Nafas Keikhlasan Seorang Ibu

Oleh: Dian Kurnia

Waktu itu, saya resapi untaian mutiara hikmah dari seorang pelantun tembang keinsyafan. Seperti ini baitnya, “Sebening tetesan embun pagi. Secerah sinarnya mentari. Bila kutatap wajahmu ibu, ada kehangatan di dalam hatiku. Air wudhu slalu membasahimu. Ayat suci slalu dikumandangkan. Suara lembut penuh keluh dan kesah. Berdo’a untuk putera puterinya. Oh ibuku, engkaulah wanita yang kucinta selama hidupku. Maafkan anakmu bila ada salah. Pengorbananmu tanpa balas jasa. Ya allah, ampuni dosanya. Sayangilah, seperti menyayangiku. Berilah ia kebahagiaan di dunia juga di akhirat.

Tetesan embun pagi menyeruak ke dalam jasad yang sudah udzur itu. Membenamkan wajah kegelisahan ke dalam pusaran kenyataan. Gelombang kehidupan rupanya sudah cukup kuat menghempaskan tubuhnya dengan keras. Meninggalkan berjuta pengalaman dan pemahaman yang tak ternilai walau dengan bijih emas.

Niat yang lurus menghantarkannya ke dalam hempasan badai kefanaan. Memegang jemari lentik buah kasih sayangnya. Sedikit ia memejamkan pelupuk mata demi terlelapnya sang mentari kecil. Sosoknya semakin merenta. Tubuhnya yang kecil tak mudah terhempas lagi oleh gelombang kehidupan. Sudah banyak bekal yang ia kumpulkan dalam menapaki sisa-sisa pengembaraan. Tercium pekat kerasnya aroma kehidupan dari setiap hembusan nafas yang ia keluarkan.  Ia sudah kelihatan renta. Tanpa aku sadari semuanya berlalu begitu cepat. Secepat kilat ketika meluluhlantahkan menara tinggi.

Aku mulai menyadari satu hal. Satu kesadaran yang mungkin hanya berupa penyesalan. Ia mulai sendiri dengan kehidupannya. Namun ia tetap tegar setegar batu karang di lautan lepas. Perjuangan memang butuh pengorbanan yang tidak sedikit. Perjuangan menghantarkan satu jiwa kepada keutuhan raga. Ia begitu kuat menghadapi ini semua. Ingin rasanya ku urai setiap langkah kakinya ke dalam beberapa buku. Tapi aku rasa itu tak akan cukup walau menguraikan bentuk kakinya saja. Lalu ku berfikir, mungkinkah kuuraikan dalam sebuah do’a. Do’a yang ikhlas dari seorang anak kepada orang tuanya. Bukankah itu kelimpahan pahala, do’a anak yang saleh kepada ke dua orang tuanya.

Memejamkan pelupuk bukan berarti memejamkan semangatnya untuk tetap berjuang melangkah. Gelapnya malam tak cukup kelam untuk memudarkan cahaya kemuliaan perjuangan seorang ibu. Ia terpatri ke dalam lubuk hati bagai mentari yang berjuang menyinari bumi di pagi hari.

Semoga perjuanganmu mendapat ganjaran yang tak terniali dari Yang Maha Kuasa. Do’aku, semoga keabadian rahmat dan maghfirah-Nya selalu menaungi langit di mana kelak engkau akan memijaknya. [amin]

Anakmu, Dian Kurnia

Bandung, 5 Juli 2011. 12.03 p.m.

About diankurniaa

Dian Kurnia. Blogger; Penulis Lepas di koran lokal dan nasional; Mahasiswa Sejarah UIN SGD Bandung.
This entry was posted in Renungan and tagged , , . Bookmark the permalink.

2 Responses to Nafas Keikhlasan Seorang Ibu

  1. yulia says:

    i like your word..
    it’s wonderful.,.,.,mkc ea,.,.
    inspiratif

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s