Relief di Candi Borobudur Ada yang Salah Posisi?

borobodur-cc-elbisreverriPemugaran Candi Borobudur di Magelang, Jateng oleh pemerintah kolonial Belanda pada 1907-1911, dipimpin Theodore Van Erp, ternyata menyisakan pemasangan batu relief yang tidak sesuai posisinya. Akibatnya, alur cerita yang terdapat pada dinding-dinding candi tersebut pun terputus.

Sesudah  pemugaran versi penjajah Belanda yang ternyata bermasalah tersebut, pada  1973-1983 dilakukan pemugaran kembali oleh pemerintah Indonesia. Namun, pemugaran ini tak menyentuh kesalahan pemasangan tersebut.

Fakta tersebut diungkapkan Koordinator Kelompok Kerja (Pokja) Pemeliharaan Balai Konservasi Peninggalan Borobudur (BKPB), Nahar Cahyandaru, Jumat (27/1/2012). Ia mengatakan, pemugaran Theodore Van Erp dilakukan pada bagian lantai delapan sampai 10, dan lantai satu- dua, sedangkan pemugaran versi pemerintah pada bagian lantai tiga hingga tujuh.

Hasil pengamatan dan identifikasi oleh BKPB,  Rabu (25/1/2012), ditemukan kesalahan yang cukup signifikan di lantai satu dan dua yang telah dipugar oleh pemerintah kolonial Belanda. Untuk sementara, Nahar menemukan tujuh blok batu relief dan batu baru yang salah pasang.

“Kesalahan itu sangat jelas menonjol, karena di bagian dinding yang seharusnya berjajar batuan polos justru dipasang batu relief. Begitu pula sebaliknya, batu yang seharusnya barisan relief dipasang batu polos,” tegasnya saat diwawancara Tribun Jogja di kantornya, di kompeks Candi Prambanan.

Ia mengatakan, satu batu yang salah pasang bahkan baru diketahui ketika BKPB membongkar dan memperbaiki lantai selasar di lantai dua candi sisi barat. Contoh kesalahan lain, seharusnya batu relief dipasang di lantai dua tetapi ternyata dipasang di tempat lain, semisal di lantai empat, lima dan enam. Begitu pula pada dinding sisi tenggara juga ditemukan batu, yang seharusnya relief tetapi diisi batu polos baru.

“Di antara batu-batu polos yang dipasang sebagai batu lantai, kami juga menemukan ada batu berelief yang dipasang terbalik sehingga bagian datarnya menghadap ke atas, dan bagian reliefnya menghadap ke bawah,” ujar Nahar.

Sampai saat ini, lanjutnya, dari sekian ribu relief yang terdapat pada bangunan candi, masih banyak yang belum diketahui isi ceritanya. Baru beberapa persen yang sudah diketahui.

Nahar mengatakan, kesalahan pemasangan batu tersebut diduga terjadi karena pemugaran kala itu dilakukan terburu-buru, lantaran dilaksanakan hanya dalam waktu empat tahun. Tidak hanya di lantai satu dan dua, diduga kesalahan pemasangan batu juga terjadi pada bagian lainnya yang dipugar oleh Van Erp.

Apa tindakan BKPB setelah menemukan berbagai keselahan tersebut? “Sampai saat ini kami belum ada program untuk mengambil titik yang salah itu untuk dipasang sesuai tempatnya. Karena, butuh penelitian mendalam lagi. Begitu pula kita juga belum tahu apakah akan dibiarkan begitu saja sebagai bagian sejarah pemugaran Candi Borobudur,” kata Nahar.

Koordinator Pokja Dokumentasi BKPB, Yudi Suhartono, menambahkan, saat ini pun masih ada sekitar 10.000 batu yang belum dipasang di Candi Borobudur, dan disimpan di Museum Karmawibhangga, di kompleks Taman Wisata Candi Borobudur. Hal itu dilakukan karena pihak BKPB belum mengetahui posisi batu tersebut dalam bangunan candi secara pasti.

Menurut Yudi, hal itu disebabkan pada setiap bentuk relief memiliki makna tersendiri. Bahkan pada setiap stupa, yang terdapat lubang berbentuk segi empat, segi tiga, dan stupa tertutup, semua memiliki makna. Contohnya, pada dinding selasar lantai satu dan dua terdapat 160 panel relief Karmawibhangga yang menggambarkan rangkaian cerita hukum sebab-akibat kehidupan manusia.

Maka, lanjutnya, untuk melakukan pemasangan maupun pembenahan batu tersebut, membutuhkan waktu dan pendalaman komprehensif. Adapun 160 batu dari 10.000 batu tersebut merupakan batu berelief, yang sebagian di antaranya berelief rangkaian cerita. Hingga saat ini, baru 25 batu berelief yang dapat dipasang.

Candi Borobudur memiliki 1.460 panel relief cerita yang tersusun dalam 11 deretan mengitari bangunan candi, dan relief dekoratif berupa relief hias sejumlah 1.212 panel. Relief cerita pada tingkat Kamadhatu (kaki candi) menggambarkan perilaku manusia yang terkait nafsu duniawi. Kemudian, tingkat beikutnya adalah Karmawibhangga yang berada di lantai dua.

Tingkat Rupadhatu (badan candi) mewakili dunia antara, yang menggambarkan perilaku manusia yang sudah mulai meninggalkan keinginan duniawi tetapi masih terikat oleh dunia nyata. Pada tingkat ini dipahatkan 1.300 panel yang terdiri atas relief Lalitavistara, Jataka, Avadana, dan Gandawyuha.

Sumber: Tribun News

About diankurniaa

Dian Kurnia. Blogger; Penulis Lepas di koran lokal dan nasional; Mahasiswa Sejarah UIN SGD Bandung.
This entry was posted in Informasi, Umum and tagged , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s