Kekuatan Cinta Ayah

DI beberapa Negara, seperti Amerika, Inggris, Selandia Baru, dan negara-negara lainnya di belahan Benua Eropa, setiap minggu ketiga di bulan Juni diperingati sebagai Hari Ayah. Mungkin di Indonesia Hari Ayah kurang popular, tidak seperti Hari Ibu. Walaupun demikian, kehadiran sosok ayah di samping kita memang tidak bisa diabaikan. Pernahkah kita merenungkan akan cinta dan pengorbanan ayah untuk kita? Seringkali kita beradu argumentasi dengan ayah yang kita rasa terlalu mengekang hingga adu argumen tersebut berujung dengan pertengkaran yang menyebabkan kita hengkang dan membanting pintu kamar. “Braaaaaaaak!!!Rasanya ayah memang tidak selembut ibu. Ibu tentu akan segera mengejar dan mengetuk pintu kamar dengan lembut. Namun, tahukah kamu saat itu sebenarnya ayah pun menahan gejolak dalam batinnya. Di satu sisi, ia ingin mengabulkan keinginanmu, di sisi lain ia pun ingin melindungimu dari bahaya yang mengancam.

Terkadang saat kita meminta dibelikan sesuatu kepada ayah, ia dengan tegas berkata, “Tidak!” lalu kita akan menilai ayah pelit! Namun, tahukah kamu bahwa saat itu sebenarnya ayah tengah melatihmu agar tidak manja. Ia mengajarkan padamu bahwa dalam hidup ini ada hal-hal yang bisa kita dapatkan dengan mudah dan ada hal-hal yang tidak bisa kita dapatkan begitu saja, perlu perjuangan dan kesadaran.

Terkadang saat kita hendak bepergian jauh, merantau mencari ilmu, ibu akan melepas kepergian kita dengan peluk dan air mata yang berurai, tetapi ayah hanya menepuk pundak kita sambil berkata, “Jaga dirimu baik-baik!” Seolah-olah ia tidak merasa kehilangan kita. Namun, tahukah kamu bahwa sebenarnya batin ayah pun khawatir akan keadaanmu. Ia tidak ingin menampakkan kekhawatirannya di depanmu karena ayah ingin kamu bisa melangkah dengan kuat dan tegar.

Ketika kita  menerima kelulusan dengan nilai memuaskan, ibu akan bersorak sambil menciumi kita, tetapi ayah hanya tersenyum sambil menjabat tangan kita, member ucapan selamat pada kita, seolah-olah prestasi kita bisaa-bisaa saja. Namun, tahukah kamu bahwa sebenarnya saat itu ayah pun ingin bersorak seperti itu? Namun ia cukup memberimu jabat tangan karena ia ingin mengajarimu agar tidak pongah dan lengah dengan kesuksesan yang tengah kamu dapat.

Ungkapan cinta ayah memang unik. Namun, disadari atau tidak, kekuatan cinta ayahlah yang membuat kita bisa jadi kuat, tegar, mandiri, dan bijaksana. Maka, cintailah ayahmu seperti kamu mencintai ibumu. Selamat Hari Ayah…..*** [rafiqiruhbana@gmail.com]

 

Sumber : “PR”, 19/06/2012

About diankurniaa

Dian Kurnia. Blogger; Penulis Lepas di koran lokal dan nasional; Mahasiswa Sejarah UIN SGD Bandung.
This entry was posted in Renungan, Umum and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s