Negara Idaman (Fragmen)

Ki Reditanaja

Syahdan, adalah sebuah negara yang sangat termasyhur. Sekalipun di atas bumi yang terkurung langit dan terkepung lautan ini terdapat berbagai bangsa yang jaya dan merdeka, namun tidak ada yang menyamai kerajaan Mandraka ini.

Kisah kita bermula dari negara ini, karena di antara seratus tidak ada satu pun yang dapat menandinginya, dan di antara seribu tidak ada sepuluh yang serupa. Kerajaan ini senantiasa menjadi buah bibir orang karena indah permainya, dengan gunung-gunung tegak dibelakangnya, pesawahan di kanan, sungai di kiri, serta pelabuhan besar di hadapannya. Apa pun yang ditanam akan tumbuh subur di sana, segala jenis barang dijual dengan harga murah.

Ketentraman berlaku di seluruh penjuru negara, seperti terbukti dengan para pedagang yang berlalu-lalang dengan aman siang dan malam. Kedamaian juga tampak dari cara hidup masyarakatnya: rumah-rumah dibangun dengan atap saling bersentuhan. Para petani di desa tidak perlu mengikat atau mengurung kerbau, sapi, itik atau ayam mereka; dan di siang hari ternak-ternak itu bebas merumput dan akan kembali di petang hari tanpa dikawal, karena di sana tidak ada pencuri!

Ketentraman tidak pernah terusik, karena negara tidak pernah terancam serbuan musuh dari luar, dan tidak satu pun pembantu raja yang berkhianat. Kekuasaan raja dihormati dan di sana berlaku kerukunan.

Mandraka disegani oleh negara-negara lain, karena sesungguhnya ia adalah kerajaan yang kukuh dan cemerlang, hingga kemasyhurannya terdengar ke seluruh penjuru angin. Tidak hanya negara-negara di Jawa, tapi juga yang di seberang lautan menghormatinya, sehingga tidak jarang putera-puteri dipersembahkan ke sana sebagai tanda takluk, dan barang-barang dikirimkan sebagai upeti.

Sang raja bergelar Narasoma, yang berarti seorang raja yang memperhatikan rakyatnya. Ia juga dujuluki Salya, orang yang bijaksana; Madradipa, orang yang termasyhur; Madrakeswara, orang yang harum namanya; dan Somadenta, orang yang memiliki jiwa pandita.

Banyak negara yang takluk kepadanya; bukan karena diperangi, namun semata-mata silau oleh kebesaran raja yang dermawan ini; yang memberi baju kepada mereka yang telanjang, makanan kepada yang lapar, hiburan kepada yang berduka, dan tongkat kepada yang berjalan di tempat yang licin.

Tak seorang pun meragukan kemurahan hati raja Mandraka. Begitu terpuji dan murah hatinya Sri Paduka, hingga semalam suntuk pun tidak akan cukup untuk menceritakannya. Karena itu kita berhenti saja di sini.

(Pembukaan yang biasanya mengawali pertunjukan wayang kulit di Jawa ini diambil dari Kertawijoga, yang diterbitkan dalam bahasa Indonesia oleh R. Hardjowirogo pada tahun 1951. Ki Reditanaja, dalang kraton Surakarta, diduga penciptanya)

Dikutip dari buku “Pemikiran Politik Indonesia 1945-1965″ karangan Herbert Feith & Lance Castles, 1988:170

About diankurniaa

Dian Kurnia. Blogger; Penulis Lepas di koran lokal dan nasional; Mahasiswa Sejarah UIN SGD Bandung.
This entry was posted in Renungan, Umum and tagged , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s