, terus berbicara dengan pilot.

“Darma! Mana keluargaku?” Uzil berteriak marah.

Kali ini pilot yang menoleh pada Uzil. “Bapak Presiden, kini kita sedang
menghadapi masa kritis. Mohon Anda bersikap tegar. Jangan mengikuti emosi,” kata
pilot setengah membentak.

Uzil hendak membalas membentak pilot yang agak kurang ajar padanya. Tapi
ditahannya. “Baiklah,” katanya menenangkan diri. “Sekarang kita mau kemana?”

“Anda tidak perlu tanya macam-macam. Yang pasti, kami hendak menyelamatkan
Anda,” tandas si pilot.

Lima menit kemudian kapal selam itu mulai melayang ke laut lepas. Darma dan
pilot sibuk berbicara masalah teknis yang tidak dimengerti Uzil.

Uzil yang tak tahu kemana kapal selam pergi melayang cuma bisa merenungi
nasibnya sebagai presiden yang malang. Tanpa terasa kemudian ia jatuh tertidur
dan baru terbangun ketika kapal selam mini itu telah merapat di sebuah pulau
terpencil tak berpenghuni di Kepulauan Seribu.

* * *

Hari sudah malam. Darma mengajak Uzil keluar dari kapal selam, kemudian naik
ke dermaga pulau tak berpenghuni itu. Suasananya begitu gelap mencekam.
Hanya terdengar suara deburan ombak dan teriakan binatang malam.

Tiba-tiba HP Darma berbunyi. Darma segera melihat yang memanggilnya. Tampak
Firman Syakur di layar HP. “Presiden ada bersama Anda?” tanya Firman.

“Ada apa, Jenderal?” Darma balas bertanya.

“Kalian ada di sektor 9 Kepulauan Seribu kan?”

Darma ragu sejenak untuk menjawab. “Ya, betul.”

“Cepat kalian kembali ke kapal selam dan melarikan diri ke sektor 17. Di
sana ada patroli boat laskar Mujahidin. Selanjutnya Anda akan dibawa ke sektor
21 untuk lari dengan superheli,” perintah Firman.

“Bagaimana, Pak?” tanya Darma pada Uzil.

“Sudah kubilang berkali-kali. Aku tak mau berurusan dengan laskar Mujahidin.
Aku tak mau berutang budi pada mereka,” ujar Uzil.

“Tapi ini demi keselamatan Anda, Pak,” desak Darma.

Uzil berpikir-pikir sejenak. Lalu dengan yakin ia menggelengkan kepalanya.
“Tidak,” katanya.

“Radar di tempat kami mendapatkan info, Jenderal Fred telah mengirimkan
pesawat heli super sonik ke sektor 9. Waktu Anda sangat sempit. Dan ini adalah
tawaran penyelamatan terakhir dari kami. Bagaimana jawaban Presiden Uzil?”
Firman bertanya lagi.

“Maaf, Pak. Presiden menolak bergabung dengan laskar Mujahidin,” keluh
Darma.

“Ya, sudah. Kita tidak punya waktu lagi. Silakan mengupayakan penyelamatan
sendiri,” Firman menutup pembicaraan.

“Mari kita ke kapal selam,” ajak Darma.

“Lalu kemana?”

“Ke sektor 17?”

“Ya.”

“Aku tetap di sini saja.”

“Maaf Pak, tempat ini memang transit kita sementara. Terlalu dekat dengan
terminal rahasia limbah radioaktif? Berbahaya buat kita.”

“Tidak. Aku tetap di sini,” Uzil ngotot.

Darma kesal sekali menghadapi kengototan Uzil. Dipandanginya wajah Uzil
dalam-dalam. “Kalau Bapak tetap ngotot, dengan terpaksa Anda saya tinggalkan
sendirian di sini,” ancam Darma.

“Kita pergi, tapi tidak ke sektor 17.” Belum sempat Darma menjawab,
sayup-sayup mulai terdengar suara heli super sonik pasukan Fred sedang mendekat.

Segera Darma menggamit tangan Uzil lalu mengajak berlari menuju kapal selam.
Tetapi Uzil meronta dan melepaskan pegangan tangan Darma. “Aku tetap di
sini,” bentak Uzil.

Darma menoleh sebentar kepada Uzil. Memandangnya dengan pandangan iba.
“Kalau itu yang jadi keputusan Anda, apa boleh buat, saya tidak bisa memaksa Anda
lagi. Mohon maaf, saya tidak bisa menyelamatkan Anda lagi. Selama tinggal.
Semoga Anda selamat,” kata Darma , lalu segera berlari menuju kapal selam.

Sebelum masuk kapal selam Darma sempat melihat Uzil yang berdiri terpaku di
dermaga. Darma sangat iba padanya. Ingin rasanya kembali lagi untuk menarik
paksa Uzil agar mau masuk ke kapal selam, tapi sudah tak ada waktu lagi. Heli
supersonik pasukan Fred sudah hampir tiba. Kapal selam harus segera ke bawah
air agar bisa mengaktifkan alat anti deteksi radar.

Uzil termangu-mangu melihat kapal selam di depannya perlahan-lahan hilang
dari penglihatan. Ia nyaris tak percaya dirinya ditinggal seorang diri di
sebuah pulau terpencil nan gelap gulita.

Sebentar kemudian di ufuk mulai nampak iring-iringan heli supersonik menuju
tempatnya berdiri. Suaranya seperti bunyi cambuk yang di putar-putar.

Uzil segera membalikkan badan dan berlari masuk ke dalam hutan nan gelap.
Berkali-kali ia jatuh terjerembab di semak-semak sepanjang jalan, sementara
heli supersonik sudah berputar-putar di atas pulau itu.

Uzil mengira para pilot heli tidak dapat melihat dirinya di antara gelapnya
malam dan lebatnya hutan. Padahal dengan sensor panas, para pilot dapat
melihat jelas keberadaan Uzil.

Uzil baru menyadari dirinya terdeteksi setelah sebuah heli menembakkan sinar
laser tepat satu meter di depannya. Uzil terkejut luar biasa lalu lari
tunggang-langgang sementara tembakan sinar laser terus mengikuti satu meter di
belakangnya. Lagi-lagi Uzil tidak menyadari bahwa ia sedang digiring dengan
sinar laser itu menuju sebuah tempat jebakan. Hingga akhirnya, bum… Uzil jatuh
terperosok ke sebuah sumur sedalam sepuluh meter. Beruntung ia sempat
menjejakkan kakinya terlebih dulu, bukan kepalanya. Namun sedetik kemudian ia
merasakan sakit luar biasa di kaki kirinya. Ketika diraba, ternyata tulang keringnya
telah patah. Darah mengalir deras dari daerah sekitar patahan tulang.

Ingin rasanya ia menangis menjerit menahan sakit.

Belum sempat air mata Uzil mengalir tiba-tiba ada sorot lampu sangat terang
menyinari sumur. “Siapakah gerangan di atas,” tanya Uzil dalam hati.

Sebentar kemudian ada seorang anggota pasukan katak turun dengan seutas
tali. “Mari kutolong,” katanya.

“Kamu siapa?” tanya Uzil.

“Regu penolong,” kata orang bertopeng itu.

Lega rasa hati Uzil mendengar itu. Uzil membiarkan orang itu membopong
tubuhnya sampai ke atas.

Sampai di atas ada satu regu pasukan berdiri mengelilinginya. Salah seorang
dari mereka bergerak menuju heli super sonik yang mendarat di belakang
barisan dan memberi kode kepada orang yang ada di dalam.

Perlahan-lahan pintu heli terbuka, lalu muncul sesosok tubuh orang tinggi
besar. Seluruh anggota pasukan memberi hormat padanya. Orang itu kemudian
berjalan mendekati Uzil. Setelah dekat barulah jelas nampak wajahnya.

“Jenderal Frederic !” Uzil berseru dengan terkejut. Wajahnya berubah
pucat-pasi.

Orang itu tertawa terbahak-bahak. “Terima kasih, kau telah menyelamatkanku,”
kata Presiden itu dengan suara tergetar.

“Menyelamatkanmu? Hahaha… Bercanda kamu, Uzil.”

“Bukankah anak buahmu telah menyelamatkan aku dari sumur itu?”

“Tidak. Dia telah mengangkatmu dari sumur. Tapi bukan untuk menyelamatkanmu.
Ia hanya membantu aku untuk dapat melihat wajahmu sebelum kematianmu.”

“Fred…” kata-katanya tercekat di tenggorokan.

“Betul sekali, Uzil. Sayang, kau tak lebih pintar dari laskar Mujahidin
sontoloyo itu.”

“Biadab!” Uzil mengumpat.

Lagi-lagi Fred tertawa. “Ooo, Presiden Uzil yang beradab, yang membunuhi
saudara-saudaranya sendiri?”

“Bangsat!” Uzil kembali mengumpat.

“Terserah kaulah. Aku memang bangsat. Tapi ketahuilah, sebentar lagi kau
akan dieksekusi oleh bangsat. Mengerti?!” kata Fred sambil memelototi Uzil. Kau
tahu sumur tadi untuk apa?”

Uzil diam, tidak menyahuti.

Fred menjambak rambut Uzil. “Dengar kataku. Sumur itu kubuat untuk jadi
kuburan bagimu!”

Uzil bergidik mendengar kalimat itu. Ditatapnya mata Fred dengan memelas.
“Kau takut, Uzil? Biar kujelaskan lagi. Langkah pertama, tubuhmu akan dilempar
ke dalamnya seperti tadi engkau mendarat. Di atasnya akan ditutup dengan
beton, kemudian perlahan-lahan anak buahku akan mengalirkan sampah radioaktif ke
dalamnya. Sedap bukan?”

Kali ini Uzil tak bisa berkata-kata lagi. Ia cuma bisa menggeleng-gelengkan
kepalanya.

Fred membalas dengan senyum dingin. “Selamat menikmati,” katanya sambil
mendorong kening Uzil hingga jatuh terjungkal ke belakang.

Fred kemudian berdiri sambil bertolak pinggang. “Kopral Anton!” Tangan
kanannya memberi aba-aba menggorok leher.

Dua orang kopral mengangkat tubuh Uzil dengan kasar. Menyeret lalu melempar
tubuh Uzil ke dalam sumur.

Terdengar suara jeritan Uzil yang memekik menyayat hati. Kali ini Uzil
mendarat dengan kedua tangannya, sehingga lengannya patah.

Uzil ingin menangis merasakan sakit yang dideritanya. Tapi tiba-tiba ia
mendengar suara sayup-sayup memenuhi sumur. “Tak usahlah engkau menangis, karena
ketika kami yang di Ambon dibantai engkau tak pernah menangis untuk kami.”

“Benar,” suara yang lain menyahuti. “Ketika kami yang di Poso digorok dan
mayat kami dilempar ke sungai, tak setitik pun air matamu mengalir untuk kami.
Kini rasakanlah siksaan ini sebagaimana kami dulu merasakannya.”

Perlahan-lahan bagian atas sumur telah ditutup dengan lapisan beton. Dan
sebentar kemudian terdengar gemericik cairan limbah nuklir mengalir ke dalam
sumur.

Bersamaan dengan itu Uzil merasakan sakit yang luar biasa di sekujur
tubuhnya. Kulitnya terasa seperti terbakar dan tulang-tulangnya serasa remuk
berantakan. Nafasnya sesak.

Di saat Uzil tengah kejang-kejang, nampak sesosok makhluk mendekatinya.
Sambil megap-megap Uzil mencoba bertanya, “Siapa kamu?”

“Aku Izrail, pencabut nyawa.”

“Darimana kau berasal?”

“Rupanya sejak aktif di Islib kau sudah lupa apa tugasku.”

“Iya, aku sudah lupa.”

“Aku bertugas mencabut nyawamu.”

“Syukurlah. Cepat kau cabut saja nyawaku. Aku sudah tak tahan merasakan
siksaan ini.”

“Tak tahan katamu?”

“Ya, aku tak tahan lagi.”

“Siksaan ini tak ada artinya dibandingkan dengan siksa kubur dan siksa
neraka yang mungkin akan kau alami.”

“Terserah apa katamu. Itu soal nanti. Yang penting, sekarang segera kau
cabut saja nyawaku.”

“Baiklah, bersiaplah.”

“Silakan. Tapi sebelum kau cabut nyawaku, tolong jelaskan mengapa para
sahabatku mengkhianatiku dan membunuhku?”

“Sahabat mana yang kau maksud.”

“Fred dan kawan-kawannya.”

“Tidakkah kau pernah mendengar firman Allah dalam Surat Ali Imran ayat 118:
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman
kepercayaanmu orang-orang yang di luar kalanganmu (karena) mereka tidak henti-hentinya
(menimbulkan kemudharatan) bagimu. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu.
Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati
mereka lebih besar lagi. Sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat
(Kami) jika kamu memahaminya.”

Sisa-sisa tenaganya masih membuat ia terkenang ayat itu yang dirapalkan
kiai-kiainya.

“Allah berfiman: Beginilah kalian, kalian mencintai mereka, padahal mereka
tidak mencintai kalian dan kalian beriman kepada kitab-kitab semuanya. Apabila
mereka menjumpai kamu, mereka berkata, “kami beriman”, dan apabila mereka
menyendiri, mereka menggigit jari lantaran marah bercampur benci terhadap
kamu…”

Dagu Uzil merapat dengan dadanya, seperti pasrah.

Izrail kemudian meraih ubun-ubun Uzil dan mulai menarik ruh keluar dari
jasad Uzil, menyisakan seonggok tubuh yang terendam campuran beton dan cairan
radioaktif.•

Abdillah Razak, Idris Rustamaji


GMX – Die Kommunikationsplattform im Internet.
http://www.gmx.net

About diankurniaa

Dian Kurnia. Blogger; Penulis Lepas di koran lokal dan nasional; Mahasiswa Sejarah UIN SGD Bandung.
This entry was posted in Umum. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s